Equal Fun Run: Titik Awal RSUI sebagai Pusat Pelayanan Difabel Pertama di Jawa Barat

Wednesday, 20 March 19 | 08:28 WIB

Minggu (17/03), tercatat sekitar 1100 orang dari kalangan umum dan 400 difabel memenuhi Kompleks Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) Depok pada pagi hari. Mereka semua adalah peserta Equal Fun Run 2019, ajang lari perdana yang diselenggarakan oleh RSUI yang bekerja sama dengan Dare Prosthetic & Orthotic, perusahaan pembuat prostetis dan ortosis bagi kalangan difabel. Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Jawa Barat, Engkus Sutisna, melakukan flag off sebagai tanda dimulainya ajang lari dengan track sepanjang empat kilometer ini.

Pemilihan kata equal yang mendampingi kata fun run sebagai nama kegiatan bukanlah tanpa sebab. Hal ini bertujuan untuk mempromosikan Rumah Sakit UI dan menjadi ajang pembuktian bahwa kalangan difabel dapat melakukan aktivitas fisik sebagaimana kalangan umum dalam forum yang sama.

“Kita memang memilih tema kali ini (karena –red) ingin mengedepankan masalah (antara kalangan  –red) difabel dan masyarakat normal. Difabel itu (sendiri berarti –red) keterbatasan fisik seseorang untuk bisa hidup normal. Kita ingin menyatukan (persepsi –red) bahwa mereka (kalangan difabel –red) itu sebenarnya bisa hidup berdampingan dengan orang normal. Jangan (sampai kalangan difabel –red) merasa inferior dengan keterbatasan (yang –red) mereka (miliki –red),” terang Julianto selaku Direktur Utama RSUI.

Hal senada juga diungkapkan Agus Sutami, peserta dari komunitas Rumah Cerebral Palsy (RCP), yang menurutnya kegiatan Equal Fun Run merupakan sarana yang efektif untuk menggiatkan aktivitas olahraga serta menjadi motivasi bagi keluarganya. “Bagus sih (kegiatan Equal Fun Run –red), kalo liat tiap keluarga khususnya kita sendiri (sebenarnya –red) jarang melakukan olahraga. Dengan acara ini, (tumbuh –red) motivasi juga (untuk –red) bisa ikut olahraga. Ya, mungkin kalo kita liat banyak komunitas di sini (Equal Fun Run –red) kita bisa mengimbangi bahwa kita sendiri bukan merasa paling terbawah, lah. Jadi kita sendiri merasa bahwa kita dapet ujian pun masih ada orang yang sekiranya mendukung kita, memperhatikan kita,” jelas Agus.

Menurut Averous Ibrahim Noor Esa, peserta Equal Fun Run 2019 dari kalangan umum, selain merasakan kebersamaan antara pelari umum dan pelari difabel, ajang lari seperti ini merupakan media yang lebih efektif dalam menyampaikan pesan dan mampu menjangkau target yang lebih luas.

“Bagus ya sebenarnya. Kalo dari sudut pandang gue yang punya pengalaman di organisasi, sebenernya hal-hal yang kaya gini (Equal Fun Run –red) tuh punya keefektifan untuk menyampaikan pesan (yang –red) lebih luas daripada seminar atau acara-acara lainnya. Punya impact yang cukup luas dengan effort yg efektif,” ujar Averous.

Lebih lanjut lagi, RSUI mendaulat ajang Equal Fun Run sebagai bentuk deklarasi RSUI menjadi pusat pelayanan difabel pertama di Jawa Barat. Pengadaan pusat pelayanan ini berangkat dari besarnya angka kalangan difabel di Jawa Barat yang berbanding terbalik dengan angka pusat pelayanan difabel yang tersedia. Dengan melibatkan potensi besar sivitas akademika yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung dengan RSUI, diharapkan pusat pelayanan ini dapat membantu kalangan difabel untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

“Di Indonesia itu kan pusat pelayanan difabel itu minimal sekali (keberadaannya –red), di Jawa Barat hampir gak ada (pusat pelayanan difabel –red). Mau gak UI jadi pusat difabel, karena kalo jumlah penduduk Jawa Barat itu 45 juta, kira-kira kalo 4% nya kan besar, kira-kira 1 juta orang difabel yang membutuhkan bantuan kita (RSUI –red). Bantuan kita artinya dari sisi…kita sebagai tenaga pelayanan kesehatan rumah sakit (harus mampu –red) menciptakan suatu teknologi yang internasional standarnya dan dengan bahan yang murah. Jadi terjangkau untuk masyarakat menengah ke bawah,” jelas Julianto.

Lebih lanjut, Julianto menjelaskan tujuan dibukanya pusat pelayanan difabel di RSUI adalah demi meningkatkan kemampuan para difabel dengan memudahkan aksesibilitas mereka terhadap alat-alat peraga yang murah agar mampu kembali bergerak lincah. Hal ini juga terkait dengan kesepakatan yang dicapai Bappenas bahwa pada tahun 2020 hingga 2024 adalah tahun-tahun yang akan difokuskan untuk menguatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia.

 

Teks: Nurul Istikomah

Foto: Rezkita G. A. Suhendar

Editor: Grace Elizabeth Kristiani

 

Pers Suara Mahasiswa UI 2019

Independen, lugas, dan berkualitas!

Komentar



Berita Terkait

Menyelisik Kisah Dibalik Kemenangan Syamsuri Firdaus dalam Ajang MTQ Internasional di Turki
Rektor UI Putuskan Kenaikan Biaya Pendidikan Tanpa Libatkan Mahasiswa
Aksi Untuk Negeri Angkat Kemanusiaan Sebelum Kekuasaan
BOP Dari Tahun ke Tahun