Implementasi Kemampuan Hard Skill, Soft Skill, dan Entrepreneurship Mahasiswa dalam Menghadapi AEC

Thursday, 06 November 14 | 05:16 WIB

Oleh Akhmat Fauzi

Keberhasilan Uni Eropa menciptakan suatu kawasan tunggal yang saling terintegrasi telah mengilhami negara-negara anggota ASEAN untuk melakukan hal yang sama dengan mewujudkan Asean Economic Community (AEC) pada tahun 2015. Tujuannya adalah untuk membuat ASEAN sebagai satu wilayah dimana barang, jasa, investasi, tenaga kerja ahli dan aliran modal dapat lalu lalang secara bebas. Adanya integrasi wilayah ASEAN akan meningkatkan pergerakan tenaga kerja profesional antar negara ASEAN. Tidak ada lagi hambatan yang dibuat oleh suatu negara dalam merekrut tenaga kerja asing. Warga negara ASEAN yang terlibat langsung dalam AEC mempunyai hak melamar kerja secara langsung ke negara ASEAN lainnya dengan mudah.

Terbukanya peluang tenaga kerja asing untuk mengisi berbagai jabatan dan profesi di Indonesia dirasa akan membawa malapetaka bagi mahasiswa Indonesia yang akan lulus. Pasalnya, persaingan tenaga kerja akan semakin meningkat. Pelamar kerja berkewarganegaraan Indonesia tidak lagi akan bersaing dengan pelamar kerja dari negaranya sendiri, namun juga pelamar kerja dari negara ASEAN lainnya. Permasalahannya adalah mampuhkah sarjana perguruan tinggi Indonesia bersaing dengan sarjana perguruan negara lain.

Menurut Direktur Akademik Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Dr. Illah Sailah seperti dikutip kesekolah.com, sarjana Indonesia memiliki sifat yang kurang menguntungkan perusahaan. Hasil penelitian yang dia lakukan pada tahun 2009 menunjukkan bahwa lulusan perguruan tinggi cenderung memiliki karakter cepat bosan, bermental lemah, tidak dapat membina kerja sama dan tidak memiliki integritas. Banyak sarjana yang tidak tahan menghadapi dunia kerja. Mereka yang menandatangani kontrak kerja dua tahun, berhenti enam bulan kemudian. Meskipun begitu, bukan berarti semua kualitas mahasiswa rendah, hanya saja jumlah mereka tidak cukup banyak.

Bagi mahasiswa yang memiliki kemampuan lebih, jelas nanti akan memanfaatkan peluang AEC 2015 sebaik-baiknya untuk mencari pekerjaan. Mereka mungkin tidak akan memilih bekerja di dalam negeri. Apalagi jika melihat upah minimum kerja di setiap negara ASEAN, kemungkinan banyak lulusan terbaik asal Indonesia lebih memilih mencari pekerjaan di Singapura atau Malaysia. Kedua negara tersebut menjanjikan pendapatan lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Sayangnya, persaingan di negara tersebut jelas sangat ketat. Apalagi jika mengingat bahwa sarjana-sarjana dari Malaysia dan Singapura merupakan lulusan dari universitas yang lebih baik dari Indonesia. Hampir semua universitas di Singapura dan Malaysia adalah universitas berstandar Internasional.  Misalnya, National University of Singapore (NUS) yang tahun ini dinobatkan lembaga pendidikan dari Inggris, Quacquarelli Symonds (QS), sebagai universitas terbaik di Asia.

Selain persaingan yang ketat, banyak peraturan yang masih dibuat negara yang dituju untuk melindungi tenaga kerja dari negaranya sendiri. Masing-masing negara memiliki lembaga sendiri yang memberikan lisensi bagi pencari kerja profesional dengan peraturan  dan  persyaratan  yang berbeda-beda. Misalnya, sarjana teknik yang ingin mencari pekerjaan di Malaysia dan Singapura akan mengalami kesulitan akibat nomenklatur-nomenklatur yang berbeda. Dibandingkan Indonesia yang memiliki banyak nomenklatur, Singapura hanya  mengatur tiga bidang keinsinyuran saja, yakni teknik sipil, teknik elektro, dan teknik  mesin.

