Catatan Perjalanan: Sepenggal Cerita dari Indonesia Timur

Saturday, 19 May 18 | 10:57 WIB

Kejadian gizi buruk dan campak yang melanda masyarakat Asmat, Papua menjadi perbincangan hangat di awal tahun ini. Tim Gerakan Asmat Bebas Gizi Buruk (Gabruk!) yang terdiri dari aliansi BEM UI dan BEM Fakultas bekerja sama dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT),  Gabruk! berencana membagikan bantuan sembako pada beberapa distrik di Asmat, Papua. Suara Mahasiswa UI mencoba merekam keadaan Asmat dan memberikan pandangan baru pada mahasiswa UI.

Baca juga: Janji BEM UI Pergi ke Asmat, Zaadit Taqwa Lakukan Konferensi Pers

Catatan Perjalanan Hari Ke-1 (Selasa, 13 Februari 2018): Tiba di Agats

                Perjalanan dimulai dari Pusgiwa UI Depok, menuju Bandar Udara Soekarno-Hatta, Jakarta. Setelah menempuh sekitar tujuh jam perjalanan udara, sampailah kami di Tanah Papua, Bandar Udara Mozes Kilangin, Timika pukul 05.53 WIT. Tidak sampai situ saja, untuk menuju ke Kabupaten Asmat, kami masih harus menempuh perjalanan udara dengan menggunakan pesawat kecil jenis twin otter dari Bandar Udara Mozes Kilangin baru. Kedua bandara tersebut berada di area yang sama, tetapi kami harus menggunakan mobil selama sepuluh menit untuk berpindah ke bandara baru yang telah diambil alih oleh pemerintah. Bandara ini melayani rute penerbangan ke daerah-daerah lain di Papua, misalnya Wamena dan Asmat. Terlihat banyak orang lokal berlalu-lalang dengan membawa berbagai macam sembako yang akan dijual kembali. Saya juga melihat ada seorang pria yang membawa ayam hidup ke dalam bandara.

Jadwal penerbangan ke Bandara Ewer, Asmat hanya tiga kali, yaitu Selasa, Kamis, dan Sabtu. Sayangnya, jadwal ke Ewer untuk hari ini sudah penuh sehingga saya dan tim tidak bisa berangkat. Meski ternyata ada dua kursi yang tersedia, pihak bandara mendahulukan seorang perempuan dari salah satu rumah sakit yang membawa obat ARV (antiretroviral). Kami pun ditawari oleh seseorang yang akan membantu mengusahakan agar kami tetap bisa terbang hari ini dengan menggunakan pesawat milik TNI. Setelah sekitar enam jam menunggu, kami akhirnya bisa mendapatkan kursi untuk penerbangan ke Ewer dengan menggunakan pesawat carteran. Harganya tentu jadi lebih mahal, jadi Rp2 juta per orang. Usut punya usut, ternyata pesawat tersebut dicarter oleh ‘bos bandara’ sehingga kami bisa terbang dengan harga yang tidak terlalu mahal karena sisanya telah dibayarkan.

Perjalanan menuju Distrik Agats, ibu kota Kabupaten Asmat selama 45 menit di udara, terlihat hamparan pasir sisa-sisa limbah penambangan  PT. Freeport yang terhampar luas.

Setelah mendarat di Bandara Ewer, kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan perahu bermotor (speed boat) karena kondisi geografis Asmat yang terdiri dari banyak sungai. Di tepi sungai terlihat ada beberapa anak yang sedang memancing udang yang akan dijadikan sebagai umpan untuk memancing ikan. Lima belas menit perjalanan, saya pun tiba di Agats. Penginapan yang akan disinggahi terletak di Kampung Cemnes, sehingga kami menggunakan ojek karena jarak yang cukup jauh.

Hampir semua jalan di Asmat menggunakan papan kayu karena terletak di rawa-rawa. Hanya ada beberapa ruas jalan yang menggunakan beton atau aspal.

Motor-motor di sini menggunakan listrik sebagai sumber energi dengan alasan sulitnya mendapatkan BBM. Suara dari mesin motor terdengar jauh lebih halus, bahkan hampir tidak terdengar. Motor listrik yang didatangkan dari Surabaya ini tidak membayarkan pajak kendaraan seperti pada umumnya, tetapi berupa retribusi parkir berlangganan motor elektrik sebesar 150.000 rupiah setiap tahunnya. Motor ini sangat cocok untuk di daerah dengan mayoritas jalan yang terbuat dari papan kayu karena lebih ringan. Salah satu pengemudi ojek memberikan keterangan bahwa motor tersebut digunakan dari pagi hingga sore, kemudian diisi hingga pagi lagi.

