Kedua Calon Ketua BEM UI Beri Tanggapan Soal UI Beraksi

Wednesday, 15 November 17 | 05:05 WIB

 

Ahmad Alhamid, Ketua BEM FISIP 2016 selaku panelis dalam eksplorasi Pemilihan Raya Ikatan Keluarga Mahasiswa Universitas Indonesia (Pemira IKM UI) yang digelar kemarin (14/11) di Kantin Takor, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI.

Ia meminta Calon Ketua dan Wakil Ketua BEM UI 2018 memberikan tanggapan mengenai UI Beraksi sebagai gerakan untuk mengawal kasus Setyo Novanto terkait KTP Elektronik.

Zaadit Taqwa, Calon Ketua BEM UI nomor urut dua sekaligus Ketua BEM FMIPA UI 2017 menuturkan bahwa gerakan tersebut dibentuk sebagai langkah dan respons dari sidang paripurna DPR yang mana salah satu agendanya mengenai laporan pimpinan Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket terhadap pelaksanaan tugas dan kewenangan KPK.

“Gerakan yang dibawa BEM UI yang gue rasakan serba dadakan dan puncaknya 28 September, kita harusnya melaksanakan aksi, saat itu sidang paripurna dipercepat jadi tanggal 26 sehingga di grup CEM (Chief Executive Meeting -red) terjadi keributan dan Mujab (Ketua BEM UI—red) di luar negeri. Ada satu statement yang mengatakan salah satu opsinya, kita cancel,” ujar Zaadit. Dalam hal ini, UI Beraksi dibentuk dengan alasan untuk tetap mengawal isu KPK dengan tetap menggelar aksi pada Kamis (28/9).

Dalam eksplorasi, Ahmad Alhamid juga mempertanyakan alasan keterlibatan FMIPA, FIA, dan FIK dalam Gerakan UI Beraksi. “Sekarang Ali (Ketua BEM FISIP—red) gak diajak ? Kenapa cuma diajak fakultas itu doang? Kalau argumennya adalah tandingan dari gerakan BEM UI yang eksklusif, tapi pembentukan gerakan (UI Beraksi—red) yang eksklusif?”

Menurut Zaadit, alasan mengapa hanya ketiga fakultas tersebut yang bergabung kerena ketua BEM dari FIA dan FIK merupakan teman dekatnya. “Kenapa tiga? Karena teman deket gue, teman asrama. Tegar (Ketua BEM FIA—red) teman deket dari SMP (Sekolah Menengah Pertama—red),” ujarnya. Zaadit menambahkan, pihak di luar ketiga BEM tersebut mendapat ajakan melalui jarkoman aksi di media sosial.

Terkait dengan UI Beraksi, panelis juga mempertanyakan alasan Zaadit yang saat itu menjabat sebagai Ketua BEM FMIPA UI meninggalkan grup media sosial CEM (left group). Menurut Zaadit, “Sebenarnya terkait masalah koordinasi yang nggak selesai. Bukan ngambek, tapi gue punya stand. Nggak ngambek tapi mau nunjukin sikap dan itu setelah UI Beraksi. UI Beraksi sampai sekarang masih tiga fakultas. Pada isu lain gue akan gabung,” paparnya.

Dari perspektif lain, M. Luthfie Arief sekalu Calon Ketua BEM UI nomor urut pertama memberikan pandangannya terkait Gerakan UI Beraksi. Menurutnya, senada dengan apa yang diujarkan oleh Zaadit, Gerakan UI Beraksi berawal dari grup CEM.

Kepala Departemen Kastrat BEM UI 2017 yang biasa dipanggil El tersebut menjelaskan bahwa hal itu berawal dari Anggota MWA UI UM, Rico Novianto yang mengumumkan di grup CEM bahwa sidang paripurna dimajukan.

Menurut El, saat itu semua orang yang tergabung dalam grup panik. “Seinget gue, opsi cancel (batal aksi—red) berasal dari orang-orang yang menginisiasi UI Beraksi. Lah, kalau tanggal 28 di-cancel, berarti ga ada signifikansinya dong aksi tanggal 28?” ujar El.

El menambahkan, “Temen-temen bisa liat di story chat anggota CEM. Bem UI bilang tetap bisa aksi tanggal 28 untuk menyambut sidang hasil paripurna.”

Menanggapi hadirnya Gerakan UI Beraksi, El berpendapat, “Prematur. Substansinya lemah. (BEM—red) FIK yang disasar itu Setnov, bukan isu korupsinya,” pungkasnya.

 

Teks: Abdulloh Azzam, Bonny Nur, dan Diana

Foto: Diana

Editor: Eri Tri Anggini

Komentar



Berita Terkait