Sementara itu, di Thailand dan Malaysia juga mempunyai nomenklatur yang berbeda dalam pengaturan bidang keinsinyuran. Jika ada insinyur Indonesia, seperti sarjana teknik kimia yang ingin bekerja di Singapura maka orang tersebut akan masuk ke dalam teknik  sipil. Ia harus mengambil tes yang disyaratkan oleh otoritas di Singapura agar kompetensi  insinyur  teknik kimia ini sesuai  dengan  kompetensi  insinyur  bidang  teknik  sipil. Dapat dikatakan bahwa hanya lulusan-lulusan terbaik yang mampu bekerja di sana.

Seandainya banyak putra-putri terbaik bangsa berhasil bekerja di negara maju seperti Malaysia dan Singapura, hal itu merupakan kerugian besar bagi Indonesia karena jumlah lulusan perguruan tinggi yang berkualitas sangat terbatas. Sementara itu, untuk membangun Indonesia menjadi negara maju diperlukan banyak lulusan yang berkualitas. Meskipun begitu, negara jelas tidak bisa memaksa putra-putri terbaik bangsa untuk tidak bekerja di luar negeri. Seandainya Indonesia mampu meratakan dan meningkatkan kemampuan mahasiswa seluruh Indonesia, keberadaan sumberdaya manusia berkualitas tentu bukan masalah lagi, apalagi jumlah mahasiswa di Indonesia lumayan besar.

Maka dari itu, menjawab tantangan AEC perguruan tinggi dan pemerintah perlu meratakan dan meningkatkan kemampuan mahasiswa. Setidaknya ada tiga kemampuan yang diperlukan mahasiswa sekarang, yakni kemampuan hard skill, soft skill dan entrepreneurship.

Meningkatkan kemampuan Hard Skill Mahasiswa

Dalam persaingan global, mahasiswa dituntut untuk selalu belajar meningkatkan kemampuan hard skill yang dimilikinya. Hard skill di sini bukan hanya sebatas kemampuan intelektual, namun juga keterampilan lain, seperti pemprograman. Mahasiswa benar-benar harus terus belajar. Ia bukan hanya belajar ilmu pada bidangnya saja, namun juga belajar dan mengembangkan kemampuannya yang lain. Maka dari itu, mahasiswa harus ikut kursus dan pelatihan untuk menambah kemampuannya. Kursus dan pelatihan dapat meningkatkan kemampaun intelektual dan keterampilan mahasiswa sehingga tidak kalah dari mahasiswa asing.

Untuk membantu mahasiswa dalam meningkatkan kemampuan hard skill mahasiswa, pihak kampus dan pemerintah bisa memberikan kursus dan pelatihan murah pada mahasiswa. Saat ini biaya kursus yang tinggi jelas menjadi masalah bagi mahasiswa dalam belajar. Perguruan tinggi juga perlu memberikan aturan yang melonggarkan mahasiswa dalam mengikuti kursus, seperti menyesuaikan waktu kursus dan waktu kuliah.

Meningkatkan Kemampuan Soft Skill Mahasiswa

Dunia kerja yang akan digeluti oleh alumnus perguruan tinggi tidak bisa diarungi dengan hanya mengandalkan ilmu dari perkuliahan dan indeks prestasi yang tinggi. Ada elemen yang lain yang tidak kalah penting, yakni kemampuan soft skill. Kemampuan soft skill adalah suatu kemampuan, bakat, atau keterampilan yang ada di dalam diri setiap manusia. Kemampuan tersebut bukan isapan jempol belaka. Dalam buku Lesson From The Top karya Neff dan Citrin, tersibak bahwa sebanyak 50 orang CEO dari berbagai perusahaan,dekan, dan rektor pendidikan tinggi, menyebut pentingnya memiliki keterampilan soft skill sebagai syarat sukses di dunia kerja. Beberapa orang CEO tersebut di antaranya Jack Welch (General Electric), Bill Gates (Microsoft), Andy Grove (Intel),dan Michael Dell (Dell).

