Keberagamaan adalah Keseimbangan

Sunday, 15 February 15 | 03:45 WIB

Judul                                : A.

Genre                                : Thriller fiksi.

Sutradara                         : Damasus Genta Ryant.

Produser                          : Ajeng Nurwanda dan Marselina Tabitha Tumundo.

Penulis Naskah              : Afiq Shofy dan Muhammad Ammirudin Aziz.

Durasi                               : 40 Menit.

Tahun Pertunjukan       : 2014.

Pemeran                          : Deni Dwi Arta (Mr. Wood),  Tsamarah Augustine (Mrs. Wood),  Ratu Annisa (Rose), Inggita Sahya Puspita (Daisy), Riska Avi Amanda (Lily), Habib Akbar (Arvin Crane), Ridho Tyas (Sersan), Farhan Dandi, Arya Wira, Sabiq Gilang, Damasus Genta, Ajeng Nurwanda, dan Zahra Khairunnisa.

Kaum Republik. Merekalah yang di sebut sebagai orang-orang modern yang bercirikan hedonis, pemakan makanan cepat saji, teknologi canggih, sistem politik yang menjunjung tinggi demokrasi, dan telah meninggalkan sisi humanisme.

Kaum Republik bertentangan dengan Kaum A, yakni para sekte tradisional yang masih menjunjung sisi kemanusiaan sebagai panutan, tidak mengenal sistem uang dan kapitalisme. Segala yang mereka butuhkan datang dari alam.

Kehidupan Kaum A lebih stabil. Dari jumlah populasi mereka lebih banyak. Hidup dari alam memang berbeda dengan hidup Kaum Republik yang serba otomatis. Ajaran-ajaran Kaum A yang menarik perhatian Kaum Republik modern, menyebabkan keresahan. Sehingga, Kaum Republik memutuskan untuk membinasakan mereka bagai memberanguskan ilalang yang mengganggu.

Suatu hari, diadakan sebuah pesta kecil oleh keluarga Woods untuk merayakan ulang tahun ke tujuh belas Rose, putri tertuanya. Pesta yang semula dipenuhi kegembiraan tiba-tiba berubah menjadi sebuah ketakutan saat para prajurit utusan Republik datang. Rose menjadi pihak yang paling menderita saat itu.

Penderitaa membuat Rose tersadarkan. Semula Rose ingin menjadi bagian dari Republik. Tetapi seketika Rose membenci Republik. Rose membangkitkan keluarganya dari kematian dan mulai menghancurkan dinding yang ke empat.

Penggambaran thriller dan fiksi pada narasi cerita, tertuang dengan rapih. Penonton diajak berinteraksi, berimajinasi, dan bertanya apa yang akan terjadi selanjutnya. Walaupun di adegan awal, alur teater berjalan agak lambat. Kemudian alur berjalan sedikit lebih cepat di bagian selanjutnya.

“A”, sebuah penampilan dari Sastra Inggris FIB UI, adalah gambaran kehidupan minoritas melawan pemerintah, yang kerap menggambarkan sisi buruk dari demokrasi yang dilawan oleh apatisme terhadap demokrasi. Lambang A bisa berarti ketidakpedulian pada kemanusiaan.

“A” juga bisa disebut  dinding ke empat. Dinding ke empat, dianaolgikan seperti jarak pemisah antara pemain teater dengan penontonnya. Jarak ini hanya bisa dihancurkan oleh kekuataan kemanusiaan.

 

Bonny Nur I.D

 

Komentar



Berita Terkait

Sandiwara Teater Tak Hanya Pertunjukan Seni
Potret Indonesia Timur dalam Novel Lukisan Tanpa Bingkai
Les Desireux & Les Desirables
Ragam Semarak dari Bangku Penonton