EPT: Tiga Lembaga di UI Belum Mencapai Target

Friday, 31 August 18 | 12:01 WIB

Selasa, 27 Agustus lalu telah dilaksanakan Evaluasi Paruh Tahun (EPT) tiga lembaga Universitas Indonesia (UI) di Aula Terapung, Perpustakaan UI. Tiga lembaga tersebut, yaitu Majelis Wali Amanat UI Unsur Mahasiswa ( MWA UI UM), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UI, dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI. Sidang evaluasi dimoderatori oleh Dany Widiyo Putro, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) angkatan 2014 selaku Pimpinan Kongres Mahasiswa UI dan didampingi oleh Ilham Satria Kurniawan, mahasiswa Fakultas Hukum (FH) angkatan 2015 dan Salma Nabila R, mahasiswa FKM angakatan 2015. Selain itu, EPT juga dihadiri oleh perwakilan dari tiga lembaga UI dan mahasiswa UI lainnya. Evaluasi ini merupakan program kerja DPM UI dengan dasar Undang-undang Dasar Ikatan Keluarga Mahasiswa (UUD IKM UI) yang memuat 5 fungsi dari DPM UI, yaitu fungsi legislasi, suksesi, keuangan, pengawasan, dan pembinaan, serta memuat hak-hak DPM yaitu hak interpelasi, hak angket, dan hak melaksanakan rapat dengar pendapat.

Kemudian, penyampaian pertama dilakukan oleh DPM UI yang diwakilkan oleh Ulfa Rodiah selaku ketua DPM UI. Ulfa menyampaikan bahwa kinerja DPM UI pada paruh tahun ini belum sesuai dengan nilai yang dibawanya, yaitu dekat, sinergis, dan profesional. Ia juga menyampaikan bahwa frekuensi pertemuan antara fungsionaris DPM UI di paruh tahun pertama masih minim. Kehadiran para fungsionaris di setiap pertemuan belum pernah mencapai 90%. Ulfa juga menyampaikan bahwa beberapa masalah komunikasi antara DPM UI dengan lembaga lain menyebabkan belum tercapainya nilai sinergis. Hambatan-hambatan tersebut menyebabkan program kerja DPM UI tidak terlaksana dengan maksimal.

Adapun saat ini DPM UI sedang melakukan persiapan Pemilihan Raya (Pemira) IKM UI 2018 dengan telah terbentuknya tim Steering Committee (SC). Tim ini sudah pernah berkumpul untuk membahas gambaran teknis pemira tahun ini. Hanya saja, tim ini belum lengkap dari segi Badan Pengurus Harian (BPH) sehingga masih diperlukan pelengkapan badan tim lainnya agar mekanisme perekrutan panitia selanjutnya bisa dilanjutkan. Pembahasan mengenai Memorandum of Understanding (MoU) antara panitia Pemira dan DPM UI selaku Steering Committee juga telah dilaksanakan.

Setelah DPM UI, dilanjutkan oleh Vyan Tashwirul Afkar selaku MWA UI UM. Dalam paruh tahun pertama, MWA UI UM telah menghadiri 23 rapat dari 26 undangan. Rapat yang tidak bisa dihadiri oleh MWA UI UM yaitu 1 rapat paripurna, 1 rapat Panitia Khusus (Pansus) evaluasi rektor, dan 1 rapat Panitia Khusus (Pansus) tata kelola. Afkar tidak dapat menghadiri rapat paripurna karena sedang mengikuti ujian semester, sedangkan dua rapat lainnya tidak dihadiri karena masih berada di kampung halaman.

Tak hanya itu, dalam merealisasikan fungsi, tugas, dan wewenangnya, MWA UI UM mengalami kendala. MWA UI UM seharusnya memberikan informasi perkembangan MWA UI yang bersifat terbuka kepada mahasiswa. Pada kenyataannya, rapat-rapat MWA UI secara devote bersifat rahasia kecuali yang disetujui untuk terbuka.

“Mahasiswa tidak akan tahu apa yang telah dilakukan MWA UI jika MWA UI Unsur Mahasiswa tidak menyampaikannya. Di sisi lain, menyampaikan informasi tersebut tanpa persetujuan anggota MWA UI yang lain, berarti saya melanggar kode etik MWA UI,” ujar Afkar.

“Namun kami tetap berusaha untuk mengolah hasil rapat yang ada agar bisa disampaikan kepada publik. Namun masalahnya sekarang adalah adders (pengikut) dari sosial media kami tidak banyak,” tambahnya.

Selain itu, MWA UI UM mengalami defisit keuangan. “Yang membedakan MWA UI UM dengan lembaga lainnya di Universitas Indonesia adalah kita tidak memiliki dana operasional tiap bulan sehingga kita beberapa kali harus swadaya,” ujar Afkar.

Setelah MWA UI UM selesai, kemudian dilanjutkan presentasi Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) BEM UI yang disampaikan oleh Zaadit Taqwa selaku Ketua BEM UI dan Idmand Perdina selaku Wakil Ketua BEM UI. Dalam presentasinya, Idmand menyampaikan ada kekurangan dalam penerapan nilai-nilai yang telah diangkat oleh BEM UI, yaitu nilai cinta, sinergi, dan gerak. Kekurangan tersebut seperti masih minimnya momen bertemu antara anggota BEM UI dan adanya kesalahpahaman mengenai IKM UI Summit. Selain itu, belum semua bidang di BEM UI membuat gerakan atau dampak yang lebih besar daripada yang biasa dilakukan. Sedangkan, untuk realisasi visi dan misi, Zaadit menyampaikan bahwa pencapaian BEM UI 51% berdasarkan parameter per misinya.

Di sisi lain, DPM UI telah melakukan survei mengenai penilaian publik terhadap kinerja DPM UI. Dari segi kebermanfaatan program kerja, DPM UI memperoleh nilai 72,5. Sedangkan dari segi kinerja, DPM UI mendapatkan nilai 68,5.

DPM UI juga melakukan survei penilaian publik terhadap BEM UI dan MWA UI UM. Total penilaian terhadap BEM UI dan MWA UI UM diambil dari 60% hasil penilaian DPM dan 40% hasil penilaian publik.

BEM UI memperoleh 71,47 dengan rincian 76,2 dari penilaian DPM dan 72,2 dari penilaian publik. Indikator penilaian dari DPM UI adalah hasil Rapat Dengar Pendapat (RDP), penilaian turun lapangan, dan rata-rata LPJ. Sedangkan indikator penilaian dari publik adalah kebermanfaatan program kerja dan kinerja dari BEM UI.

Lalu, MWA UI UM memperoleh nilai 73,65 dengan rincian 76,15 dari penilaian DPM UI dan 69,5 dari penilaian publik. Indikator penilaian untuk MWA UI UM berlaku sama dengan BEM UI, namun yang membedakannya adalah tidak ada penilaian turun lapangan untuk MWA UI UM. Menurut Ulfa, hal tersebut karena memang tidak ada program kerja yang memang harus dilihat oleh DPM langsung di lapangan.

Teks: Khairunisa Hadisti
Foto: Hidayatul Fikri (Fasilkom 2017)
Editor: Halimah dan Kezia

Komentar



Berita Terkait

EPT: Tiga Lembaga di UI Belum Mencapai Target
MWA UI UM Klarifikasi Kerja Sama UI-BTN
Selisih 1.164, Pasangan Zaadit-Idmand Resmi Terpilih Menjadi Ketua dan Wakil Ketua BEM UI 2018
Pemira IKM UI dan Partisipasi Mahasiswa