COVID-19 dalam Kacamata Epidemiologi

Thursday, 12 March 20 | 06:53 WIB

Pada awal Maret 2020, Indonesia mengumumkan kasus COVID-19 untuk pertama kalinya sejak virus ini mewabah pada akhir Januari 2020 lalu dari Wuhan, Tiongkok ke seluruh dunia. Pengumuman kasus ini diiringi pula oleh penyebaran virus secara perlahan di Indonesia, dengan kasus terinfeksi terakhir mencapai 34 orang. Hal ini membuat segenap elemen masyarakat Indonesia siap siaga dan waspada dalam pencegahan penyebaran virus ini. Syafrizal Syarief, ahli Epidemiologi FKM UI, menjelaskan dalam perspektif epidemiologi bagaimana karakteristik virus ini serta penanganan dan pencegahannya.

Apa perbedaan antara COVID-19, SARS, dan MERS?
Ya, ini kan ya keluarga baru dari virus Corona dan bisa menginfeksi manusia. Pada umumnya, memang melalui binatang, istilahnya zoonosis. Lalu, dari manusia bisa menular ke manusia lainnya. Nah, ini adalah jenis Corona dari keluarga Corona yang ketujuh yang sudah pernah ada di manusia. Empat jenis Corona itu hanya menimbulkan gejala ringan saja. Tapi yang memberikan gejala klinis, lalu keparahan dan juga (penyebab—red) kematian itu ada tiga, seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV), SARS, dan sekarang COVID-19. Perbedaannya tentu berbeda pertama transmissible ya, secepat apa bisa menular, dari tiga jenis Corona itu, COVID-19 paling menular dibanding SARS maupun MERS-CoV. Kalau MERS-CoV itu dalam waktu 8 tahun jumlah kasus yang menular itu hanya sekitar 2000 lebih. SARS itu hanya 8 bulan menyebar kurang lebih 8.000 kasus, Nah kamu sekarang bandingkan dengan COVID-19 yang hanya dalam waktu 8 minggu itu menyebar ke 80.000-an kasus. Jadi, dari tingkat penyebarannya, kecepatan menyebar COVID-19, dibanding (virus serupa lainnya—red) paling tinggi kedua lainnya. Dengan tingkat kecepatan penularan, kita dapat mengukur tingkat keganasan. Keganasannya ini bisa dibilang COVID-19 yang paling rendah dengan angka rasio kematian kurang lebih 2%, 2-3% lah, sementara SARS itu 10%, MERS-CoV itu kurang lebih 34% rata-rata.

Apa yang bisa membuat COVID-19 berbeda padahal memiliki jenis yang sama?
Iya, berbeda jadi mereka memang dalam satu keluarga Corona. persamaan mereka itu bisa sekitar 95%, persamaan sequential genetic namanya. Jadi, kalo kita melihat fisik dari, genetik dari COVID-19 itu berbeda, pada slot-slot genetik tertentu terdapat perbedaan antara ketiga jenis Corona. Kenapa? Karena mereka mampu melakukan mutasi-mutasi sehingga mereka berada dalam wujud genetik yang berbeda.

Selanjutnya terkait COVID-19 sendiri, berapa lama masa inkubasi dari virus ini?
Oh ya, yang namanya masa inkubasi itu bukan prediksi, masa inkubasi itu dihitung dari kasus-kasus yang sudah ditemui. Lalu, dilakukan penulusuran kapan kemungkinan mereka tertular, ya, dari situ didapat beberapa sumber data. Data-data itu tersebut menyatakan puncak dari penyebaran itu atau puncak dari masa inkubasi. Ada sekian data menunjukkan puncaknya itu pada hari ketujuh masa inkubasi, ada yang menyatakan hari ketiga, dan ada yang menyatakan hari kesepuluh. Jadi, kesimpulan dari data tersebut, maka ditetapkan masa inkubasi adalah 2 sampai 14 hari. Jika ada orang yang kemudian mengalami masa inkubasi sampai 27 hari misalnya, atau sampai 21 hari, dapat disebut outlayer, anomali lah, keadaan yang anomali, sehingga gejalanya baru muncul pada hari-hari yang di atas 14 hari, itu anomali.

Lalu, bagaimana cara menangani penularannya?
Jadi gini, penularan virus ini melalui dua jalur yaitu menular secara langsung dan menular secara tidak langsung. Nah, sumber penularannya sudah jelas yaitu melalui manusia yang sudah sakit. Penularan ini dapat dicegah dengan cara penggunaan hand sanitizer atau mencuci tangan dengan sabun.
Bagaimana itu proses terjadi ya? Menular langsung itu terjadi ketika seorang yang sakit, dia melakukan bersin atau batuk, sehingga partikel virus Corona itu keluar bersama-sama percikan. Baik itu bersin maupun batuk, kalau ada orang di depannya berjarak kurang dari 1 meter, secara langsung dia bisa menghirup percikan itu. Oleh sebab itu, yang terbaik adalah orang-orang yang sakit itu tidak mengeluarkan dropletnya dengan menggunakan masker. Ketika di Indonesia, di mana angka jumlah kasus itu sedemikian besar. Maka, usahakan agar tidak berada di dalam kerumunan-kerumunan orang dengan jarak yang pendek. Kedua, sebaiknya kita menggunakan masker.
Yang kedua adalah penularan melalui tidak langsung. Dapat terjadi ketika seseorang memegang benda-benda yang terkontaminasi dengan percikan orang yang sakit, misalnya kita memegang handle kunci, kita memegang meja yang sudah pernah terkontaminasi dari orang yang sakit. Setelah megang ada kemungkinan kita bisa tertular, melalui hirupan, atau tangan yang terkontaminasi memegang hidung, atau mengusap ke mulut, atau menggosok mata.