Soft skill dapat dikatagorikan menjadi kehidupan sosial, komunikasi, tutur bahasa, kebiasan, keramahan dan optimasi. Untuk mendapatkan keahlian-keahlian tersebut, mahasiswa harus mempunyai minat terhadap organisasi serta aktif di dalamnya. Organisasi merupakan sebuah wadah bagi sekelompok orang yang mempunyai tujuan yang sama. Di dalam organisasi, seseorang dapat mengembangkan kemampuan mereka dalam berkomunikasi, bekerja sama dan mengambil keputusan melalui sebuah pemecahan masalah untuk mencapai tujuan bersama. Namun dari survei dan pengamatan yang penulis lakukan, ternyata masih banyak mahasiswa yang kurang menyadari pentingnya organisasi untuk diri mereka. Masih banyak mahasiswa yang bepikir bahwa organisasi dapat memperlama masa kuliah mereka dan mengganggu kuliah mereka.

Universitas perlu berupaya mengembangkan soft skill mahasiswa sebelum mereka lulus dan terjun ke dunia masyarakat. Maka dari itu, setiap universitas Indonesia perlu mewajibkan mahasiswa ikut organisasi. Hal ini sangat penting mengingat sampai saat ini tidak banyak kampus yang mewajibkan mahasiswanya untuk mengikuti organisasi. Jika wajib sekali pun, mahasiswa hanya mengikuti organisasi pada masa awal kuliah. Setelah itu, tidak ada keberlanjutan dari mahasiswa untuk meneruskan organisasi kampus.

Oleh karena itu, mewajibkan mahasiswa bergelut dalam organisasi saja tidak cukup, perlu dilakukan pengawasan selanjutnya seperti mengukur keaktifan organisasi mahasiswa. Kampus bisa memasukkan keaktifan organisasi dalam penilaian kelulusan sehingga lebih menarik mahasiswa untuk aktif berorganisasi.

Membekali Mahasiswa dengan Kemampuan Entrepreneurship

Indonesia saat ini membutuhkan generasi muda yang mempunyai jiwa entrepreneur atau wirausaha. Tentu akan disayang jika lulusan perguruan tinggi hanya memanfaatkan momentum AEC untuk mencari pekerjaan. Banyak peluang di sekitar mahasiswa yang bisa dimanfaatkan. Misalnya, dalam dunia pertanian, negara kita masih kekurangan pasokan produk pertanian, seperti kedelai. Hal itu bisa menjadi prospek besar bagi mahasiswa apabila bersedia mengelolanya. Mahasiswa bisa terjun langsung dalam dunia agrobisnis untuk mengoptimalkan sumberdaya alam Indonesia.

Persaingan entrepreneur di Indonesia tidak seberapa. Jumlah entrepreneur  di Indonesia masih tergolong sedikit. Rasio entrepreneur  terhadap jumlah penduduk tercatat hanya sebesar 1,6% atau sekitar 3,9 juta dari total 240 juta penduduk Indonesia. Jumlah tersebut lebih sedikit dari Singapura dan Malaysia, yang jumlah penduduknya tidak sebanyak Indonesia. Jumlah entrepreneur di Singapura dan Malaysia sudah di atas 4%. Masyarakat Indonesia lebih suka mengkonsumsi produk daripada menghasilkan produk. Menurut data Bank Dunia seperti dikutip setkab.go.id, rata-rata masyarakat Indonesia mampu mengeluarkan uang antara US$ 2 hingga US$ 20 dollar per hari hanya untuk berbelanja. Dengan kata lain, persaingan yang minim dan sifat konsumerisme bangsa ini akan dapat menguntungkan kita jika menjadi entrepreneur. Apalagi jika pintu AEC 2014 terbuka, bisnis akan semakin besar, produk kita akan lebih mudah masuk ke negara ASEAN lainnya.

