Inilah Alasan Mengapa Manusia Menyukai Musik

Friday, 06 May 16 | 08:46 WIB

Perspektif evolusi tidak memberikan penjelasan yang masuk akal tentang mengapa musik bisa memberikan sentuhan emosional pada manusia.

Terlepas dari banyaknya pihak yang membahas hal sebaliknya, namun pada kenyataannya, musik tidak penting untuk pertahanan hidup.

C atau C-sharp sangat jarang menjadi masalah hidup dan mati,” kata Jean-Julien Aucouturier, seorang neurosaintis yang mempelajari musik dan emosi di French Institute of Science, Paris.

“Beethoven atau Lady Gaga – baik suka atau tidak – bukanlah sesuatu yang perlu diteriaki lalu dijauhi,” ujarnya.

Perihal musik telah menjadi pertanyaan yang membingungkan bagi saintis selama beberapa dekade. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa sesuatu yang abstrak seperti musik bisa menciptakan suatu emosi yang konsisten. Ada kemungkinan bahwa kecintaan manusia pada musik hanyalah kebetulan.

Manusia sejatinya mengembangkan emosi untuk membantu melacak situasi yang berbahaya (ketakutan) dan situasi sosial (kegembiraan). Terkadang, nada dan ketukan dari komposisi musik mengaktifkan area otak yang sama.

“Bisa jadi bahwa itu datang secara kebetulan. Namun, setelah itu berkembang, hal tersebut menjadi sangat penting,” ungkap Robert Zatorre, seorang neurosaintis di MCGill University.

Otak Manusia Menyukai Pola

Riset menunjukkan, ketika manusia mendengarkan musik, otak melepaskan dopamin yang membuatnya bahagia.

Menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan di Nature Neroscience, peneliti menemukan fakta bahwa pelepasan dopamin paling tinggi terjadi ketika suatu bagian musik mencapai puncak emosional.

Saat itu, pendengar musik merasakan “chills” atau rangsangan spesifik pada tulang belakang yang menimbulkan sensasi kegembiraan dan kekaguman.

Penelitian yang dipimpin oleh Zatorre tersebut berhasil menjelaskan alasan manusia menyukai musik.

Secara khusus, otak manusia melepaskan dopamin selama melakukan aktivitas yang esensial untuk bertahan hidup, seperti kegiatan seksual dan makan.

“Musik melibatkan sistem reaksi yang sama, meskipun itu tidak penting secara biologis untuk bertahan hidup,” ujar Zatorre.

Ada satu kemungkinan bahwa reaksi tersebut merupakan fungsi dari kecintaan manusia terhadap pola. Barangkali, manusia dikembangkan dengan kemampuan mengenali pola karena itu adalah keterampilan esensial untuk bertahan hidup.

Misalnya, manusia akan mengenali pola-pola bunyi yang menandakan apakah gemerisik pohon mengindikasikan adanya hewan berbahaya yang akan menyerang, atau apakah asap menandakan manusia harus lari karena api bisa saja segera datang.

Pada kenyataannya, musik adalah suatu pola. Karena itu, selama manusia mendengar, mereka secara konstan bisa memprediksi melodi, harmoni, dan ritme seperti apa yang akan hadir selanjutnya.

“Jadi, ketika saya mendengar sebuah progresi paduan nada (chord) – satu chord, empat chord, dan lima chord – kemungkinan saya tahu bahwa selanjutnya akan datang pola satu chord, karena itu adalah prediksi,” kata Zatorre. “Itu tergantung pada pengalaman sebelumnya,” tambahnya.

Itulah mengapa, biasanya manusia tidak menyukai gaya musik yang tidak familiar di telinganya karena tidak memiliki basis untuk memprediksikan pola pada gaya musik tersebut.

Zatorre menyebutkan, musik jazz sebagai salah satu gaya musik yang sulit disukai oleh mereka yang tidak familiar dengannya. Karena itu, ketika seseorang tidak bisa memprediksi pola musik, ia akan merasa bosan.

Musik Buat otak Berpikir Tentang Sebuah Pembicaraan

Ketika seseorang mendengar suatu bagian musik, ritme yang ia dengar mengalami suatu proses entrainment. Jika musik dipercepat, detak jantung dan pola napas pendengar juga akan dipercepat untuk mencocokkan irama.

Kemudian, gairah tersebut ditafsirkan oleh otak pendengar sebagai sebuah kegembiraan. Penelitian telah menemukan bahwa semakin menyenangkan suatu musik, semakin besar level entrainment-nya.

Hipotesis lain mengungkapkan bahwa musik berhubungan dengan wilayah otak yang bertugas untuk aktivitas berbicara dan menyampaikan seluruh emosi manusia.

“Masuk akal jika otak kita sangat baik dalam memilih emosi saat berbicara,” ungkap The French Institute of Science’s Aucoturier. Hal tersebut penting untuk memahami keadaan sekeliling kita, misalnya senang, sedih, marah, atau ketakutan.

Informasi semacam itu terdapat dalam nada bicara seseorang. Sebagai contoh, semakin tinggi suara seseorang menandakannya semakin senang.

Musik juga bisa dipandang sebagai sebuah pembicaraan dalam versi yang berlebihan. Hal itu dapat kita lihat dari persamaan musik dengan sebuah pembicaraan.

Misalnya, manusia bisa mengerti bahwa suara bernada tinggi dan cepat dalam sebuah pembicaraan berkonotasi dengan kegembiraan. Hal itu selaras dengan pilihan musik yang bernada tinggi dan cepat yang juga berkonotasi dengan hal yang sama.

“Semakin bahagia suara yang saya produksi, piano atau biola atau terompet bisa membuatnya 100 kali lebih bahagia,” pungkas Aucoutorier.

Menurutnya, hal itu karena instrumen tersebut bisa memproduksi range nada yang lebih luas dibandingkan dengan suara manusia.

Seseorang cenderung menyamakan emosi ketika mendengar suara orang lain. Karena itu, jika musik menirukan nuansa pembicaraan yang bahagia, maka pendengar juga akan merasa bahagia.

Vanda Situmeang

Sumber: Vox.com

Foto : Gelombangotak.com

Editor: Nurhikmah Octaviani

Komentar



Berita Terkait