Dibalik Kebijakan Secure Parking Kampus UI

Saturday, 13 July 19 | 07:42 WIB

Rabu (10/6) di Balai Kirti Gedung Rektorat Universitas Indonesia (UI) Rifelly Dewi Astuti selaku Kepala Humas UI memaparkan penjelasan mengenai secure parking. Ia pun menjelaskan alasan diamblinya kebijakan rektorat untuk menggunakan secure parking di UI.

Dalam wawancara dengan Rifelly, ada banyak hal yang ia jelaskan mengenai kebijakan secure parking. Diantaranya latar belakang adanya secure parking, beberapa aturan dalam secure parking, pemakaian dana pemasukan dari secure parking, dan aturan secure parking untuk masyarakat.

Latar Belajang Kebijakan Secure parking di UI

Ia menjelaskan bahwa dalam Peraturan Pemerintah Daerah Depok maupun di daerah lain ada kebijakan yang bernama biaya retribusi parkir. Kebijakan tersebut mengharuskan setiap pengguna lahan parkir berkontribusi terhadap lahan parkir tersebut. Ia juga menjelaskan bahwa di UI banyak yang parkir, maka pemerintah daerah juga mengharuskan UI ikut membayar kontribusi terhadap pemerintah daerah.

“Nah karena UI itu banyak yang parkir, ya pemerintah daerah juga mengharuskan agar UI membayar kontribusi terhadap pemerintah daerah, ” jelasnya.

Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa UI memiliki semangat untuk menjadi kampus hijau. Ia mengatakan bahwa jika ingin menjadi kampus hijau, maka harus mempertahankan pasokan oksigen yang lebih baik. Menurutnya, jika ingin pasokan oksigen yang lebih baik berarti emisi gas buang dan gas emisi karbon harus dikurangi.

Selanjutnya, ia pun membahas mengenai UI Greenmetric. Menurutnya UI harus bisa menjadi contoh untuk mempertahankan kehijauannya dengan menambah transportasi publik yang ramah lingkungan, seperti (Sepedah Kuning (Sepekun), Bis Kuning (Bikun) yang akan ditambah dengan menggunakan listrik, dan juga kerjasama dengan Trans Jakarta yang menggunakan listrik.

“Terus ya kami sih pengennya jumlah kendaraan yang parkir menjadi lebih berkurang karena yang namanya menyediakan lahan parkir itu ga sembarangan loh. Masa kita mau nebangin pohon buat lahan parkir kan ga mungkin gitu. Oleh karena itu justru semangatnya adalah mengurangi kendaraan pribadi, menambah transportasi publik,” tuturnya.

Sedangkan mengenai biaya masuk untuk secure parking, Rifelly menjelaskan bahwa biayanya murah sesuai dengan aturan Pemda Depok. Ia juga mengatakan bahwa nanti akan ada aturan-aturan mengenai biaya masuknya. Namun, aturan-aturan tersebut masih dirumuskan bersama. Selain itu, ia juga menghimbau untuk tidak terlalu khawatir dengan dampak dari kebijakan secure parking tersebut.

“Tidak perlu khawatir, ini seperti biasa kok, karena kami memang harus menaati peraturan pemerintah daerah dan kami harus bener-bener komitmen terhadap kampus hijau,” jelasnya.

Aturan Pelaksanaan Secure parking

Mengenai pelaksanannya, Rifelly sempat menjelaskan bahwa nanti setelah adanya secure parking, aturan jam malam di UI yang sampai jam 11 malam masih berlaku. Jadi aturan-aturan yang sudah ada di UI tetap dijalankan.

“Yang jam 11 malam masih berlaku. Tetap mengikuti aturan aturan yang sudah ada. Tenang aja ga usah khawatir. UI ga ngambil keuntungan sama sekali. Orang emang harus ikut aturan pemerintah,” jelasnya.

