Empat Fungsi Perguruan Tinggi dalam Ketahanan Negara

Saturday, 24 May 14 | 06:49 WIB

Selasa (20/5/2014), genap 106 tahun Kebangkitan Nasional Indonesia. Universitas Indonesia merayakan momentum ini dengan menggelar kuliah umum bertajuk “Peran Perguruan Tinggi Dalam Memelihara Pertahanan dan Ketahanan RI” dengan pembicara Panglima Tentara Nasional Indonesia, Jenderal TNI Dr. Moeldoko.

Kuliah yang dihelat di Balai Sidang Universitas Indonesia berlangsung selama dua jam dari pukul 14.00-16.00 WIB. Kuliah umum siang itu dibuka dengan pemutaran video yang menceritakan kegiatan TNI dalam mempertahankan kedaulatan NKRI di darat, laut, dan udara. Moeldoko membuka perkuliahan dengan menyinggung arti pentingnya Kebangkitan Nasional bagi Indonesia.

“Dari video itu kita lihat, Indonesia tidak harus memulai kebangkitan dari awal. Sekarang ini negara kita tidak dalam keadaan porak-poranda seperti negara yang terkena dampak Arab Spring,” ujar Moeldoko membuka perkuliahan.

Dalam kuliah umum tersebut, Jenderal yang sempat menempuh pendidikan magister dan doktoralnya di Universitas Indonesia itu memaparkan optimisme Indonesia untuk bangkit dan menjadi negara yang handal di kancah dunia internasional. “Ramalan McKinsey Global Institute terbukti benar. Saat ini, Indonesia berada di posisi ketujuh dunia ditinjau dari kekuatan ekonomi dan daya beli masyarakatnya.”

Namun, lanjutnya, Indonesia tak boleh tenggelam dalam kejumawaan. Sebab, di sesi selanjutnya, pria yang menjadi siswa AKABRI terbaik pada tahun 1981 ini memaparkan tantangan-tantangan Indonesia di masa mendatang. Serta faktor-faktor penentu masa depan sebuah negara. Salah satu faktor penentu masa depan adalah kecepatan sebuah bangsa dalam mengambil tindakan.“Di saat negara lain sudah AFTA, kita masih NATO,” ujar Moeldoko.

“AFTA itu Action First Talk After, jadi yang penting bertindak dulu baru berbicara. Kalau NATO itu Not Action Talk Only, orang Indonesia kebanyakan berbicara daripada bertindak,” lanjutnya yang sontak membuat tawa hadirin pecah siang itu.

Lalu, bagaimana sebenarnya posisi mahasiswa dalam mempertahankan ketahanan dan keamanan negara ini? Moeldoko menjelaskan tiga komponen upaya pembelaan negara. Komponen-komponen ini terletak dalam bagan berbentuk segitiga.

Di puncak hierarki, terdapat TNI sebagai komponen utama. Di bagian tengah, terletak komponen cadangan yang meliputi , sumber daya manusia, sumber daya alam dan sumber daya buatan yang bisa dimobilisasi demi kepentingan negara. Dan di lapisan bawah terdapat komponen pendukung yang mencakup seluruh sumber daya nasional yang terinventarisasi. Komponen pendukung ini juga mencakup seluruh profesi-profesi yang bisa diberdayakan untuk mempertahankan negara. “Mahasiswa bisa masuk ke dalam komponen pendukung dan cadangan dalam upaya pertahanan keamanan negara ini,” jelas Moeldoko.

(Baca:  Wajib Milter Bisa Buat Negara Lebih Maju)

Empat Fungsi Perguruan Tinggi

Lebih lanjut, ia mengaitkan empat fungsi perguruan tinggi dengan upaya pertahanan Indonesia. Keempat fungsi itu adalah kampus sebagai agen perubahan, rumah bagi pembelajaran, penjaga nilai-nilai, dan rumah bagi kebudayaan. Sebagai agen perubahan, mahasiswa bisa menjadi agen pemberdayaan yang mengabdi kepada masyarakat, terutama masyarakat di daerah perbatasan seperti yang telah dilakukan UI melalui program Kuliah Kerja Nyata.

“Yang terpenting adalah membawa nilai inklusif, bukan eksklusif,” jelas Jendral bintang empat ini.

Berkaitan dengan fungsi yang kedua, yaitu rumah bagi pembelajaran, TNI berniat menjalin kerja sama dengan UI dalam ajang Panglima Award yang meliputi bidang teknologi mutakhir yang diciptakan oleh mahasiswa untuk mendukung ketahanan negara. Sebagai penjaga nilai-nilai, kampus diharapkan mampu menerapkan nilai-nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, serta tetap berpedoman pada UUD 1945.

Fungsi yang terakhir adalah kampus sebagai rumah bagi kebudayaan. Dalam hal ini, kampus menjadi tempat untuk membangun budaya bangsa dan pendidikan kemandirian bangsa. “Fungsi inilah yang terpenting bagi negara agar karakter negara ini kuat,” ujar Moeldoko.

Dara Adinda Kesuma Nasution
Foto: Rama Ohara

Komentar



Berita Terkait

Sorot Toleransi, Talkshow dan Workshop Diadakan untuk Merawat Keberagama(a)n
Mengulik Potensi Kerjasama Ekonomi Indonesia dengan Iran
Dubes Dian Wirengjurit: “Iran Berharap Banyak pada Indonesia.”
Gerakan Rakyat Berdaulat Tolak Pilkada Tidak Langsung