Diskusi Publik 20 Tahun Reformasi: Bawa Prespektif dari Dua Golongan

Monday, 21 May 18 | 08:22 WIB

Sabtu (19/5), Badan Otonom Pers Suara Mahasiswa Universitas Indonesia mangadakan Grand Launching Gerbatama: Ini UI! Edisi Khusus 20 Tahun Reformasi dengan tema “Menilik Kembali Peran Pergerakan Mahasiswa di Era Reformasi dan Saat Ini” di Aula Terapung, UI. Acara ini dikemas ke dalam bentuk diskusi publik yang turut menghadirkan aktivis pergerakan mahasiswa tahun 1998 serta tokoh mahasiswa saat ini. Panelis yang mengisi jalannya diskusi adalah Heru Cokro selaku ketua DPM UI 1997-1998, Elfansuri Chairah selaku ketua senat FISIP UI 1997-1998, Fitra Arsil selaku Sekjen Senat Mahasiswa UI 1997-1998, Panji Anugrah Permana selaku Dosen Ilmu Politik FISIP UI, Obed Kresna selaku Presiden Mahasiswa UGM 2018, Zaadit Taqwa selaku Ketua BEM UI 2018, serta Riyan Israyudin selaku Presiden Mahasiswa Trisakti 2018 yang berhalangan hadir.

Selanjutnya, ​dipandu oleh moderator Astari Yanuarti yang merupakan reporter Bergerak! dan Pemimpin Umum Suara Mahasiswa tahun 1999, diskusi ini dibuka oleh Heru Cokro yang membahas mengenai gerakan mahasiswa. Ia menjelaskan bahwa gerakan mahasiswa bukanlah gerakan terpisah, melainkan gerakan yang di dalamnya terdapat aktivis, masyarakat sipil, dan mahasiswa itu sendiri. Selain itu, Heru juga menceritakan pengalamannya menjadi jenderal lapangan ketika persitiwa pendudukan gedung DPR/MPR yang pada saat itu pernah dikuasai oleh mahasiswa. “Mahasiswa harusnya jadi sparing terus-menerus. Sparing tanpa kekerasan dan menuntut perubahan pada pemerintah,” tutur Heru.

​Kemudian, Elfansuri Chairah berkesempatan memberikan pemaparan mengenai refleksi 20 tahun reformasi yang ia sempat terlibat di dalamnya. Jika saat persitiwa pendudukan gedung DPR/MPR Heru merupakan jenderal lapangan, berbeda dengan Elfansuri yang pada saat itu memainkan peran sebagai sersan. Menurutnya, terdapat dua hal yang perlu dipahami saat persitiwa 1998, yaitu konteks reformasi dan eskalasi.

​Pernyataan Elfansuri tersebut kemudian dibenarkan oleh Fitra Arsil yang menambahkan bahwa dalam gerakan mahasiswa, hal pertama yang diperlukan adalah motivasi dengan nyali ideologis. “Saya kira perlu adanya motivasi atau nyali ideologis. Motivasi tersebut yaitu apa yang menjadi kegelisahan aktivis mahasiwa saat itu (tahun 1998 –red),” ujar Fitra.

Tak hanya itu, Satrio Arismunandar selaku penulis buku bergerak memaparkan bahwa gerakan mahasiswa dengan pers mahasiswa saling berkaitan. “Gerakan mahasiswa dengan pers mahasiswa saling berkaitan satu sama lain. Pers mahasiswa sangat berperan dalam mensosialisasikan poin-poin penting dalam gerakan mahasiswa,” ujarnya.

Setelah tiga panelis dari aktivis pergerakan mahasiswa 1998 memaparkan materinya, selanjutnya Obed Kresna dari golongan muda berkesempatan memberikan penjelasan dengan konteks mahasiswa saat ini tentang permasalahan gerakan yang ada. Ia membuka pemaparannya dengan sebuah cerita mengenai kotak Pandora yang berisi kejahatan, keburukan, penyakit, serta hal-hal negatif lainnya.

“Jika diibaratkan, Pandora awalnya reformasi, kotaknya itu sendiri adalah kejelekan-kejelekan yang ada di otoritasnya orba (orde baru –red). Reformasi seperti membuka keburukan dan penyakit seperti (yersebut -red) contohnya KKN,” jelas Obed selaku Presiden Mahasiswa BEM KM UGM.

Obed pun menambahkan, di balik keburukan-keburukan yang ada di dalam kotak Pandora, masih terdapat secercah harapan di dalamnya. Harapan tersebut adalah keinginan dalam dirinya bahwa ia percaya gerakan mahasiswa akan besar kembali, terlepas dari permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa saat ini. Ia pun berpesan, sebagai mahasiswa hendaknya berhenti mengkafir-kafirkan bentuk aksi gerakan mahasiswa lain. Karena mahasiswa dapat memberikan perubahan dengan caranya masing-masing.

Jika Obed bercerita tentang kotak Pandora, beda halnya dengan Zaadit Taqwa selaku Ketua BEM UI yang memaparkan cerita mengenai the umbrella art revolution di Hongkong. Di sini, Zaadit mengaitkan peristiwa di Hongkong tersebut dengan bagaimana seharusnya pergerakan mahasiswa sekarang. Kreativitas menjadi kunci untuk mengumpulkan massa melalui perantara media sosial dalam melakukan sebuah gerakan.

Di akhir, Panji Anugrah Permana memberikan materi dengan menekankan konteks politik yang mengiringi pergerakan mahasiswa tahun 1998 dan setelahnya. Peristiwa 1998, pada dasarnya tidak berdiri sendiri yang melibatkan mahasiswa dari berbagai kampus serta elemen masyarakat lainnya, namun juga melibatkan generasi sebelum 1998 seperti dari tahun 1980, 1970, hingga 1960.

“Gerakan mahasiswa 98 (1998 –red) tidak berdiri sendiri secara horizontal, tapi juga dengan generasi sebelumnya. Ada konteks politik dan konteks sejarah yang panjang,” kata Panji.

Setelah para panelis memberikan penjelesan mereka, diskusi publik dilanjutkan dengan turut menghadirkan pembicara khusus dari berbagai latar belakang seperti Ubedilah Badrun yang merupakan salah satu pendiri FKSMJ (Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta) dan Ketua Umum Senat Mahasiswa IKIP, Edysa Girsang selaku salah satu pendiri Forkot (Forum Kota), Ibrahim Brata selaku ketua HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) UI 2018, Ahmad Luthfi sebagai ketua PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) UI 2018, Hansto Ruben Gusti Oscar selaku ketua GMNI (Gerakan Mahasiwa Nasional Indonesia) cabang Depok 2018, Satrio Arismunandar yang merupakan penulis buku Bergerak! “Peran Pers Mahasiswa dalam Penumbangan Rezim Soeharto”, serta Zico Leonard Djagardo Simanjuntak selaku mahasiswa pengaju Judicial Review UU MD3.

“Banyak beragam cara yang bisa dilakukan mahasiswa untuk melakukan suatu perubahan ataupun gerakan. Jangan memandang sempit sebuah gerakan!” tutur Zico dengan semangat.

Pada penutup, Zico pun berharap mahasiswa dapat mengawal keputusan judicial review agar masyarakat tahu kinerja DPR nantinya.

 

 

Teks : Afida R

Foto : Riardi

Editor : Halimah dan Kezia

Komentar



Berita Terkait