Faktor Kebiasaan Bukan Penyebab Skoliosis

Wednesday, 10 December 14 | 01:58 WIB

Ditemukan lebih dari 100 ribu tautan jika kita mengetikkan kata “skoliosis” di mesin pencari Google. Sayangnya, tidak banyak orang yang mengetahui tentang hal ini. Kata skoliosis memang masih asing di telinga khalayak umum. Masalah kelainan tulang belakang ini lebih sering terjadi pada kaum wanita daripada kaum pria, sekitar empat hingga lima persen dari seluruh populasi wanita di dunia mengalaminya.

Ditemui di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Rabu (4/12/2014) Dr. dr. Rahyussalim, Sp.OT, Koordinator Pelayanan Masyarakat Divisi Orthopaedi Tulang Belakang menyatakan bahwa definisi sederhana dari skoliosis adalah kelainan tulang belakang yang bengkok ke kiri atau ke kanan dengan derajat kemiringan di atas 10 derajat.

Menurutnya, beberapa faktor penyebab skoliosis, diantaranya bersifat bawaan (kongenital), pengendalian otot yang buruk atau kelemahan otot (neuromuskuler), dan idiopatik (tidak diketahui penyebabnya). Idiopatik skoliosis termasuk ke dalam developmental disease, yang artinya skoliosis ini tidak muncul secara tiba-tiba, tapi karena perkembangan.

“Orang yang sejak lahir awalnya mempunyai tulang belakang yang lurus, di dalam perkembangan tubuhnya, tulang belakangnya itu bisa bengkok,” kata pria yang akrab dipanggil Salim itu.

Selain itu, Salim juga mengungkapkan, selama ini masyarakat keliru menganggap penyebab skoliosis adalah kebiasaan buruk yang sering dilakukan si penderita. Kebiasaan seperti, posisi duduk yang salah, terlalu sering membawa tas punggung dengan beban berlebih dan sering memakai tas di salah satu bahu, menurutnya secara medis tak berpengaruh.

“Skoliosis tidak akan bisa dipicu oleh suatu aktivitas. Ini yang harus diclear kan, karena ini dimanfaatkan oleh farmasi, tukang jual obat, dan segala macamnya. Yang berobat dan yang mengobati sama-sama tidak mengerti apa itu skoliosis. Bagaimana kita memandang penyakit ini, harus diluruskan,” ujarnya.

Persepsi bahwa skoliosis disebabkan oleh kebiasan-kebiasaan buruk juga sudah menyebar di kalangan mahasiswa UI. Hal ini terbukti dengan wawancara yang dilakukan oleh Suara Mahasiswa bahwa hanya dua dari lima mahasiswa yang mengetahui betul penyebab skoliosis.

Salah satu penderita skoliosis adalah Nabila, Mahasiswi Program Vokasi UI. Ia mengaku telah ditetapkan mengidap skoliosis sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) tingkat akhir.

“Awalnya sih teman aku yang kasih tau. Katanya cara berjalanku kok berbeda, terus bahu sebelah kanan dan kiri juga enggak sejajar gitu. Temanku kemudian nyaranin buat periksa ke dokter. Eh, setelah diperiksa ternyata aku kena skoliosis”, jelasnya saat ditemui Kamis, (4/12).

Mahasiswi pengidap skoliosis dengan kemiringan 45 derajat itu membenarkan pernyataan dr. Salim, bahwa penyebab dari kelainan yang dideritanya bukan karena kebiasaan-kebiasaan buruk. Nabila menjelaskan bahwa ia termasuk penderita skoliosis yang tidak diketahui penyebabnya (idiopatik). Aktivitas-aktivitasnya selama ini tidak terlalu berpengaruh pada kondisinya. Keluhannya hanya lebih mudah lelah, tapi segera bisa diatasi dengan istirahat sejenak.

Tak bisa “sembuh”

Untuk menangani skoliosis ada beberapa cara yang bisa ditempuh, seperti fisioterapi atau dengan cara yang paling cepat yakni operasi. Meski begitu, Salim menekankan, penderita harus mengubah penafsiran “sembuh” dalam kasus skoliosis.

“Bicara soal penanganan skoliosis, harus selalu dikaitkan lagi dengan apa yang mau kita capai. Menurut saya tidak ada terminologi sembuh dalam skoliosis, karena pengertian sembuh kan berarti tidak ada bengkok lagi. Sementara tulang belakang kita memang tidak diciptakan lurus seperti tabung. Ini yang perlu digaris bawahi,” jelas Salim ketika ditanya cara penanganan skoliosis.

Salim menganalogikan cara penanganan skoliosis seperti cara yang kita pakai untuk pergi dari Jakarta ke Surabaya. Untuk mencapai Surabaya modalitas yang kita gunakan bisa jalan kaki, mobil, motor, kereta, pesawat. Sama halnya seperti skoliosis, modalitas yang digunakan bisa hanya diurut dan pijat, penggunaan alat penyangga (brace), sampai ke operasi.

“Jika ditanya modalitas apa yang bisa digunakan untuk mencapai Surabaya dalam waktu kurang dari 24 jam, jawabnya hanyalah pesawat. Kembali ke skoliosis, cara yang paling optimal meluruskan tulang belakang dari bengkoknya adalah operasi. Karena tidak mungkin orang berjalan kaki dan sampai ke Surabaya nanti sore, sama halnya tidak mungkin seseorang hanya diurut-urut untuk meluruskan tulang belakang dengan kemiringan 90 derajat,” tutur Salim.

Pada kasus Nabila, sejak tahun 2010 hingga sekarang, dalam usaha mengembalikan posisi tulang belakangnya, Nabila menggunakan pengobatan fisioterapi dengan menggunakan alat penyangga. Nabila juga merasa bahwa fisioterapi adalah cara yang baik untuk membantu menormalkan kelainannya karena fisioterapi merupakan cara alami dengan sedikit resiko.

Seperti yang dikatakan Salim, cara untuk menangani skoliosis tergantung dari apa yang mau dicapai pasien. Nabila memilih memakai brace dan ia pun juga tahu bahwa proses hingga mencapai koreksi normal atau di bawah 10% relatif lebih lama. Namun ia merasakan manfaat penggunaan brace ini. “Ya, alhamdulillah. Sekarang posisi tulangku sudah cukup membaik,” ungkap Nabila.

Kirana Aisyah | Susi Ambarwati
Ilustrasi: tempo.co

Komentar



Berita Terkait

Tim UI Raih Medali Emas di Kompetisi Rekayasa Genetik Internasional
Sejumlah Ahli Dukung Kasus Kekerasan Seksual Terhadap RW Sampai ke Pengadilan
BKKBN : Pendewasaan Usia Pernikahan Penting untuk Kesehatan Ibu dan Balita
Karena Penderita Kusta Tak Boleh Didiskriminasi