Sepanjang jalan menuju penginapan di Cemnes, terlihat ada berbagai macam toko, seperti toko pakaian, sepatu, perabotan rumah tangga, peralatan elektronik, kios pulsa, apotek, bank, rumah makan, dan lain-lain. Tidak jarang juga saya melihat para pendatang yang sebagian besar berasal dari Sulawesi, Jawa, dan Maluku. Saya bertemu dengan salah satu penjual mi ayam yang berasal dari Jawa. Berbeda dengan yang biasa dijual di kampung halamannya, mi ayam ini cenderung lebih berkuah, menggunakan jeruk nipis, bakso aci, dan juga telur rebus. Harganya dipatok 15-20 ribu rupiah untuk satu porsinya.

Bahkan, merekalah yang mendominasi perekonomian di sini. Saya sendiri jarang sekali menemukan masyarakat yang membuka kios atau toko di sini.

Penginapan Firda, tempat kami menginap merupakan rumah panggung yang seluruhnya terbuat dari kayu. Warga sini menggunakan air hujan sebagai sumber air bersih yang digunakan untuk mencuci dan mandi.

Penginapan ini juga memiliki sebuah warung kecil yang menjual masakan matang, air mineral dalam kemasan, dan kebutuhan harian lainnya. Jika dibandingkan dengan harga di Pulau Jawa, tentu jadi lebih mahal, bahkan ada beberapa yang bisa naik dua kali lipat.

Eni, salah satu pengelola penginapan berasal dari Soppeng, Sulawesi Selatan. Ia sudah lima bulan berada di Asmat dengan suami dan anak-anaknya. Meski begitu, ia mengaku kepada kami bahwa keadaan di sini lebih menyenangkan dibandingkan dengan kampung halamannya, “Lebih senang di sini, alhamdulillah,”. Tentu saja, salah satu alasan dari sebagian besar pendatang adalah untuk mencari rezeki dan kehidupan yang lebih baik.

 

Catatan Perjalanan Hari Ke-2 (Rabu, 14 Februari 2018): Kampung Ayam dan Kampung Waw Cesau

Pagi hari sekitar pukul 9.30 WIT, kami menuju Distrik Akat untuk distribusi bantuan pangan di Kampung Ayam dan Kampung Waw Cesau. Perjalanan dengan menggunakan speed boat butuh waktu sekitar satu jam, sedangkan jika menggunakan long boat butuh waktu dua jam. Perjalanan kami tempuh melalui sungai Aswet yang berliku-liku. Airnya tampak kotor dan berwarna kecokelatan dan tak sedikit kami menemukan sampah-sampah tumbuhan di sungai. Banyak warga lokal yang sedang mencari ikan dengan menggunakan perahu Chi.

Ketika kami sampai, banyak anak-anak yang sedang bermain di tepi sungai tempat kami berlabuh. Mereka bermain buah batu dan buah jambu laut dan saling tertawa dan melempar buah tersebut.

Kami juga bertemu dengan dua anak yang berusia sekitar dua belas tahun, Ika dan seorang temannya yang menawari kami kelapa muda. Kami memesan tujuh butir kelapa yang dijual dengan harga lima ribu rupiah per butir. Kedua anak itu memanjat dan memetik buahnya langsung dengan menggunakan parang yang mereka bawa.

Sembari menunggu tim yang menggunakan long boat, kami berjalan-jalan di sekitar kampung. Jalan papan di kampung ini banyak yang renggang dan kayunya yang sudah mulai rusak. Kayu-kayu tersebut harus diganti secara rutin sekitar dua sampai tiga tahun sekali.

Tidak ada motor listrik dan juga tidak ada jaringan telepon seluler. Jarak antar rumah di sini lebih lengang jika dibandingkan di Agats. Terlihat ada beberapa kios yang menjual kebutuhan sehari-hari, dan lagi-lagi dikelola oleh pendatang.

Ada sebuah TK dan SD yang juga menjadi satu-satunya di kampung tersebut. Saya bertemu dengan salah satu siswa di SD YPPK (Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik) di sana. Namun sayang, karena bertepatan dengan Rabu Abu, anak-anak pulang lebih awal dan berkegiatan di gereja. Seharusnya, siswa kelas 6 SD pulang pukul 13.30 WIT setiap harinya.

