Joki SIMAK UI: Dari Bayaran Hingga Penyesalan

Satrio Alif, Giovanni Alvita, 10 September 2020

Usai pelaksanaan ujian SIMAK UI rampung, terdapat beberapa thread di twitter yang mengungkapkan bukti kecurangan yang telah dilakukan saat mengerjakan soal SIMAK UI. Salah satu bentuk kecurangan tersebut yang sempat ramai dibicarakan adalah penggunaan joki saat mengerjakan soal ujian.

Salah satu joki tersebut adalah Rian (nama disamarkan). Kepada tim Suara Mahasiswa UI, ia mengungkapkan bahwa ia menjadi joki untuk murid les privatnya. Siswa tersebut pun kini diterima di salah satu program studi Universitas Indonesia. 

Pada mulanya ia tidak berniat membantu melakukan kecurangan ini. Namun, karena kedekatannya dengan muridnya, ditambah anggapan bahwa di luar sana juga banyak yang melakukan kecurangan, akhirnya ia memutuskan untuk menerima tawaran ini. 

Rian mengakui bahwa untuk membobol sistem SIMAK dengan menjadi joki terhitung mudah, bahkan ia heran mengapa orang-orang lain di media sosial berlebihan dalam melakukan kecurangan hingga menggunakan peralatan seperti proyektor. Ia sendiri menjelaskan kalau ia dapat membantu muridnya hanya dengan mengatur posisi kamera.

“Jadi gini, murid gue atur kamera Zoom nya, jadi keliatan pas mukanya (muridnya -red). Gue di sampingnya, speaker dimatiin, jadi nggak kedengeran pengawas, pengawas kan nggak bakal curiga kalo diem karena ya bakal ketutup sama suara dari peserta lainnya dan juga nggak bakal terdeteksi sistem karena nggak pake double device atau tab baru. Kamera diatur juga supaya kelihatan normal, gue di sampingnya, jadi masih bisa liat ke monitor. Intinya ga seribet yang di sosmed, jadi no digital print,” jelasnya.

 Di samping itu, Rian masih dapat menanyakan jawaban untuk soal SIMAK UI kepada orang lain bila ia tidak mengetahui jawabannya. Ia juga mengakui bahwa dirinya dan muridnya menyiapkan sistem untuk joki SIMAK ini hanya dalam waktu lima menit. Sebelumnya ia juga telah mempersiapkan rencana apabila peserta diminta memutar kameranya oleh pengawas untuk melihat keadaan sekitar. Namun ternyata peserta tidak diminta memperlihatkan sekelilingnya.

Terkait bayaran, Rian sama sekali tidak mematok nominal untuk jasanya menjadi joki. Motivasinya melakukan hal tersebut hanya untuk menolong murid lesnya, dan bahkan ia berencana untuk mendonasikan bayaran yang ia terima sebagai joki. Rian juga mengungkapkan, ada pula temannya yang diminta menjadi joki dengan bayaran maksimal Rp500.000,00. 

Rian mengaku menyesali keputusannya menjadi joki, dan kini ia mengharapkan UI dapat merevisi hasil ujiannya. Ia menjelaskan bahwa kelolosan muridnya tersebut adalah bukti bahwa ada saja peserta yang lolos dengan cara yang tidak jujur. Ia meyakini bahwa di luar sana banyak orang yang melakukan kecurangan seperti muridnya

Tak hanya Rian, Rifki (nama disamarkan), seorang mahasiswa yang memiliki pekerjaan sampingan menjadi guru les di suatu bimbel juga mendapat tawaran menjadi joki. Berbeda dengan Rian, Rifki menolak tawaran tersebut. Namun, Rifki juga menjelaskan bila ada beberapa temannya yang juga berprofesi sebagai guru bimbel menerima tawaran menjadi joki SIMAK UI. 

Rifki mendapat informasi dari murid lesnya yang menggunakan jasa joki, bahwa muridnya tersebut berani membayar Rp11.000.000 hingga Rp15.000.000 untuk jasa joki SIMAK UI. Pada hari H ujian SIMAK pun, murid Rifki mengajak lebih dari satu guru bimbel untuk menjadi joki. Untuk setiap mata pelajaran yang diujikan, terdapat satu joki yang mengerjakannya. Jika si pengguna joki lolos, maka akan ada bonus tambahan bagi para joki.

Melalui muridnya pula, Rifki mendapat informasi mengenai teknis ujian SIMAK UI menggunakan joki. “Laptop tersambung ke proyektor yang dihadapkan ke dinding dan mouse wireless. Mouse wireless ini dikendalikan oleh joki yang melihat layar laptop via proyektor yang diarahkan ke dinding. Dia (pengguna jasa joki -red) berakting di depan kamera laptop seolah-olah mengerjakan ujian SIMAK,” ungkap Rifki.

Kini murid Rifki yang menggunakan joki tersebut diterima di salah satu jurusan di Universitas Indonesia. Rifki mengaku kecewa terkait hal tersebut. Menurutnya, dengan lolosnya para pengguna joki ini akan memberi tiga dampak besar. Yang pertama, dampaknya bagi UI sendiri. Dengan adanya kecurangan ini, dikhawatirkan akan menurunkan kualitas mahasiswa baru yang diterima di UI. 

