Inovasi Eksperimental LiFi, Pemanfaatan Cahaya untuk Komunikasi

Sunday, 09 July 17 | 08:44 WIB

Dilansir dari TED.com, Harald Haas, Profesor Komunikasi Selular Universitas Edinburg, mendemonstrasikan gagasannya mengenai LiFi pada tahun 2011 lalu.

Lifi merupakan cara baru dalam mentransfer data menggunakan energi cahaya yang dihasilkan oleh Light Emiting Diode (LED). Inovasi teknologi ini pun telah diakui oleh komite standardisasi IEEE sebagai teknologi kategori Komunikasi Nirkabel Optik (Optical Wireless Communications).

“Sangat mungkin untuk mengirimkan video menggunakan perantara rangkaian lampu LED standar ke panel surya dan menggunakan laptop sebagai penerimanya. Tidak perlu melibatkan WiFi sama sekali. Cukup cahaya saja,” ujar Haas.

Menanggapi hal tersebut, Abdul Muis selaku dosen di Departemen Teknik Elektro UI menyatakan bahwa LED pada LiFi mengambil peran sebagai access point, berdetak setiap nanosecond atau sepermiliyar detik.

“Umpama video yang terdiri dari kumpulan frame foto, mata manusia saja hanya bisa menangkap 20 frame per detik, bisa dibayangkan apalagi melihat detak LED LiFi, tentu gak bisa lagi”, jelasnya.

Menurutnya, ketika arus listrik konstan diberikan pada bola lampu LED, pancaran foto diemisikan secara konstan dari LED yang dapat diamati sebagai cahaya tampak. LED merupakan perangkat semi-konduktor, sehingga arus listrik dan optik yang terpancar dapat diatur pada kecepatan sangat tinggi.

Hal itu dapat dideteksi oleh perangkat foto detektor dan diubah kembali ke arus listrik. Dengan menggunakan teknik modulasi langsung, informasi kecepatan tinggi bisa ditransmisikan dari LED.

Kelebihan dan Kekurangan

Karakteristik LiFi terlihat jelas dengan penggunaan bagian cahaya tampak dari spektrum elektromagnetik untuk mengirimkan informasi pada kecepatan yang sangat tinggi ini menjadikannya lebih unggul daripada WiFi.

“Karena kecepatan cahaya itu lebih besar, maka harapannya memang terbukti juga bahwa kecepatan LiFi itu lebih tinggi,” tanggap Abdul Muis terhadap klaim positif LiFi.

Selain itu, ketiadaan efek radiasi turut menjadi nilai tambah LiFi dibanding WiFi sehingga tidak berdampak pada kemampuan fisiologis atau fungsi tubuh. Di lain hal, implikasi gelombang elektromagnetik biasa terhadap tubuh masih menjadi kontroversi.

“Contoh, banyak berita menginformasikan tentang ponsel yang merusak otak, apalagi jumlah BTS-nya (Base Transceiver Station) semakin meningkat. Secara medis, saya sih belum pernah mendengar ada berita bahwa perubahan frekuensi sinar merusak tubuh seseorang,” jelas lulusan Keio University itu.

Sebagai teknologi baru LiFi rupanya memiliki kelemahan pada kondisi instrumen atau perlengkapan yang belum lengkap. Hal tersebut terletak pada syarat penerapan LiFi, yaitu line of sight.

Komunikasi ini rentan terganggu oleh material yang menghalangi transmisi gelombang cahaya menuju detektor pada perangkat terkait.

Penyebabnya, komunikasi antarperangkat dengan dengan access point pada LiFi bersifat dua arah sehingga perangkat ini bertugas menerima frekuensi cahaya dari detakan LED LiFi dan mengirimkannya ke sinyal access point.

“Ini yang masih menjadi masalah. Misalkan, ada perangkat untuk komunikasi LiFi, berarti ada dua syarat harus dipenuhi perangkat itu, yaitu pengirim cahaya dan penerima cahaya. Proses tersebut terjadi dalam waktu yang sangat cepat sehingga hanya bisa diprogram pada perangkat tertentu,” jelas Abdul Muis.

Lebih lanjut, tambah Abdul Muis, perangkat semacam komputer mungkin bisa diakomodir untuk menerima frekuensi setara cahaya pada LED LiFi, tapi saat ini masih terlalu cepat untuk ponsel.

Tak hanya itu, keberadaan pengguna yang banyak juga melemahkan kinerja LiFi. “Akibatnya, si access point harus membagi komunikasi dengan perangkat bergiliran berdasarkan satuan waktu nanosecond tadi,” tutupnya.

 

Teks: Vanda Situmeang dan Oktaviani Satyaningtyas

Foto: Istimewa

Editor: Eri Tri Anggini

Komentar



Berita Terkait