Cukup berbeda dengan keadaan di Agats, saya menemukan beberapa parit yang membuat kondisi tanah di kampung ini lebih kering sehingga bisa digunakan untuk menanam. Tidak hanya kelapa, kami juga ditawari nanas oleh seorang mama-mama seharga sepuluh ribu rupiah per buah. Ia menanamnya di depan rumah dan biasa berjualan dengan cara mendatangi rumah-rumah di sekitar sini. Beberapa warga juga terlihat beternak ayam yang membuat kampung tersebut dinamai Kampung Ayam.

Setelah rombongan tim kedua datang, kami pun langsung menuju rumah bujang atau jew, rumah adat yang digunakan oleh warga untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan warganya.

Salah satunya adalah ketika tim kami datang untuk memberikan bantuan berupa beras masing-masing 20 karung untuk setiap kampung di Asmat. Ada juga satu karton minuman dalam kemasan dan beberapa bungkus rokok sebagai ‘pelicin’.

Rumah bujang Kampung Ayam ini terlihat sangat lebar. Di bagian bawah rumah bujang juga terdapat patung-patung ukiran. Seluruh rumah bujang ini terbuat dari daun nipah yang dianyam, rotan, dan kayu besi.

Bagian alas atau lantainya terbuat dari kulit kayu. Ketika ada kegiatan di rumah bujang, saya melihat bahwa warga langsung datang berbondong-bondong ke dalam rumah bujang. Mama-mama menggendong anaknya dan langsung duduk berbaris rapi di bagian sebelah kanan rumah bujang. Sedangkan, para bapak duduk tersebar di sisi kiri.

Kampung Ayam terdiri lebih dari 200 KK dengan lebih dari 600 jiwa. “Penduduk hanya pencari dan bertani,” ucap Karl Ken, Sekretaris Kampung Ayam. “Kami memang mengalami kesulitan yang terjadi pada tahun 2018 ini, awalnya dari bulan Desember 2017, kami mulai lihat ada gejala. Kemudian Januari 2018 mulai,” jelasnya saat menceritakan kondisi Kampung Ayam pada saat Kejadian Luar Biasa (KLB).

Yunus Askoman, Kepala Kampung Waw Cesau ikut memberikan keterangan mengenai kondisi anak-anak di sana, “Dari 28 anak, meninggal 5 anak. Yang sehat kembali ada 24, ada yang terkena campak pada saat masih dalam kandungan,” Efandi, keponakan Yunus merupakan salah satu korbannya. Tidak hanya itu, Efandi juga memiliki gangguan penyakit kulit yang membuat sekujur tubuhnya terasa gatal atau biasa disebut kaskado.

 

Catatan Perjalanan Hari Ke-3 (Kamis, 15 Februari 2018): Kampung Ewer dan Kampung Sau

Pagi hari ini hujan rintik-rintik turun membasahi tanah Asmat. Ketika hujan mulai berhenti, kami langsung menuju Kampung Ewer, hanya lima belas menit melintasi sungai Aswet yang berkelok-kelok itu. Ada satu sekolah, SD YPPK yang memiliki sekitar 200 orang murid. Sedangkan, untuk tingkat SMP hanya terdapat di Agats. Anak-anak di sini cenderung terlambat bersekolah, rata-rata murid kelas 1 SD berusia 8-9 tahun. Saya bertemu Marlina (9) yang duduk di kelas 1 SD dan teman-temannya yang sedang beristirahat.

Guru-guru di sini hanya berjumlah 10 orang termasuk kepala sekolah. Delapan di antaranya adalah PNS dan sisanya merupakan guru honorer. Tujuh pelajaran dalam satu hari membuat mereka berada di sekolah dari 7.30 sampai 12.00 siang. “Kurikulum KTSP, buku dari dinas kurikulum 2013 tapi tidak diganti,” terang salah satu guru kelas 5 SD YPKK mengenai kurikulum yang digunakan.

Anak-anak di Kampung Ewer tidak ada yang menjadi korban pada saat KLB campak. Rumah bujang di kampung ini juga sudah mulai terinstalasi listrik. Jaraknya juga sangat dekat dengan sekolah dan bandara tempat kami mendarat kemarin. Mayoritas masyarakat di sini bercocok tanam dan juga menangkap ikan. Kami juga menemukan lapak tempat mama-mama menjajakan noken buatannya. Butuh waktu sekitar dua minggu untuk menyelesaikan satu buah noken. Tas adat khas Papua itu dijual dengan harga 100 ribu rupiah yang berukuran kecil, sedangkan yang besar bisa sampai 150, bahkan 200 ribu rupiah.


