Dinyatakan Lolos Bersyarat, M. Luthfie Arif Merasa Sangat Tidak Puas

Tuesday, 07 November 17 | 11:07 WIB

Pada Minggu (5/11) lalu telah dilaksanakan Sidang Banding antara Kuasa Hukum tim El-Shendy dengan Majelis Sidang Banding serta Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) di Ruang DPM UI, Pusgiwa.

Hasilnya, Majelis Sidang Banding memtusukan bahwa Pasangan Bakal Calon Ketua dan Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiwa (BEM) UI, M. Luthfie Arif dan Shendy Ristandi dinyatakan lolos bersyarat.

Dalam hal ini, El merasa keberatan dengan hasil keputusan Sidang Banding. “Keberatan sebenernya, sangat sangat nggak puas (dengan hasil sidang—red) ya bisa dibilang begitu,” tutur El.

“Karena logikanya gini, kemarin itu ketika sidang verifikasi berkas umum dan adminitrasi, gue tuh lengkap, sama sekali nggak kurang, berkas dukungannya semua lengkap, tapi gue dinyatakan tidak lolos dikarenakan tuduhan tersebut, tuduhan pemalsuan data,” tambahnya.

Senada dengan El, Shendy yang diwawancarai melalui LINE mengungkapkan, “Nah setelah ini semua selesai (Sidang Verifikasi Kedua –red) dianggap nggak kenapa-kenapa, baik-baik aja, eh tiba-tiba panitia itu kayak nyenggol-nyenggol jadi memberikan satu catatan. Kemudian hakimnya itu mengumumkan kalo panitia menemukan adanya indikasi kecurangan, pemalsuan data.”

Selanjutnya, El, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) itu berhasil menggugurkan tuduhan panitia melalui bukti berupa surat kuasa dari 13 mahasiswa yang datanya dianggap tidak valid beserta video kesaksiannya. Akan tetapi, El dan tim tidak bisa dinyatakan langsung lolos, melainkan lolos bersyarat. Hal tersebut membuat El merasa keberatan dengan hasil sidang.

Menurut El faktor penyebab ia lolos bersyarat agak lucu. Ia menjelaskan bahwa faktor pemberatnya, yaitu tidak disertakan bukti pada saat mengumpulkan Surat Permohonan Sidang Banding sehingga panitia memutuskan alat bukti tersebut tidak sah.

“Ini agak lucu, jadi memang panitia bilang seharusnya dalam Surat Permohonan kita, harus menyertakan alat bukti. Tapi, gue tidak menyertakan alat bukti tersebut dalam surat permohonan. Pada akhirnya panitia bersikeras tidak sah. Padahal seharusnya kalau dilihat dalam Peraturan Panitia (PP) nya itu, panitia harusnya kalau emang alat bukti tidak disertakan dalam surat permohonan seharusnya panitia tidak menerima surat permohonan tersebut, harusnya nggak jadi, nggak ada tuh yang namanya Sidang Banding keberatannya,” jelasnya.

Kemudian El turut memaparkan bahwa pada Peraturan Pemira IKM UI pada pasal 20 ayat 4, yang berisi Permohonan keberatan ditulis dalam bentuk surat permohonan keberatan yang setidak-tidaknya mencakup Identitas Pemohon, Kasus Posisi, alasan-alasan permohonan, Tuntutan (Petitum) atas keberatan yang dimohonkan dan alat bukti.

Mengacu pada pasal tersebut, mahasiswa angkatan 2014 itu merasa lucu ketika panitia tetap menerima Surat Permohonan Sidang Banding, tetapi menyatakan alat bukti tidak sah karena tidak disertakan saat penyerahan Surat Permohonan Sidang Banding.

“Pada saat itu gue emang nggak menyertakan alat bukti, tapi gue sebutkan alat bukti akan dibawa pada waktu sidang, karena dengan waktu yang sangat singkat gue harus mengumpulkan semua alat bukti dan surat pernyataan, kemudian ya udah gue bilang alat bukti akan dibawa saat sidang, dan mereka (panitia—red) menolak alat bukti tersebut padahal itu beneran ada, agak nggak logis aja sebenernya,” tuturnya

 

Teks: Halimah Ratna Rusyidah dan Rifa Fauzyandi

Foto: Nova Suyanti

Editor: Eri Tri Anggini

Komentar



Berita Terkait

Peserta Pemira IKM UI Beri Jawaban Soal Kenaikan Biaya Pendidikan Vokasi
Ketua Pelaksana Pemira IKM UI Beri Penjelasan Soal Tidak Lolosnya Wanda-Sayyid
Lolos Bersyarat, Zaadit Taqwa Akui Cukup Puas dengan Hasil Sidang Banding
Ralat Hasil Sidang Verifikasi Kedua, Panitia Pemira IKM UI Loloskan Bakal Calon Anggota MWA UI UM