Festival Bahasa Isyarat

Wednesday, 02 January 19 | 02:06 WIB

Festival Bahasa Isyarat merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan Dies Natalis ke-78 Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) 2018 yang diselenggarakan oleh Laboratorium Riset Bahasa Isyarat (LRBS) Departemen Linguistik FIB UI sebagai bentuk diseminasi dan penguatan gaung bahasa isyarat pada sivitas akademika. Festival ini bertujuan untuk menyosialisasikan dan mengapresiasi pegiat bahasa isyarat yang memperjuangkan bahasa isyarat Indonesia (Bisindo) dalam segala bidang, baik dari segi akademis maupun praktik kebahasaan. Terdapat 4 acara inti dalam Festival Bahasa Isyarat yang telah dilaksanakan (6/12).

Pertama ialah kegiatan orasi ilmiah oleh Dr. F.X. Rahyono selaku Ketua Departemen Linguistik FIB UI, dilanjutkan oleh Galuh Sukmara Soejanto, M.A sebagai orator tuli yang juga merupakan pendiri sekolah bilingual The Little Hijabi di Bekasi.

Acara kedua yaitu Gelar Wicara oleh para pegiat bahasa isyarat dalam segala bidang seperti bidang kesehatan oleh drg. Mohammad Hamzah Carlo Ortega sebagai dokter gigi yang dapat berbahasa isyarat guna melayani pasien tuli, bidang kesenian oleh Gustian Hafidh Mahendra selaku pilot Deaf Art Community (DAC) Yogyakarta, bidang pendidikan oleh Barbara Wijayanti sebagai guru tuli di salah satu sekolah luar biasa di Jakarta, dan bidang bisnis oleh Erwinsyah selaku salah satu dari pemilik bisnis Kopi Tuli (Koptul).

Acara ketiga adalah pertunjukan drama, puisi, dan lagu yang diperagakan melalui bahasa isyarat oleh DAC Yogyakarta, PopJoy Sign, dan Teater7 dari Jakarta. Selain itu, mahasiswa dengar yang sedang mengambil mata kuliah Kemahiran Bahasa Isyarat di FIB UI pun ikut serta menampilkan pertunjukan kepada hadirin. Selanjutnya acara keempat ialah bazar yang diisi oleh komunitas dan organisasi yang bergerak di ranah tuli dan bahasa isyarat untuk menunjukkan dan menjual hasil produk mereka.

Silva Tenrisara Pertiwi Isma selaku Dosen FIB UI sekaligus Pembicara saat sesi Konferensi Pers mengaku bahwa ia cukup terkejut karena melihat ruangan yang cukup penuh oleh hadirin Festival Bahasa Isyarat dan bersyukur karena merasa gaung tentang festival ini cukup besar, “Yang paling penting juga nampaknya cukup banyak orang tua yang punya anak tuli yang datang ke acara ini dan justru itulah yang menjadi salah satu tujuan usaha kami yaitu menyadarkan orang tua dengan anak tuli tentang pentingnya bahasa isyarat sebagai bahasa ibu anak-anak tuli,” jelas Silva. Ia juga menyatakan bahwa dengan digunakannya bahasa isyarat sebagai bahasa pertama, maka mereka akan dapat mengakses informasi dan pengetahuan secara penuh sejak dini karena komunikasi dan sekolah pertama untuk anak-anak adalah orang tua.

Salah satu pengisi acara festival bahasa isyarat yang menampilkan balet saat teater bernama Nada (13) dengan keterbatasan pendengaran. Ia menyampaikan bahwa dirinya senang dan bangga karena bertemu dengan banyak teman baru, beberapa diantaranya ialah Caca dan Abram.

Erni selaku Ibu dari Nada mengatakan bahwa dalam komunikasi sehari-hari dengan Nada masih dengan verbal, bahasa isyarat hanya dilakukan saat Erni tetap tidak mengerti apa yang dikatakan Nada. Menurut Erni, festival ini diselenggarakan dengan baik karena dapat menyadarkannya dalam penggunaan bahasa isyarat. Sebelumnya ia menganggap bahwa bahasa isyarat hanyalah bahasa bantuan saja, padahal sangat diperlukan supaya kaum tuli dapat terus mengembangkan potensi dirinya. Ia berharap bahasa isyarat dapat lebih berkembang bukan hanya orang tuli, namun juga orang dengar supaya mereka dapat berkomunikasi lebih luas lagi dan ada timbal balik antara orang dengar dan orang tuli.

Bella Nera selaku Mahasiswa FISIP UI yang hadir di Festival Bahasa Isyarat memiliki harapan kepada semua orang untuk dapat berbahasa isyarat supaya komunikasi antar manusia dapat terus dilakukan meskipun tanpa verbal. “Kalo kita gak ngerti bahasa isyarat gimana caranya kita bisa ngomong sama mereka. Padahal mereka kan juga bagian dari kita. Sama sama warga negara juga gitu,” ujar Bella.

Hadirin yang datang pada Festival Bahasa Isyarat bukan hanya mahasiswa, namun juga siswa sekolah salah satunya Muhammad Irham dari SMAN 8 Jakarta. Ia datang bersama temannya sepulang sekolah karena merasa tertarik dengan festival ini. Irham pun merasa minatnya dalam belajar bahasa isyarat menjadi sangat tinggi, “Semoga pemerintah bisa membuat bahasa isyarat itu jadi kurikulum nasional jadi kita bisa belajar dari kecil,” harapnya.

Teks: Ajeng Riski Anugrah

Foto: Maharani (FIA UI 2017)

Editor: Kezia Estha T.

Pers Suara Mahasiswa UI 2018

Independen, lugas, dan berkualitas!

Komentar



Berita Terkait

FSLDK Jadebek Desak Pemprov dan DPRD DKI Jual Saham Miras
Pagelaran Budaya Sulsel, Sapa Makara Art Center
Equal Fun Run: Titik Awal RSUI sebagai Pusat Pelayanan Difabel Pertama di Jawa Barat
Korban Revenge Porn Belum Terlindung Payung Hukum yang Tepat