Apakah Departemen Epidemiologi FKM UI pernah melakukan penelitian terkait virus ini?
Ini kan Departemen Epidemiologi, kita bukan Mikrobiologi atau Virologi, mereka (yang—red) terlibat di dalam penelitian tentang virus. Kalau saya pribadi melakukan penelitian pengembangan instrumen ya terkait dengan kesiapsiagaan rumah sakit, kantor kesehatan pelabuhan, lalu balai teknik kesehatan lingkungan, dinas-dinas provinsi, kabupaten. Kami menilai apakah mereka sudah siap menghadapi situasi yang kita sebut sebagai public health emergency of international concern. Saya melakukan penelitian tahun 2013 dan juga melakukan penelitian khusus secara komprehensif dan pada tahun 2018 ini, kemarin saya melakukan penelitian khusus (guna melakukan—red) penilaian terhadap kantor kesehatan pelabuhan yang ada di Tanjung Priok, Makassar, Tanjung Pinang. Apakah mereka siap atau tidak dalam menghadapi wabah global.

Apakah pemerintah Indonesia melakukan koordinasi dengan ahli terkait hal ini?
Enggak, pemerintah kan mempunyai sistem. Sebetulnya kita tahun 2018 ada Undang-Undang Karantina Nomor 6. Lalu, diturunkan menjadi Keputusan Presiden Nomor 4 tahun 2018 sebagai acuan teknis. Jadi, sebetulnya pemerintah sudah cukup siap untuk menanggulangi. Pemerintah terkesan agak kurang melibatkan berbagai pihak, perguruan tinggi-perguruan tinggi, praktisi, (mereka—red) tidak dilibatkan, agak berbeda dengan penanganan SARS tahun 2003. Nah, ketika 2003 itu nasional dengan segera dalam hal ini Kementrian Kesehatan dengan segera membentuk tim nasional penanggulangan SARS, dan kebetulan saya adalah sekretaris tim pakarnya tahun 2002 sampai 2003.
Jadi, itu yang tidak terlihat. Pada saat itu, ada tim penanggulangan SARS serta juru bicara sehingga setiap hari  diberikan update mengenai situasi perkembangan wabah, baik di (skala—red) nasional maupun internasional.
Kedua, kita menjawab pertanyaan-pertanyaan masyarakat yang terkait dengan keingintahuan masyarakat. Sehingga bisa dilakukan komunikasi, bisa dilakukan edukasi terhadap masyarakat ketika itu, pertanyaan masyarakat kan biasanya apa keinginan masyarakat itu ditangkap oleh para wartawan. Jadi, dengan membuat suatu media center sejak awal. Semua media, semua wartawan baik itu media cetak maupun media TV itu setiap hari bisa mendapat informasi yang jelas, sehingga tidak ada namanya hoaks dan sebagainya. Jadi, sayang sekali pemerintah saat ini tidak dari awal membentuk satu media center, tidak dari awal membentuk satu tim penanggulangan nasional.

Bagaimana tanggapan Bapak mengenai peneliti dari Tiongkok yang mengatakan bahwa wabah ini akan selesai di bulan April?
Sejak tanggal 23 Januari, Wuhan di-lockdown dan beberapa kota lainnya sampai ke tanggal 26, tanggal 27 Januari saya sudah mengeluarkan pernyataan baik di media cetak maupun di wawancara-wawancara (bahwa—red) wabah ini akan selesai pada bulan Mei atas dasar bagaimana cara Cina menanggulangi wabah dengan mereka melakukan lockdown kota. Dampak akan terlihat dalam satu kali masa inkubasi (selama 14 hari—red).
Jadi, saya sudah memprediksi tanggal 27 Januari, ketika para ahli pesimis mengenai wabah Cina, saya secara optimis mengatakan bahwa wabah Cina akan selesai pada bulan Mei. Tapi, di Cina atau di luar Cina belum tahu. Adapun ilmuwan Cina itu baru menyatakan bahwa bulan April selesai, itu setelah jauh-jauh hari di atas 10 Februari, setelah mereka melihat angka kasus baru yang menurun, baru mereka berani bicara itu sudah bulah Februari. Kalau saya, tanggal 27 Januari sudah memberikan prediksi bahwa wabah Cina akan selesai pada bulan Mei.

Teks: Sultan Falah Basyah
Kontributor: Zuhairah Syarah
Foto: Istimewa
Editor: Nada Salsabila

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas

Komentar



Berita Terkait