Kenaikan Uang Sewa Lahan Berdampak Bagi Pelaku Usaha di FIB

Friday, 08 March 19 | 11:43 WIB

Momentum tahun baru yang identik dengan kebahagiaan dan harapan bagi sebagian besar orang, ternyata membawa kabar kurang mengenakkan bagi para pelaku usaha seperti koperasi dan tempat fotokopi di Universitas Indonesia, terutama di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Pasalnya, sejak awal tahun ini, mereka dibayang-bayangi oleh kenaikan harga sewa untuk lahan yang mereka gunakan untuk usaha. Terlebih lagi, kenaikan yang ditimbulkan tersebut cukup signifikan sehingga mengancam keberlangsungan badan-badan usaha tersebut. Kenaikan tersebut diberlakukan FIB berdasarkan Surat Keputusan Rektor UI nomor 3178.

Keberadaan Toko Buku Cak Tarno Terancam

Salah satu pelaku usaha yang paling terkena dampak dari kenaikan harga sewa ini adalah Cak Tarno, penjual buku yang menghuni sebuah ruangan kecil di belakang Gedung VIII FIB. Ruangannya yang kecil berbanding terbalik dengan peran toko buku ini yang cukup signifikan dalam kegiatan akademis mahasiswa-mahasiswa FIB UI. Tidak hanya menyediakan sumber pengetahuan melalui buku-buku yang dijualnya, Cak Tarno juga membantu perkembangan ilmu pengetahuan di FIB dengan mengadakan diskusi yang ia siarkan melalui siaran video live stream. Meski harus menggunakan kuota internet sendiri untuk melakukan live stream tersebut, Cak Tarno menyatakan jika kegiatan tersebut hanyalah bentuk kerja sosial beliau. “Memang tugas kita adalah untuk menyebarkan ilmu pengetahuan,” jelas Cak Tarno saat diwawancarai oleh Suara Mahasiswa.

Sayangnya, keberadaan toko buku Cak Tarno ini terancam oleh kenaikan harga sewa lahan ini. Tokonya ini tergolong kecil dikarenakan memang tokonya sendiri tidak terlalu luas, hanya sekitar 2,5×5 meter, namun tetap saja kenaikan harga sewa yang cukup signifkan ini membuat Cak Tarno merasa keberatan. Sebelum kenaikan uang sewa ini, ia diwajibkan membayar sekitar sembilan juta per tahun. Dengan biaya sewa yang sebelumnya saja, beliau menjelaskan jika keuntungan dari toko bukunya hanya pas-pasan untuk kebutuhan sehari-hari. “Itu aja cukup untuk makan. Ga ada buat sisa untuk tabungan nanti untuk anak gimana, tabungan sosial aja yang banyak, ga bisa diakumulasi!”

Harga sewa lahan yang baru seharga Rp105.000 per meter membuatnya harus membayar lebih dari satu juta rupiah tiap bulan, dibanding dengan harga sewa sebelumnya yang hanya sekitar sembilan juta per tahun.  “Jadi, omzet 1 juta sehari. Keuntungan 20 persen, itu tadi kan kali 25 berarti kan 5 juta. 5 juta kalau satu bulan buat biaya sewa 1 juta setengah tinggal 3 juta setengah, sedangkan untuk biaya hidup 150 (ribu -red) belum buat bayar sekolah, blom buat listrik,” ucap Cak Tarno menjelaskan dampak kenaikan sewa lahan ini.

Cak Tarno juga merasa pemberitahuan soal kenaikan ini sangat mendadak. Ia menyatakan jika ia tidak tahu apa-apa perihal kenaikan ini sebelum akhirnya diberitahu oleh pihak ventura FIB UI. “Ventura sendiri bilang tidak bisa apa-apa soalnya ini bukan kebijakan fakultas tetapi sudah disentralkan ke rektorat dari UI-nya,” tambahnya.

Saat ditanya tentang masa depan toko bukunya yang sudah beroperasi sejak 2015, Cak Tarno nampak ragu. Terlebih karena ia merasa jika minat baca anak-anak muda sudah menurun, sehingga berpengaruh kepada usahanya. “Seberapa besar sih tingkat baca anak sekarang?” tanyanya. “Tanya (lebih banyak –red) yang memegang buku atau handphone, main game? Artinya, dunia literasi ini sudah mendekati tumbang. Sudah mendekati tumbang!”

“Jadi mikir gini saya, ‘Apakah harus saya tinggalkan ini dunia pengetahuan?’” ucap Cak Tarno pesimis.

Koperasi di Bawah Bayang-Bayang Uang Sewa

Selain Cak Tarno, badan usaha lain yang terkena dampak dari kenaikan uang sewa ini adalah koperasi. Koperasi Pegawai FIB UI atau yang biasa disingkat Kopeg sudah menerima edaran tentang kenaikan uang sewa ini. Isi surat edaran tersebut adalah jumlah uang sewa yang harus dibayarkan oleh koperasi tersebut, yang mencapai angka 280 juta per tahun. Akibatnya, koperasi yang menjual berbagai hal mulai dari alat tulis, makanan, hingga kebutuhan sehari-hari ini terpaksa mengosongkan sebagian dari ruangan yang mereka gunakan dalam rangka mengurangi jumlah lahan yang mereka gunakan untuk usaha. Dari pengamatan Suara Mahasiswa, kini hanya setengah dari ruangan Koperasi Pegawai yang masih digunakan untuk berjualan, sementara sisanya sudah dikosongan dan hanya berisi rak-rak kosong. Antara bagian yang masih digunakan untuk berjualan dengan yang dikosongkan dibatasi dengan lemari.

