Einstein: Cemerlang dan Keruh di Hidup Si Brilian

Monday, 28 August 17 | 08:13 WIB

Judul: Einstein: Kehidupan dan Pengaruhnya bagi Dunia

Penulis: Walter Isaacson

Tahun terbit: 2013

Penerbit: Bentang Pustaka

 

Pencarian kebenaran lebih berharga daripada mengetahui kebenaran tersebut.

 

Kutipan di atas terdapat dalam buku Einstein: Kehidupan dan Pengaruhnya bagi Dunia, salah satu dari beberapa biografi tokoh dunia yang ditulis Isaacson. Seakan memaknai kutipan tersebut, buku ini ditulis dengan runut, mendetail, objektif, dan proses observasi yang tentunya tidak sebentar. Tidak tanggung-tanggung, versi Indonesianya mencapai hampir 700 halaman.

Kehidupan Einstein diceritakan secara menyeluruh. Dimulai dari kelahiran si brilian di tengah keluarga bangsawan, yang kemudian tumbuh sebagai penyendiri. Beberapa kali, Einstein mengalami berbagai kesulitan yang disebabkan ke-Yahudi-annya, kendati ia berasal dari keluarga bangsawan.

Ia dikucilkan di sekolah dan selepas lulus, ia ditolak bekerja berkali-kali meskipun ia mahasiswa cemerlang. Begitu sulitnya mencari kerja, ia terpaksa mengambil pekerjaan di kantor paten sebagai asisten teknik pemeriksa, peran yang dianggap sangat monoton dan membosankan.

Cita-citanya adalah menangani proyek penelitian yang digagasnya, yang sayangnya tidak bisa terlaksana karena tidak ada pihak yang bersedia memfasilitasi.

Di samping itu, perjuangan karirnya juga terganggu dengan fakta bahwa ia akan memiliki anak dari perempuan yang belum ia nikahi, Mileva Maric. Mileva adalah teman sekelasnya di kampus, seorang perempuan cerdas sekaligus teman diskusi yang menggairahkan bagi Einstein, kendati disebutkan bahwa Mileva ini tidak menarik secara fisik. Ia akan menjadi ayah, dengan itu ia punya tanggungjawab untuk membiayai Mileva dan anaknya.

Sebagai orang yang gila kerja, Einstein bukan sosok yang menghabiskan banyak waktu dengan keluarganya. Jemu akan Mileva yang kini menjadi wanita pemarah, Einstein mencari pelarian dengan selingkuh pada sepupunya sendiri, Elsa. Hubungannya dengan Elsa semakin hari semakin intens, hingga Elsa memintanya untuk menceraikan Mileva dan menikahi dirinya.

Pelan-pelan, orang-orang mulai melirik teori-teori yang ia tulis. Datanglah proyek-proyek penelitian, panggilan mengajar dan seminar, dan penghargaan; hal-hal yang mendongkrak hidupnya, baik dari segi finansial, akademik, maupun popularitas. Dan Elsa menjadi perempuan yang mendampingi Einstein di puncak popularitasnya.

Perlu dicatat, pernikahannya dengan Elsa juga tidak selalu mulus—Einstein berkali-kali selingkuh, bahkan setelah Elsa meninggal di Amerika, tempat Einstein bekerja sebagai profesor dan penceramah.

Di samping itu, Einstein bangga terhadap Amerika akan kebebasan negara itu, terutama karena negara ini tidak meremehkan ras Yahudinya seperti yang dilakukan negara tempat ia lahir.

Einstein punya opini menarik mengenai Tuhan. Ia percaya akan adanya kekuatan Tuhan berdasarkan kekuatan-kekuatan alam yang belum bisa ia sentuh.

Katanya, “Memuja kekuatan di luar apa pun yang bisa kita pahami adalah agama saya. Sampai sejauh itu saya memang percaya Tuhan.” Di samping itu, ia menolak disebut  ateis; “Ada orang yang mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada , namun yang membuat saya sangat marah adalah mereka mengutip perkataan saya untuk mendukung pendapat mereka.”

Isaacson menulis buku ini dengan rapi dan tidak menonjolkan sudut pandang tertentu. Ia memuja sekaligus menghujat pribadi Einstein melalui fakta-fakta yang ia sajikan, yang didasarkan pada catatan harian, wawancara, dan literatur terkait.

Ia mengulas kehidupan Einstein dari segala aspek, mencakup keluarga, karir, kisah cinta, pencapaian, bahkan hingga politik. Sehingga, pembaca tidak melulu dicekoki dengan pencapaian-pencapaian Einstein dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga berbagai sisi menarik lain dari hidup si brilian legendarisi ini. Buku ini juga menjadi acuan serial televisi Genius (2017) yang tayang di saluran National Geographic beberapa bulan terakhir.

 

Teks: Prita Permatadinata

Foto: Sumber Istimewa

Komentar



Berita Terkait