Yang kedua, dampak terhadap orang-orang yang seharusnya lebih berhak masuk UI. “Orang-orang udah belajar mati-matian di luar sana untuk masuk UI lewat SIMAK dan memilih jurusan reguler supaya bisa dapat beasiswa. Eh, ngga tahunya jatah kuota regulernya diambil sama yang pakai joki. Gak mungkin dong yang gak mampu ini pakai joki, pasti yang pakai joki ini orang-orang yang mampu,” ungkap Rifki.

Yang ketiga, ada dampak terhadap generasi berikutnya. Dengan adanya kasus joki tersebut, menurut Rifki akan semakin banyak orang yang tergiur untuk berbuat curang juga ke depannya, karena dengan melakukan kecurangan pun, kenyataannya dapat lolos juga.

Tanggapan pihak UI terkait dengan spekulasi kecurangan yang terjadi

Menanggapi berita kecurangan peserta SIMAK UI yang beredar dan menjadi bahan perbincangan di media sosial, Prof. Rosari Saleh selaku Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan mengatakan bahwa kurangnya pengetahuan seseorang terkait dengan minat dan bakatnya menjadi salah satu faktor terjadinya kecurangan yang terjadi pada SIMAK UI.

“Dalam perspektif saya sebagai Wakil Rektor, saya merasa banyak siswa SMA sekarang yang ingin menjadi mahasiswa yang belum jelas arahnya. Banyak sekali yang ingin masuk Fakultas Kedokteran, akan tetapi kemampuan dan minatnya bukan kesana. Hal ini dilatarbelakangi juga kurangnya pengetahuan tentang apa yang dipelajari oleh program studi yang ada di UI dan profesi yang dapat mereka tempuh pasca kampus,” tuturnya.

Hal senada disampaikan oleh Gunawan, Ketua Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UI. Menurutnya, kurangnya persiapan belajar siswa merupakan faktor yang membuat kecurangan terjadi. “Persiapan belajar peserta SIMAK UI turut menentukan terjadinya kecurangan atau tidak. Hal ini dikarenakan akan mencerminkan kesiapan peserta dalam menghadapi SIMAK UI,” terang Gunawan.     

Selain itu, menurut Prof. Rosari spekulasi penggunaan joki pun sudah ada sejak zaman beliau ingin masuk UI dahulu. “Spekulasi penggunaan joki itu sudah ada sejak zaman dulu saya ingin jadi mahasiswa. Saya tidak heran kalau kalian tadi menyebut jumlah yang fantastis ditawarkan kepada si joki itu. Waktu zaman saya saja saat UKT masih seharga Rp37.000,00 sudah ada yang berani menawarkan dengan membayar sekian juta rupiah seseorang dapat lulus tes masuk UI,” jelas Prof. Rosari.

Menanggapi hebohnya kasus kecurangan SIMAK UI yang kemarin sempat menjadi perbincangan di media sosial, Gunawan menyatakan bahwa pihak PMB UI telah menghubungi pihak-pihak yang menyampaikan terkait dengan sistem SIMAK UI yang rawan atas kecurangan tersebut di media sosial dan melakukan klarifikasi. Namun, pihak-pihak tersebut tidak dapat memberikan bukti dan akhirnya mengirimkan surat permintaan maaf. 

“Tercatat, terdapat dua orang yang sudah kami hubungi dan mencoba melakukan klarifikasi. Namun, mereka tidak memiliki bukti dan akhirnya melayangkan surat permohonan maaf kepada PMB UI serta menghapus unggahannya terkait dengan kecurangan SIMAK UI di media sosial,” papar Gunawan.

Gunawan menambahkan bahwa pihaknya sangat terbuka terhadap laporan-laporan atas kecurangan yang terjadi selama pelaksanaan SIMAK UI. “Kami terbuka terhadap setiap laporan dugaan pelanggaran SIMAK UI dengan melampirkan bukti valid yang dapat dipertanggungjawabkan. Jika terbukti melakukan kecurangan, maka peserta SIMAK yang sudah lulus diterima di UI tentu akan kami gugurkan berikan sanksi sesuai dengan ketentuan yang ada di dalam terms and conditions yang telah disetujui peserta SIMAK UI sebelum mengerjakan ujian,” tegasnya.

Bukan hanya peserta SIMAK UI yang melakukan kecurangan saja yang akan mendapatkan sanksi, pihak yang membantu kecurangan peserta SIMAK UI apabila yang bersangkutan adalah mahasiswa UI juga akan mendapatkan sanksi. “Jika mahasiswa UI terlibat dalam kecurangan yang dilakukan oleh peserta SIMAK UI, tentu yang bersangkutan juga akan mendapatkan sanksi,” pungkas Prof. Rosari Saleh. 

Teks: Giovanni Alvita D., Satrio Alif F.
Ilustrasi: New York Times
Editor: M. I. Fadhil