Dapat Predikat Kampus Terpapar Radikalisme, Aliansi BEM UI Sebut Pernyataan BNPT Tak Berdasar

Sunday, 26 August 18 | 06:45 WIB

Usai mengeluarkan pernyataan tentang kampus-kampus di Indonesia yang terpapar radikalisme, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme
(BNPT) mendapat reaksi keras dari pihak-pihak bersangkutan. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama aliansi BEM dari beberapa fakultas di UI menyatakan ketidaksetujuan atas label yang diberikan kepada Universitas Indonesia. Mereka beranggapan bahwa pernyataan dari BNPT tidak berdasar dan hanya menimbulkan ketakutan di masyarakat.

Aliansi BEM yang terdiri dari BEM UI dan fakultas-fakultas di UI seperti FMIPA, FK, FKM, FF, FIK, FPsi, FKG, Fasilkom, FIA, serta FIB, menegaskan bahwa predikat yang disematkan kepada UI tidaklah pantas karena tidak dijelaskannya ukuran serta batasan yang jelas penyebab diberikannya predikat radikalisme tersebut.

“Menurut empat indikator untuk mengenali paham radikal, yaitu intoleran, fanatik, eksklusif dan revolusioner, tidak ada bibit radikalisme di UI,” jelas Fachri Muchtar sebagai salah satu perwakilan dari BEM UI ketika ditanya oleh tim Suara Mahasiswa mengenai kepatutan UI yang disebut sebagai kampus yang terpapar radikalisme.

Hal serupa juga diutarakan oleh Ketua BEM Fakultas Farmasi (FF) UI, “Selama tidak ada bukti konkret dan tidak ada kajian komprehensif yang mendasarinya, menurut saya UI tidak pantas mendapat predikat terpapar radikalisme,” pungkas Puspitasari Ardiningsih.

Selanjutnya, Ketua BEM Fakultas Kedokteran (FK) pun ikut menuturkan pendapatnya. Menurutnya pantas atau tidaknya UI disebut terpapar radikalisme harus ditinjau dari penilaian yang objektif. “Kalau nggak ada konsensus tentang definisi radikalisme, ya saya bisa bilang siapapun radikal,” ungkap Eghar Anugrapaksi. Pernyataan-pernyataan serupa pun dilontarkan oleh BEM-BEM fakultas lainnya yang tergabung dalam aliansi.

Walau tidak masuk dalam aliansi, BEM fakultas lainnya tetap ikut memberikan pandangannya. BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) misalnya. Menurut Zaky Muhammad Syah selaku Kepala Departemen Kajian Aksi dan Strategis (Kastrat) BEM FISIP UI mengatakan bahwa belum jelasnya definisi dan indikator radikalisme dapat menimbulkan persepsi yang salah di kalangan masyarakat awam. Sementara BEM di luar aliansi lainnya seperti BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Teknik (FT), dan Fakultas Hukum (FH) tidak bergeming saat ditanyai soal isu tersebut.

Meskipun sama-sama menolak label terpapar radikalisme yang diberikan kepada kampus UI, beberapa perwakilan dari BEM fakultas dalam aliansi isu tersebut menyatakan bahwa kemungkinan terpapar radikalisme bisa saja terjadi. Namun demikian, hal tersebut harus didasari oleh riset yang mendalam serta bukti yang nyata dan dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, pihak aliansi BEM juga menuntut adanya solusi untuk kebaikan bersama jika memang predikat tersebut terbukti. Sehingga pada akhirnya hal ini tidak hanya akan menimbulkan keresahan masyarakat.

“Seharusnya Kemenristekdikti menyatakan radikalisme ini sebagai isu bersama perguruan tinggi, bukan hanya beberapa saja. BNPT dan Kemenristekdikti seharusnya tidak menyebarkan ketakutan, tetapi solusi,” ungkap Ketua BEM Vokasi yaitu Muhammad Faizal Haq memberi tanggapan.