Koperasi lainnya di FIB yaitu Koperasi Mahasiswa (Kopma) mengalami nasib yang berbeda. Meskipun belum menerima edaran resmi mengenai kenaikan sewa lahan ini, Kopma merasa jika isu ini cukup penting bagi mereka. Pasalnya, sejak berdiri pada tahun 1989, Kopma FIB UI tidak pernah diwajibkan membayar uang sewa. “Sejak awal kita belum pernah dikenakan harga apapun sampai dengan tahun kemarin. Baru tahun lalu, kita bayar untuk listrik katanya untuk membayar pembiayaan UI sebulan kena 2 jutaan dari mulai semester kemarin,” jelas Ahmade, mahasiswa program studi Sejarah sekaligus Ketua Koperasi Mahasiswa FIB UI.

Ahmade merasa jika ada kemungkinan Kopma FIB UI nantinya akan diwajibkan membayar dikarenakan Kopma memang merupakan badan usaha yang menggunakan lahan milik UI. Ia menceritakan bahwa saat mendengar Koperasi Pegawai menerima edaran tentang kenaikan uang sewa, ia beserta anggota Badan Pengawas Kopma dan Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa FIB UI menghadap ke bagian Ventura FIB untuk meminta keterangan lebih lanjut.

“Kita ketemu sama Ibu Nurhayati, dia Staf Admin, dia bilang bahwa memang benar, itu sudah mulai berlaku mulai Januari ini. Terkait sasarannya siapa aja, semua unit usaha, semua pelaku ekonomi-yang menggunakan lahan UI, baik di Salemba maupun di Depok”

“Kita mastikan tuh Ventura, apakah nanti Kopma bakal dapet apa ngga. Kata Mbak Nurhayati-nya itu bilang, kalau dari SK-nya sih seharusnya dapet, kemungkinan besar bakal dapet,” tambah Ahmade menjelaskan.

Menurut Ahmade, uang sewa ini akan sangat berpengaruh ke kondisi keuangan Kopma dan nasib Kopma kedepannya. Ia menyatakan bahwa selama masih mampu, Kopma FIB UI akan berusaha membayar. “Kalo memang dari perhitungan kita harus bayar, kita akan bayar. Kalo kita bisa bayar kan kita ngga harus memperkecil ruang kita,” jelas Ahmade sambil mengacu kepada Koperasi Pegawai yang terpaksa mengecilkan lahan usaha mereka.

Ia mengaku bahwa memang ada isu bahwa Koperasi Mahasiswa akan dipindah ke ruangan yang lebih kecil. Namun, ia keberatan dengan wacana tersebut. “Sempet ada isu yang bilang bahwa kopma FIB akan dipindah ke belakang gedung 8 sini. Samping Cak Tarno. Itu kan belum ada penjelasan dan sosialisasi. Kalaupun memang ada, ga bakalan terima itu (pemindahan tempat -red) mentah-mentah,”

Menurutnya, lokasi di Gedung VIII tersebut tidak strategis jika dibandingkan dengan lokasi Kopma yang sekarang ada di dalam Gedung IX. “Kalau dipindah ke gedung 8, jarang sekali orang yang singgah dan lewat di gedung 8. Gedung 8 kan sepi, lalu lalang ga seramai gedung 9. Kalo boleh saran, keputusan yang berkaitan langsung dengan suatu unit atau usaha harus disosialisasikan dulu,” ucap Ahmade mengeluhkan kurangnya sosialisasi mengenai hal ini. Sama seperti Toko Buku Cak Tarno, Kopma FIB merasa tidak dilibatkan sama sekali dalam pembahasan mengenai kenaikan uang sewa lahan ini. “Kalau isunya sudah ada dari tahun lalu, tapi kita tidak pernah ada negoisasi, itu gak ada!”

Ahmade berpendapat bahwa Koperasi Mahasiswa sebagai badan usaha yang digerakkan oleh mahasiswa perlu mendapat keringanan dalam hal pemberlakuan uang sewa ini. Ia tidak ingin Kopma disamakan dengan badan usaha lainnya yang murni bertujuan komersil. “Kami bukan seperti usaha-usaha lain seperti Koffee Toffee atau Javaroma. Kami adalah koperasi yang dari, oleh dan untuk mahasiswa. Kita adalah organisasi mahasiswa yang seharusnya difasilitasi oleh kampus. Paling engga memberikan sesuatu tumpuan supaya kita tetep bisa berdiri. Nah nanti kalo terlaksana suruh bayar 30 juta itu belum sama listrik,”

Saat ditanya mengenai langkah Kopma ke depannya, Ahmade menyatakan ingin mengusahakan advokasi dan negosiasi. “Kita sudah mengadvokasikannya ke DPM dan BEM. Kita sudah konsultasikan hal ini di LFK (lembaga Formal Kemahasiswaan -red) . Kalo nanti suratnya udah ada udah keluar, kita kan gerak sama-sama, semacam advokasi bersama,”

Namun ia tetap memiliki satu rencana lagi jika Kopma menemui jalan buntu. “Kalo kita gabisa bayar dan negoisasi tidak dapat. Ya sudah, mau gak mau kita harus melakukan propaganda!”

 

Penulis: M. I. Fadhil
Ilustrasi: Syarifah
Kontributor: Syarifah & Zalfa
Editor: Grace Elizabeth

Pers Suara Mahasiswa 2019
Independen, lugas, dan berkualitas!

Komentar



Berita Terkait

Perihal Kebijakan Secure Parking, DPPF UI Jamin Akan Perbaiki Sosialisasi
Mulai 1 Agustus Transjakarta Akan Layani UI dengan Gratis
Dibalik Kebijakan Secure Parking Kampus UI
Klinik Satelit Makara Gunakan Kartu BPJS dan Kartu UI Sehat