Malas Gerak, Keberlanjutan Moral Subsisten yang Perlu Dilawan

Monday, 29 June 15 | 10:31 WIB

Mager (malas gerak) atau secara psikologis disebut procrastinating sedang populer di kalangan anak muda, tidak terkecuali mahasiswa. Kata mager kerap kali digunakan kawula muda untuk mengekspresikan kemalasan dalam berbagai konteks, seperti menunda atau kilah untuk enggan melakukan sesuatu.

Mager dalam konteks tugas akademik maupun organisasi seringkali berujung pada kata deadliner. Tugas yang diembankan kepada mahasiswa pun tidak jarang ditunda, santai-santai di awal; sibuk menghabiskan waktu bersama teman, menonton film, bermain gawai, baru kemudian menggeliat memburu waktu saat mendekati batas akhir. Toh pada akhirnya kelar juga.

Mager dan deadliner pun menjadi dua perpaduan serasi, yang bila dibiarkan, dapat menggerus sisi idealis dan ambisi perfeksionis mahasiswa.

Secara historis, mager memiliki keterkaitan erat dengan perilaku subsisten. Seorang sejarawan, James C. Scott dalam bukunya The Moral Economy of The Peasant, Rebellion, and Subsistence in Southeast Asia mengemukakan bahwa etika subsistensi membawa masyarakat, di Asia Tenggara umumnya, untuk bertahan hidup dalam kondisi minimal.

Asia Tenggara memang seolah-olah dianugerahi Tuhan daerah yang subur. Karena itu, banyak masyarakatnya yang menggantungkan hidup pada alam, seperti bertani. Anthony Reid dalam Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680: Tanah di Bawah Angin menyatakan, iklim Asia Tenggara lunak dan makanan pokoknya, seperti beras, ikan, serta buah-buahan juga tersedia secara lebih pasti dibandingkan dengan sebagian besar wilayah lain di dunia. Karenanya, orang Asia Tenggara mempunyai keuntungan alamiah untuk bebas dari perjuangan terus-menerus dalam mempertahankan kehidupan.

Perilaku subsisten muncul sebagai respon atas kemudahan yang ada tersebut. Keuntungan alamiah yang diterima oleh orang Asia Tenggara membuat masyarakatnya cenderung menggantungkan diri pada kemudahan yang dari dulu ada dan cukup puas dengan pencapaian minimum; yang penting hidup hingga esok hari.

Kini, saat kondisi sosial-budaya sudah berbeda, perilaku subsisten masih langgeng diterapkan dalam bentuk keinginan untuk tetap berada di zona nyaman, cenderung malas bergerak, dan menantang arus. Mager bisa jadi merupakan jelmaan dari perilaku subsisten yang sudah bercokol di masyarakat kita sedari dulu.

Melanggengkan perilaku subsisten mengandung risiko. Anthony Reid, dalam karyanya, pernah mengingatkan: masyarakat di Asia Tenggara menjadi komunitas yang pasif.

Menurutnya, bukan tidak mungkin, motif utama kedatangan bangsa lain ke Asia Tenggara awalnya untuk mendapatkan sumber pangan yang melimpah. Pada fase kemudian, bangsa-bangsa Eropa ingin mendapatkan tenaga masyarakat Asia Tenggara yang sebagian besar tidak terpakai karena iklim yang sudah memanjakannya dengan limpahan sumber bahan makanan.

Jika manusia kita, terutama generasi muda tetap mempertahankan pola berperilaku subsisten yang dibawa oleh nenek moyang dalam bentuk mager dan deadliner, bukan tidak mustahil, ancaman dari bangsa luar akan berdampak buruk bagi bangsa kita.

Belajar dari Eropa

Bicara soal mengantisipasi mager, kita harus terinspirasi oleh Max Weber, yang melalui Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, ia mencoba menjabarkan bagaimana semangat bekerja membawa bangsa Eropa menuju kemakmuran.

Etika protestan yang dikembangkan oleh Calvin tumbuh subur di Eropa kala itu, dan memunculkan ajaran: jika seseorang berhasil dalam kerjanya, hampir dapat dipastikan ia ditakdirkan menjadi penghuni surga, namun jika sebaliknya, dapat diperkirakan seorang itu ditakdirkan untuk masuk neraka.

Doktrin Protestan tersebut telah berimplikasi serius bagi tumbuhnya suatu etos baru dalam komunitas Protestan, yaitu etos yang berkaitan langsung dengan semangat bekerja keras untuk meraih kesuksesan dalam kehidupan.
Semangat bekerja yang dipaparkan oleh Weber itu bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda kita. Betapa tidak, pada Bab V, “Askese dan Spirit Kapitalisme”, Weber dengan jelas memberikan gambaran mengenai bagaimana masyarakat Eropa saat itu memegang prinsip yang baik dalam kaitannya dengan alokasi waktu.

Mereka menganggap membuang-buang waktu merupakan dosa pertama dan secara prinsip sebagai dosa paling mematikan. Kehilangan waktu melalui sosialitas, pembicaraan tidak menentu, kemewahan, bahkan tidur terlalu banyak dari yang semestinya bagi kesehatan, merupakan kesalahan-kesalahan moral yang absolut.
Karya Weber tersebut bisa jadi merupakan tamparan keras bagi masyarakat Asia Tenggara, termasuk kita, yang menurut Scoott cenderung santai dan puas dengan hasil yang minimum.

Apalagi, jika kita kembali melongok istilah mager yang akhir-akhir ini digaungkan oleh anak muda. Anak muda kita terkesan menggampangkan sesuatu. Seolah-olah tidak perlu berupaya maksimal karena sudah barang tentu dapat meraih keadaan minimal yang kita harapkan.

Hal itu sungguh sangatlah berbanding terbalik dengan penjelasan Weber yang menyatakan, “mereka yang tidak bekerja tidak berhak mendapatkan makan, berlaku tak terkecuali bagi seluruh manusia”. Artinya, tidak ada pencapaian yang pantas diterima oleh para pemalas dan tukang mager.

Gambar: publicbroadcasting.net

Komentar



Berita Terkait