Kampung selanjutnya yang kami kunjungi adalah Kampung Sau. Ada yang terlihat berbeda dari kampung ini. Budaya patriarki yang begitu kental membuat mama-mama di sini terbiasa bekerja keras. Merekalah yang membawa pasokan beras ke dalam Balai Kampung Sau. Beberapa anak-anak juga ikut membawa kardus yang berisi biskuit.

 

Catatan Perjalanan Hari Ke-4 (Jumat, 16 Februari 2018): Keuskupan dan RSUD

Hari ini kami tidak pergi ke kampung-kampung untuk distribusi bantuan. Ketika waktu salat Jumat, saya mengunjungi Keuskupan Agats yang bertempat persis di sebelah RSUD Asmat. Di sana saya bertemu dengan pastor, pengurus gereja, dan seorang dokter.

Kritikan datang terhadap aksi yang dilakukan dengan membagi-bagikan beras karena beras bukan merupakan makanan pokok masyarakat lokal. “Tidak sedang membantu menyelesaikan masalah, tapi sedang menciptakan masalah baru dan melanggengkan pola-pola yang sudah sering dilakukan,” ujar Pastor Hendrik. Terjadi pergeseran makanan yang dikonsumsi sehari-hari, yaitu makanan yang sulit didapatkan di alam. “Mereka lebih suka makan mi instan dan minuman bergula yang manis sekali. Sedangkan sagu rasanya tawar sekali,” tambahnya. Salah satu solusinya adalah dengan mengenalkan berbagai macam olahan dari sagu.

Baca juga: Keuskupan Agats Asmat: Sokonglah Papua dengan Kacamata Papua, Bukan Jakarta

 

Selain itu, Dokter Yenny juga meragukan sistem pemberian bantuan pangan selama ini, “Belum tentu akan sampai ke masyarakat,” tambahnya.  Dengan adanya bantuan beras, masyarakat juga akan berpikir bahwa jika mereka berada di hutan untuk mencari makanan, nanti tidak akan mendapatkan bantuan beras yang dibagikan. Pada akhirnya, mereka hanya menunggu bantuan, menahan rasa lapar selama berhari-hari, dan pada akhirnya mengalami busung lapar.

Mengenai masalah kesehatan yang menimpa masyarakat sini, Dokter asal Makassar tersebut mengatakan salah satu alasannya bahwa pola hidup sehat yang masih belum diterapkan. Air yang digunakan untuk konsumsi berasal dari air sungai tanpa direbus ketika hujan yang jadi satu-satunya sumber air bersih tidak turun selama beberapa hari. Selain itu, pergeseran makanan pokok yang dikonsumsi sehari-hari juga membuat daya tahan tubuh mereka kurang, “Anak-anak kecil bukan minum susu di sini, tapi minum kuku bima, minum kopi,” imbuhnya. Ditambah lagi dengan kondisi udara yang buruk karena anak-anak terpapar oleh asap rokok yang diisap oleh para bapak-bapak di sini. Anak-anak memiliki gangguan pernafasan seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut), Asma, dan tidak sedikit anak-anak yang hidungnya mengeluarkan lendir atau biasa dikatakan ingusan.

Baca juga: Kurangnya Pemberdayaan dan Pendidikan Jadi Penyebab Masalah Kesehatan di Asmat

Di RSUD Asmat, masih ada beberapa pasien gizi buruk dan campak yang dirawat di sana. Sayangnya, kami tidak bisa mendapatkan data terbaru mengenai pasien di sana. Sama seperti rumah-rumah warga, rumah sakitnya juga terbuat dari kayu-kayu juga.

Di sana saya bertemu dengan Priskila (4) salah satu pasien gizi buruk yang sudah dua bulan dirawat di sana. Saat ditemui, Priskila sedang berada di bagian belakang rumah sakit. Tubuhnya tampak kurus kering dengan mata yang sayu.
Baca juga: Aksesibilitas Sulit, Tim Relawan Asmat BEM Se-UI Ubah Tujuan Distrik

Teks: Diana

Foto: Diana

Editor: Kezia Estha T.

Komentar



Berita Terkait