Kemudian, perihal apakah nanti akan ada parkir di fakultas atau tidak. Ia pun menjawab bahwa tidak ada lagi pemungutan parkir di fakultas dan mengenai isu gratis biaya masuk hanya untuk 15 menit, ia menjawab bahwa hal itu masih sangat mungkin untuk ditambah waktunya tidak hanya 15 menit.

“Tidak ada lagi (parkir di fakultas -red). Sudah tidak ada lagi,” tegasnya.

Pemakaian Dana Masuk dari Secure parking

Pemakaian dana masuk dari secure parking akan digunakan untuk membayar pajak parkir kepada Pemda Depok dan untuk pemeliharaan lahan parkir karena secure parking itu ada asuransinya.

“(Tidak hanya digunakan untuk membayar pajak tapi -red) untuk pemeliharaan lahan parkir. Kalo misalnya nanti parkirnya ga aman gimana. Nah makanya pake secure parking, karena secure parking itu ada asuransinya,” jelas kepala Humas UI tersebut.

Aturan Secure parking untuk Masyarakat

Sedangkan mengenai kekhawatiran BEM UI dan aliansi tentang dampak secure parking untuk masyarakat yang melintas di UI, ia pun mengatakan bahwa hal tersebut sudah dipikirkan solusinya jadi tidak perlu khawatir akan hal itu. Ia mengatakan bahwa akan ada jalur lintas khusus untuk masyarakat dan apabila ingin melintas, ada aturan-aturan tertentu agar masyarakat tidak usah membayar.

“Yang dikhawatirkan ama BEM (UI -red) itu masyarakat yang melintas. Ingat bahwa satu, masyarakat kami buatkan jalur lintasan khusus, di utara dan selatan yang tidak bayar sama sekali. Ini yang BEM UI tidak tahu,” jelasnya.

Ia juga menyatakan kesiapan dan keseriusan UI dalam menggarap proyek ini. Menurutnya, pihak internal UI tidak semata-mata membuat kebijakan parkir tersebut tanpa perencanaan. Internal UI sudah melakukan survei dan kajian mengenai hal tersebut, hanya saja belum dipublikasikan kepada mahasiswa dan masyarakat. Salah satu mata kajiannya membahas tentang dampak penerapan secure parking terhadap mobilitas masyarakat yang biasanya hanya menumpang lewat di kawasan UI. “Ada board (batas lintasan—red), utara ada board selatan. Silahkan lewat, bebas. Kalo mau lewat tengah, kalo ingin sekadar melintas, ada nanti aturan yang tidak bayar. Lah kalo misalnya dia parkir—lah parkir itu ada waktunya kan, namanya parkir itu harus membayar lahan parkir. Itu loh, semangatnya itu,” ujarnya.

Selain itu, Rifelly juga menjelaskan bahwa perihal parkir di UI sudah dikaji sejak tahun 2014. Ia juga mengatakan bahwa rencananya ingin membangun gedung parkir di dekat asrama UI, namun belum bisa dilakukan karena mengingat Bikun sebagai alat transportasi belum banyak jumlahnya.

“Jadi nanti kita tambah secara bertahap. Kalo misalnya transportasi publiknya sudah ok, sudah enak, baru nanti kita bikin gedung parkir. Nanti masuk ke UI tuh enak, bayangkan ya. Kita masuk ke UI jalannya bebas, sekarang kan ada motor seng ga pake helm. Mobil juga kadang-kadang ngebut. Bahkan dijadikan lahan latihan berkendara, kan itu ya mengganggu,” tambahnya.

Teks: Nada Salsabila
Foto: Nada Salsabila 
Kontributor: Alysia Noor 

Editor: Muhamad Aliffadli

Pers Suara Mahasiswa UI 2019
Independen, lugas, dan berkualitas!

 

Komentar



Berita Terkait

Uji Coba Sejak Minggu Lalu, Ini Rute Operasi Transjakarta di UI
Pemira UI 2019: Kebijakan Baru Terkait Sistem Pemungutan Suara dan Kriteria Calon Peserta
Nasib Bus Kuning di Universitas Indonesia
Aksi Secure Parking Jilid 2