Sedangkan Arman Nefi selaku Direktur Kemahasiswaan UI juga mengungkapkan hal yang serupa. Menurutnya, tindakan BNPT yang terkesan terburu-buru memublikasikan hasil penelitian yang masih mentah akhirnya hanya menimbulkan sensasi yang menyulut reaksi dari beberapa perguruan tinggi yang masuk ke dalam daftar tersebut.
“Itu kan hasil penelitian juga belum valid, ya enggak? Buktinya apa enggak valid? Itu kan tanpa kita melakukan penelitian tandingan. Itu udah terbatahkan. Misalnya gini, dia bilang tujuh terpapar eh meledaknya di Unri (Universitas Riau). Unri nggak (termasuk -red) loh yang tujuh. Itu pun meledaknya di sana. Valid nggak? Nggak valid jadinya,” ujarnya saat ditemui di Gedung Pusat Kegiatan Mahasisaa (Pusgiwa) Baru UI hari Senin (13/8).

Kemudian, ketika disinggung perihal potensi UI terpapar radikalisme, Arman menanggapinya dengan santai. “Ya saya lihat potensinya ya kayak gitulah. Mungkin ada satu dua yang kena bacaan-bacaannya. Wah dia ingin coba-coba dan ingin tahu dan sebagainya. Itu ada. Itu nggak bisa kita (larang -red) loh,” ujarnya.

Arman tidak menampik kenyataan bahwa sebagai sivitas akademika, mahasiswa bisa saja mempelajari hal tersebut. Namun menurutnya itu bukan merupkan hal yang salah selama ditujukan untuk kepentingan akademik. “Namanya akademik itu semuanya dipelajari. Ya, apakah aliran kiri, aliran kanan, aliran lunak, aliran keras, orang berhak mempelajari. Tapi apakah Ia udah terpapar? Belum tentu. Dia mempelajari kok. Itu kebebasan akademik namanya,” tuturnya.

Berdasarkan penuturannya, UI sendiri juga sudah memiliki kebijakan ketika dihadapkan dengan isu radikalisme yang berkaitan dengan terorisme. Arman menyebutkan bahwa ketika ada kecenderungan dari seorang atau sekelompok mahasiswa kepada bentuk radikalisme negatif, UI akan mengambil tindakan melalui persidangan oleh P3T2 (Panitia Penyelesaian Pelanggaran Tata Tertib).

Sementara itu, untuk mencegah masuknya paham radikalisme negatif di kalangan mahasiswa UI, beberapa perwakilan dari BEM-BEM yang terlibat maupun tidak terlibat alisansi turut menyuarakan solusi melalui beberapa opsi yang dapat ditempuh. Beberapa diantaranya seperti penanaman nilai-nilai sosial yang baik, komunikasi terbuka, penanaman kebangsaan, dan perasaan saling menjaga kepada sesama di lingkungan kampus. Tindakan pencerdasan kepada seluruh mahasiswa mengenai isu radikalisme pun sangat diperlukan.

Selain itu, dibutuhkan pula pengawasan lebih dan kerja sama antara pihak kampus dengan mahasiswa beserta BNPT dalam riset maupun tindakan preventif lainnya. Meski demikian, hal itu diharapkan tidak akan membatasi kebebasan berpendapat dan berdiskusi bagi mahasiswa.

Walaupun menuai berbagai reaksi dan dikhawatirkan memberikan citra negatif, Arman mengatakan bahwa rilis yang dikeluarkan oleh BNPT nyatanya sama sekali tidak memengaruhi penerimaan mahasiswa di UI.

“Jadi dari 100 pendaftar, itu yang diterima itu 3,8. Nggak sampai 4 orang. Coba bayangkan. Jadi 1 banding berapa tuh? 1 banding 25. Belum kalau kita detail lagi ke jurusan-jurusan tertentu, ya. Kadang-kadang bisa 1:40, 1:80, 1:100, 1:200. Kalau ini kan rata-rata UI. Tapi ada yang 1:5 misalnya, ada juga, 1:10 gitu,” ungkap Arman.

“Nggak, tambah ketat UI itu. 3,8 tambah banyak yang masuk, tambah ketat. Tambah bingung kita menyeleksinya. Jadi gimana ini-nya? Nggak ada efeknya kan?” pungkasnya.

 

 

Teks: Sindi Fantika
Infografis: Angelica Giovanni dan Vega Mylanda
Editor: Halimah Ratna Rusyidah dan Kezia Estha T

Komentar



Berita Terkait