Gendut dan Melelahkan

Wednesday, 13 April 16 | 08:29 WIB

Judul           : My Big Fat Greek Wedding 2

Sutradara   : Kirk Jones

Pemeran     : Nia Vardalos, John Corbett, Lainie Kazan, Michael  Constantine, Andrea Martin, Elena Kampouris

Genre          : Drama/Roman/Comedi

Tahun Rilis : 2016

Dalam film My Big Fat Greek Wedding 2, kompleksitas kepentingan pribadi masing-masing anggota keluarga sebagai penyusun plot dijadikan strategi. Namun, lelucon yang dilontarkan pemain andalan pun ternyata kurang mumpuni. Akibatnya, penonton dipaksa berlogika sendiri.

Setelah ditutup dengan kemenangan kisah cinta Toula Portakalos (Nia Valdalos) dan Ian Miller (John Corbett) pada sekuel pertamanya, fokus masalah kehidupan keluarga-keluarga imigran Yunani klan Portokalos yang sangat priomordial di film yang berdurasi 90 menit ini pun berubah menjadi ajang pencarian pacar untuk Paris Miller, putri Toula dan Ian (Elena Kompouris).

Namun, seiring film berjalan, fokus masalah tersebut menjadi kabur akibat munculnya beberapa masalah, mulai dari kehidupan pribadi Toula yang melelahkan, gagalnya kencan pertama Toula dan Ian, dilema besar yang diraskan Paris dalam menentukan tempat berkuliah, kisah cinta dua orang homoseksual dalam satu keluarga besar secara diam-diam, hingga masalah klaim keturunan Alexander The Greats.

Semua masalah itu disatukan dalam pernikahan ulang orang tua dari tokoh Toula, Gus Portakalos (Michael Constantine), dan Maria Portakalos (Leine Kazan) yang melibatkan banyak keluarga dari klan Portakalos di sekitarnya.

Sementara masalah pernikahan ulang Gus dan Maria menjadi babak besar yang menyibukkan seluruh keluarga besar, tokoh bibi Voula (Andrea Martin) muncul sebagai sosok scene stealer yang over sharing hingga akhir film. Akibatnya, karakteristik dan interaksi antartokoh lain menjadi kurang menonjol.

Plot pengisi yang dipilih oleh sutradara Kirk Jones dan penulis, Nia Vardalos, yang sekaligus bermain sebagai tokoh protagonis dalam dua filmnya sendiri ini, tampak terlalu menggampangkan korelasi penyelesain masalah yang diusung dengan kedekatan lokasi-lokasi tempat tinggal keluarga Portakalos.

Hal itu terlihat pada saat berubahnya sejumlah aktor pendukung menjadi bala bantuan dan sekaligus tim hore yang terlalu sering berpindah dari satu tempat kejadian perkara ke tempat kejadian perkara lainnya secara bergerombol. Kejadian tersebut niatnya dirancang untuk mempersingkat penjelasan setiap penyelesaian masalah dengan singkat, namun, justru terkesan mengerdilkan keistimewaan dari setiap masalah yang diusung.

Strategi penempatan lelucon berbau etnis andalan yang juga digunakan dalam sekuel pertama pun demikian terbaca dan melelahkan. Hal itu disebabkan karena terlalu melembeknya porsi penyampaian lelucon lewat penuturan, dibandingkan lelucon lewat gestur dan dinamika lingkungan.

Disamping itu, tempo penempatan setup-premis dan punch-premis film ini pun bocor bukan kepalang, sehingga lelucon-lelucon yang tersajikan lama-lama rasanya makin menurun, dan bahkan membuat unsur drama dalam film ini mengalami banyak kekeringan.

Bonny Nur

Gambar: Imdb.com

Editor: Frista Nanda Pratiwi

Komentar



Berita Terkait