Hewanku Sayang, Hewanku Malang: Kontroversi di Balik Penertiban Hewan di UI

Thursday, 04 July 19 | 06:39 WIB

Kamis (27/06) menjadi hari kelam bagi pencinta hewan di Universitas Indonesia. Tanpa pemberitahuan apa pun, petugas K3L (Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan) UI melakukan penertiban terhadap hewan-hewan di UI, khususnya kucing-kucing di FIB dan anjing-anjing yang ada di gedung Pimpro. Hewan-hewan tersebut ditangkap lalu dipindahkan ke shelter hewan di Ragunan, Jakarta Selatan. Tindakan ini menuai kecaman dari berbagai pihak di UI, terutama dari komunitas-komunitas pencinta hewan.

“Sakit hati iya, terus habis itu kecewa iya. Itu perjuangan kita gitu loh, duit kita. Kita yang usaha sendiri, kita yang jungkir balik,” sesal Chao, mahasiswa dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya.

Sebagai ketua dari Sastra Kucing, komunitas pencinta kucing di FIB, Chao sangat menyesalkan penertiban kucing-kucing di fakultasnya. Pasalnya, tidak sedikit usaha yang dilakukan oleh komunitas yang berdiri pada 2018 tersebut untuk merawat kucing-kucing di FIB. Mulai dari pemberian makan, vaksinasi, hingga sterilisasi.

Ia mengaku maklum jika memang ada keluhan mengenai keberadaan kucing di lingkungan kampus, karena memang tidak semua orang menyukai kucing. Namun, Sastra Kucing mempertanyakan kenapa penertiban dan penangkapan dilakukan secara sepihak dan secara tiba-tiba tanpa berkoordinasi dengan mahasiswa sedikit pun. Chao juga menambahkan jika keberadaan kucing-kucing tersebut bermanfaat sebagai pelepas penat bagi mahasiswa.

“Kemarin tuh ya dampaknya pas habis banyak yg nge-share (tentang penangkapan –red) di Instagram, itu di luar komunitas aja banyak yang sedih. Banyak yang kirim respect gitu lah. Terus banyak yang story habis ujian penat nggak ada yang bisa dimainin lagi, penenang buat psikologis gitu lah. Jadi kita butuh gitu loh.”

Ghina Khairunnisa, mahasiswi FIB sekaligus ketua divisi kesehatan Sastra Kucing, membandingkannya dengan keadaan kucing di Fakultas Psikologi yang menurutnya kucing di sana dibiarkan karena dianggap berpengaruh positif terhadap keadaan psikis mahasiswa.

“Kucingnya memang dirawat sama dosen-dosen di sana karena emang ada efek secara psikologinya gitu, baik untuk mahasiswanya. Nah kenapa FIB nggak bisa kayak gitu juga gitu.”

Dipindahkan ke Ragunan

Perasaan yang sama dirasakan oleh Tyas, salah satu anggota Petify.id. Berbeda dengan Sastra Kucing yang menaruh perhatian pada kucing di FIB saja, Petify.id merupakan komunitas pencinta hewan yang menaungi semua jenis hewan, terutama anjing dan kucing. Lingkupnya pun tidak terbatas di satu fakultas saja, melainkan di seluruh UI.

Tyas merasa kecewa dengan penangkapan beberapa ekor anjing di gedung Pimpro yang terletak di samping Pusat Kegiatan Mahasiswa (Pusgiwa) UI. Meskipun kini telah merupakan alumni, Tyas mengatakan jika dia telah merawat anjing-anjing tersebut sejak ia masih menjadi seorang mahasiswi. Saat anjing-anjing tersebut ditangkap, ia menyatakan baru mengetahui kejadian tersebut dari Pak Rian, petugas yang sering menjaga anjing-anjing di Pimpro.

“Gue dikontak Pak Rian juga telat karena pas gue dikontak Pak Rian itu, K3L-nya udah jalan, udah nangkep-nangkepin (anjingnya –red). Terus abis itu gue kebetulan abis nge-share ke grup terus abis itu gue buka WA yang isi dosen-dosen itu baru bilang, di FIB ada penertiban. Udah tuh gue langsung buka wechat, wa, line buat “wey anak kita gimana”. Dan itu pas liburan, licik banget.”

Tyas mengakui jika memang banyak orang yang tidak menyukai anjing. Tapi ia juga sangat menyesalkan keputusan K3L melakukan penangkapan tanpa memberitahunya terlebih dulu. Menurutnya, jika memang anjing-anjing tersebut mengganggu, ia bisa membantu proses pemindahan hewan-hewan tersebut.

“Karena misal nih, mereka koordinasi sama kita, kita bakalan cariin shelter-shelter yang trusted. Shelter-shelter yang bagus. Dan kita pisahin nih mana anjing yang udah vaksin, yang udah steril, mana anjing yang belum. Kita bisa carikan adopter atau apa.”

Ia menganggap keputusan untuk membawa hewan-hewan tersebut ke shelter penampungan hewan Ragunan sebagai langkah keliru.

“Ragunan itu track record-nya jelek banget. Lu kalau udah tahu dunia-dunia penampungan tuh isinya udah busuk semua. Antara satu, dikasih waktu satu bulan terus habis itu disuntik mati. Yang kedua adalah, ini yang gua dengar dari orang yang sudah tahu; dijual ke lapo (restoran yang menjual daging anjing –red).”

Untungnya, kabar dari kucing dan anjing ini tidak semuanya buruk. Semua kucing FIB yang ditangkap kini sudah diadopsi dan kini memiliki rumah baru. Anjing-anjing Pimpro yang ditangkap pun sebagian sudah ada yang diadopsi, sementara sebagian lainnya yang tidak berhasil ditangkap juga sudah ada yang berminat untuk mengadopsi.

Selain itu, dari pihak BEM UI khususnya Departemen Lingkungan Hidup mengutarakan bahwa akan diadakannya audiensi yang mempertemukan pihak K3L UI dengan komunitas pecinta hewan UI, “Kalo dari DLH BEM UI 2019 yang punya andil dalam penyikapan isu ini lagi koordinasi sih sama Kak Tyas dari komunitas Petify untuk cari jalan tengah dengan adain audiensi ke pihak UI yang sampe saat ini dalam tahap perencanaan,” ujar Achmad Fachri. Adapun audiensi tersebut rencananya akan dilaksanakan pada Kamis (4/7) yang masih menunggu respon dari pihak K3L UI. Harapannya bahwa dengan adanya audiensi ini dapat menemukan jalan tengah agar kedepannya bisa berkoordinasi antara kedua belah pihak, “Jalan tengah yang dimaksud untuk pihak UI kedepannya ada koordinasi/pemberitahuan kepada komunitas pecinta hewan untuk penangkapan anjing dan kucing dan lainnya yang mungkin nanti disepakati bersama.”

Komentar



Berita Terkait

Dibalik Kebijakan Secure Parking Kampus UI
Pemilihan Rektor UI 2019: MWA UI UM dan BEM UI Tanggapi Animo Mahasiswa yang Masih Kurang
Kampung Digital : Program Melek Teknologi di Masyarakat
Perubahan KAMABA 2019