Ketua Lingkar Ganja Nusantara Ungkap Sisi Lain Ganja

Wednesday, 08 March 17 | 07:30 WIB

Rabu (1/3) lalu Deadpool UI kembali mengadakan diskusi terbuka bertajuk “Ganja Ganja Manja: Menakar Imbas Kebudayaan dari Ganja”. Bertempat di Bono Cooks, FISIP UI, pukul 17.00, diskusi tersebut terpaksa berakhir karena pembubaran oleh pihak UI pukul 19.00.

Dhira menjelaskan bahwa diskusi tersebut bertujuan untuk membahas ganja secara rasional, bukan untuk mempromosikan atau melegalkan kegunaan ganja karena masih ilegal menurut Undang-Undang.

Dalam Undang-undang, ganja sebagai narkotika golongan 1 dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan. Akan tetapi, Dhira menyatakan bahwa tanaman ganja tidak berbahaya bagi masyarakat dalam hal medis. Pernyataan tersebut ia rujuk dari buku Hikayat Pohon Ganja.

(Baca Juga: Kasubdit Penalaran UI: Diskusi Terbuka Ganja Salahi Etika Akademis )

Dhira mengaku banyak bertemu orang yang sakit dan sembuh dengan ganja. “Beberapa tahun yang lalu, saya ketemu sama anak yang mengalami lumpuh otak akibat malpraktek dokter. Ibunya memberanikan diri supaya anaknya diberikan ganja pada malam hari. Selang dua minggu, anaknya dapat menggerakkan jari-jarinya.”

Dhira menceritakan bahwa ibu dari anak tersebut menggunakan ganja sehari sekali pakai dengan dosis 1/3 biji beras setiap malam setelah makan. Hal itu menurut Dhira sesuai dengan aturan yang ditulis dalam buku Science of Marijuana yang juga disebutkan takaran yang dibutuhkan otak manusia untuk merasakan efek ganja sebanyak 0,4 mikrogram.

Sayangnya, sejak diberikan izin riset oleh Kementerian Kesehatan pada tahun 2015, Lingkar Ganja Nusantara sampai saat ini belum melakukan riset karena diawasi oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Polisi.

“Jadi mereka akan selalu memantau dari jauh untuk memastikan tanaman ganja tidak bisa dimanfaatkan oleh bangsa Indonesia,” ujar Dhira

 

Teks: Eri Tri Anggini

Foto: Cindy Andika Fiona

Editor: Riani Putri Sanusi

Komentar



Berita Terkait