Diskusi Bandar Bingar: UI dan BTN Lakukan Kerja Sama Student Loan

Wednesday, 02 May 18 | 09:44 WIB

“Untuk BTN, UI ternyata udah kerja sama dan tanda tangan. Suku bunganya 6.5%. Pembiayaan hingga 200 juta. Namun, harus sudah pernah kredit rumah atau apartemen sebelumnya. Kalau kayak gini perlu dipertanyakan, sasarannya siapa? Di UI, dalam pengelolaan dananya belum ditransparansikan dengan baik. Dalam student loan, belum ada jelas sasarannya ke siapa dan dari mana. Belum terstruktur dan tertuju sasarannya siapa,” ungkap Althof Endawansa selaku Sekjen MWA UI UM 2018 saat Diskusi Bandar Bingar yang membahasa tentang Wacana Student Loan di Indonesia yang dilaksanakan pada Rabu (25/4) di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI).

Selanjutnya, ia memaparkan bahwa student loan merupakan bentuk pinjaman kepada mahasiswa untuk pengeluarannya selama menempuh jenjang pendidikan tertentu dan lazimnya disalurkan dengan suku bunga yang lebih rendah. Sistem ini sudah diterapkan di sejumlah negara dengan tingkat keberhasilan yang berbeda-beda. Contoh negara yang berhasil adalah Malaysia. Di Malaysia student loan meningkat karena ada bantuan dari pemerintah. Selain itu, di Malaysia periode waktu pelunasannya tidak ketat dan apabila mahasiswanya berprestasi, mereka dibebaskan dari student loan. Berbeda dengan student loan di negara Chili, 85% mahasiswa yang telah lulus justru terjerat hutang.

Kemudian, ia mengatakan bahwa ketika student loan didorong untuk diterapkan di Indonesia, banyak yang merespon positif, diantaranya adalah Bank Nasional Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Bank Tabungan Negara (BTN) yang telah menandatangani kerja sama dengan berbagai PTN (Perguruan Tinggi Negeri) di Indonesia. Meskipun begitu, ia juga mempertanyakan mengenai sasaran sistem ini.

Sementara itu, Vincent Ricaldo selaku local coordinator student for liberty berpendapat bahwa ia setuju dengan beberapa kondisi. Dorongan dari Jokowi untuk bank-bank agar memberikan student loan kepada mahasiswa dapat mengubah sesuatu yang konsumtif menjadi berguna. Namun, ia juga menekankan bahwa sekolah tidak sama dengan pendidikan. Menurutnya, banyak orang yang gagal di sekolah tapi berhasil di kehidupan karena institusi pendidikan tidak hanya sekolah.

Student loan ini enggak ada persoalan, hanya saja ini diarahkan untuk pendidikan. Pendidikan enggak harus di UI, atau sekolah. Banyak orang yang gagal di sekolah, tapi berhasil di kehidupan karena institusi pendidikan itu tidak hanya sekolah,” tutur Vincent.

Namun, baik Althof dan Vincent sama-sama berpendapat bahwa perlu dilakukan kembali kajian mengenai sistem student loan ini.

Menurut Vincent, publik harus mempertimbangkan manfaat yang akan didapat. “Untuk bunga yang diterapkan itu hanya sekadar jaminan oleh pemilik modal, bukan bermaksud untuk menguras kantong mahasiswa. Harus dipertimbangkan oleh publik, mana yang paling banyak manfaatnya, dari pemerintah kah atau dari privat,” ujar Vincent.

“Indonesia siap? UI siap? Dengan ada kondisi sekarang, belum matang. Belum ada mekanisme yang benar-benar disepakati. Tepat? Perlu kajian lebih lanjut,” turur Althof.

Adapun Diskusi Bandar Bingar yang membahasa tentang Wacana Student Loan di Indonesia telah dilaksanakan pada Rabu (25/4). Topik ini diangkat karena student loan atau kredit pendidikan tengah hangat diperbincangkan belakangan ini setelah adanya wacana yang diajukan oleh Presiden Joko Widodo pada 15 Maret 2018. Wacana tersebut meminta perbankan nasional mencontoh Amerika Serikat untuk memberikan fasilitas kredit ke sektor pendidikan.

Selain itu, diskusi yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FH UI ini berlangsung di Ruang C106 FH UI.

 

 

Teks: Nadia Farah
Foto: Istimewa
Editor: Halimah dan Kezia

Komentar



Berita Terkait