Untuk mengoptimalkan peran mahasiswa dalam dunia wirausaha, pemerintah perlu memberikan fasilitas kepada mahasiswa yang mempunyai minat dan bakat kewirausahaan untuk memulai berwirausaha dengan basis ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang dipelajarinya. Fasilitas yang diberikan bisa berupa pelatihan kewirausahaan. Pelatihan kewirausahaan dapat meningkatkan kemampuan dan pemahaman mahasiswa tentang kewirausahaan, proses pembelajaran kewirausahaan dan pelaksanaannya diperguruan tinggi, serta proses penciptaan bisnis baru.

Dengan adanya pelatihan ini, mahasiswa mampu membuka kegiatan pembelajaran kewirausahaan secara berkesinambungan di perguruan tinggi masing-masing, hingga mampu mengembangkan lebih lanjut. Selain pelatihan, pemerintah melalui UKM (Usaha Kecil dan Menengah) bisa memberikan bimbingan praktisi wirausaha.

Pemerintah juga perlu memberikan dukungan permodalan bagi mahasiswa yang ingin berwirausaha. Sebenarnya sudah ada program bantuan dana yang diberikan pemerintah kepada mahasiswa, seperti PMW (Program Mahasiswa Wirausaha). Sayangnya, bantuan tersebut tidak mampu dimanfaatkan mahasiswa secara optimal akibat kendala teknis yang rumit. Persyaratan program bantuan terkendala oleh aturan yang dibuat pemerintah. Produk yang dibuat mahasiswa harus benar-benar inovatif untuk mendapat pinjaman dana pemerintah. Padahal dalam memulai bisnis, hal paling penting adalah dari keseriusan dari mahasiswa dan kemampuan mahasiswa memasarkan produk serta kemampuan mahasiswa melihat peluang pasar.

Selain itu, modal yang diberikan juga harus dikembalikan. Hal ini jelas menjadi momok menakutkan bagi mahasiswa dalam meminta bantuan dana pemerintah. Pemerintah seyogyanya tidak meminta kembalian modal hingga 100%, bahkan jika perlu memberikan bantuan dana tanpa kembalian. Oleh karena itu, pemerintah perlu melonggarkan berbagai aturan bantuan dana bagi mahasiswa yang ingin memulai bisnis.

Hal yang tidak kalah penting adalah melebarkan forum asosiasi kewirausahaan perguruan tinggi ke seluruh Indonesia. Asosiasi kewirausahaan mahasiswa umumnya hanya berada di kota-kota besar. Padahal asosiasi kewirausahaan sangat penting dalam membantu mahasiswa berwirausaha. Adanya asosiasi entrepreneur bisa menyebarkan virus kewirausahaan kepada mahasiswa secara luas. Sehingga pola pikir mengubah rongsokan menjadi uang akan tertanam betul dalam jiwa setiap mahasiswa. Jika jiwa entrepreneurship muncul maka cita-cita masa depan menjadikan bangsa ini mandiri akan segera terwujud.

Oleh karena itu, pemerintah bekerja sama dengan universitas dan perkumpulan entrepreneur muda seperti AIESEC (Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales) bisa membangun organisasi kewirausahaan di kampus-kampus Indonesia.

Komentar



Berita Terkait

Pemerintah Rencanakan Susun Kamus Bahasa Isyarat Terbaru
MEA 2015: Ajang Kompetisi Kualitas Tenaga Kerja
Persepsi Keliru Soal MEA 2015
Standardisasi Tenaga Kerja Terampil Indonesia Menuju AEC 2015