Eksplorasi di Farmasi, Calon Anggota MWA UI UM 2019 Janjikan Dua Hal Ini

Thursday, 08 November 18 | 09:52 WIB

Rabu (7/11) eksplorasi Calon Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia Unsur Mahasiswa (MWA UI UM) 2019 telah dilaksanakan di Farbase, Fakultas Farmasi (FF) UI. Eksplorasi yang harusnya dimulai pukul 17.00 WIB tersebut dibuka pada 18.30 WIB, dengan pemaparan visi dan misi serta program kerja dari calon nomor urut 1, Althof Endawansa yang kemudian dilanjutkan oleh Bimo Maulidianto sebagai calon nomor urut 2.

Dalam sesi tanya jawab, panelis Puteri Dyah Nastiti dari Farmasi UI 2014 menanyakan isu terkait FF UI yang akan dibawa oleh masing-masing calon. Calon nomor urut 2, Bimo Maulidianto mengatakan bahwa dirinya akan mengawal isu mengenai ketersediaan alat-alat praktikum di laboratorium FF UI.

Menurut Bimo, banyaknya alat praktikum yang tidak dapat berfungsi dengan baik di fakultas tersebut perlu mendapatkan perhatian. Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) angkatan 2015 itu pun menuturkan bahwa sebenarnya anggaran untuk pengadaan barang dan peralatan praktikum di FF UI telah disediakan, yaitu sekitar 4,5 M.

Sedangkan perihal pembangunan gedung baru untuk FF UI, Bimo menjelaskan bahwa yang menjadi permasalahan adalah belum tersedianya anggaran serta lahan untuk merealisasikan hal tersebut.

Ia menambahkan bahwa pembangunan gedung baru untuk fakultas yang diresmikan tahun 2011 itu sebenarnya belum tercantum dalam Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) UI.

“Pun hal yang sama itu disampaikan juga untuk fakultas baru, Fakultas Ilmu Administrasi. Kita sama gitu, kita sudah dikasih spot lahan. Cuma permasalahannya adalah anggaran biayanya itu apakah sudah masuk, sudah disediakan spot untuk Farmasi atau belum. Nah, di tahun depan, jika saya terpilih ataupun tidak terpilih, itu harapannya bisa mengawal itu. Bagaimana sih proses perencanaan (dan –red) pengembangan infrastruktur yang akan coba UI lakukan? (Apakah –red) di tahun depan akan ada pembangunan (gedung baru –red) Farmasi?” ujar Bimo menutup penjelasannya.

Hal serupa dilontarkan oleh Althof Endawansa selaku calon MWA UI UM nomor urut 1. Ia menyebutkan bahwa dalam LPSE UI telah disediakan anggaran yang dialokasikan untuk pengadaan instrumen laboratorium FF UI tahun anggaran 2018.

“Safari fakultas Badan Kelengkapan tahun 2018 itu kan pernah ke Farmasi di bulan April. Salah satunya masukan adalah terkait dengan lab itu juga dan teman-teman bisa cek di LPSE bahwa lelangnya sudah gol dan sebesar 4,6 milyar telah diadakan alat instrumen laboratorium FF UI untuk tahun anggaran 2018,” tutur pria yang juga mahasiswa FIA UI 2015 tersebut.

Selanjutnya, Althof mengutarakan dua isu lain dari FF yang akan menjadi fokusnya sebagai calon anggota MWA UI UM tahun 2019. Hal tersebut meliputi pembangunan gedung baru dan kenaikan biaya pendidikan untuk mahasiswa Farmasi UI jalur paralel serta profesi apoteker.

“Seminimal-minimalnya adalah memberikan informasi dengan teman-teman sebelum itu terimplementasikan jauh-jauh hari. Sekitar Februari atau Maret itu biasanya telah ditetapkan SK (Surat Keputusan -red) Rektor mengenai biaya pendidikannya, ya? Itu informasinya akan langsung diberikan kepada teman-teman apakah naik atau tidak. Tapi akan tetap suara dari mahasiswa itu akan sebisa mungkin tidak naik untuk paralel dan juga profesi,” tuturnya.

Mahasiswa kelahiran tahun 1996 tersebut mengungkapkan bahwa ia menargetkan untuk memasukkan pembangunan gedung farmasi pada Rencana Kegiatan Anggaran (RKA) UI 2020. Alasannya memilih tahun 2020 adalah karena RKA UI 2019 telah ditetapkan dan berdasarkan penuturannya tidak ada pembangunan gedung farmasi di sana. Althof pun mengungkapkan bahwa terwujudnya gedung baru tersebut salah satunya bergantung pada pihak Dekanat FF UI. Oleh karena itu, kerja sama dengan dekan sangat diperlukan.

“Gedung Farmasi itu hanya akan dapat konkret ketika misalnya dari pihak dekannya juga itu sangat niat untuk bangun gedung. FIA di tahun 2019 akan dibangun gedungnya dan telah gol. Itu karena apa? Dekanatnya juga memang memprioritaskan hal tersebut di nomor satu. Tapi terakhir saya itu bertanya kepada Kepala Adkesma-nya (Farmasi –red) dan Ketua BEM-nya (Farmasi –red) juga, katanya masih belum diprioritaskan. Maka dari itu perlu kerja sama dengan dekan,” jelasnya.

Ketika ditanya oleh panelis, Abdelhaq Setya Subarkah dari Farmasi UI 2011 mengenai strategi yang akan dilakukan dalam usaha menurunkan biaya pendidikan jalur paralel, Althof menawarkan solusi agar mahasiswa Farmasi UI turun ke jalan melalui demonstrasi bersama MWA dan BEM demi menyuarakan tuntutannya kepada rektorat. Menurut Althof kekuatan mahasiswa terletak di basis massanya. Oleh karena itu, dia menyatakan siap untuk memperjuangkan hal tersebut apabila mahasiswa Farmasi UI pun totalitas dalam menyuarakan keresahannya.

Sementara Bimo menegaskan dirinya siap untuk sama-sama memperjuangkan hal tersebut dengan mahasiswa Farmasi UI. Menurutnya, hal pertama yang akan dilakukan adalah membuat kajian mengenai jumlah mahasiswa reguler di Farmasi yang membayar biaya pendidikan baik melalui BOPB maupun BOPP, dengan lebih banyaknya mahasiswa paralel di fakultas tersebut.

Teks: Sindi Fantika
Foto: Riardi Solihin
Editor: Halimah dan Kezia

Pers Suara Mahasiswa UI 2018
Independen, lugas, dan berkualitas!

#PEMIRAIKMUI2018

Komentar



Berita Terkait

Eksplorasi FIB UI: Kedua Paslon BEM UI Beri Pandangan Isu Kekerasan Seksual
Klarifikasi Kedua Pasang Calon Ketua dan Wakil Ketua BEM UI 2019 Terkait Sokongan Dana
Calon MWA UI UM 2019 Utarakan Pendapat Pemindahan Bedeng dan Transparansi Kinerja Rektor
Eksplorasi Pemira di FT UI: Kedua Paslon BEM UI 2019 Paparkan Gagasan Perihal Komersialisasi Lahan Parkir