Keuskupan Agats Asmat: Sokonglah Papua dengan Kacamata Papua, Bukan Jakarta

Wednesday, 28 February 18 | 07:59 WIB

Aksi nyata Gerakan Asmat Bebas Gizi Buruk (Gabruk) dilakukan oleh BEM se-UI dengan mengirimkan dua tim ke Kabupaten Asmat, Papua. Tim pertama berangkat bersama lembaga Aksi Cepat Tanggap (ACT) pada Senin (12/2/2018) ke distrik Akat dan Agats.

Saat kunjungan Tim Relawan Asmat BEM se-UI, Pastor Hendrikus Hada memaparkan bahwa masalah penyelesaian Kejadian Luar Biasa (KLB) gizi buruk dan campak di Asmat, Papua harusnya di selesaikan dengan menggunakan kacamata Papua bukan kacamata Jakarta.

“Jangan menatap kaum Papua dengan kaca mata Jakarta. Kalau merasa Papua itu bagian dari NKRI, sokonglah Papua dengan kaca mata Papua. Artinya apa? Datang ke Papua. Kita pintar kalau bicara di ruangan teori, ilmiah itu kan konsep, ya? Tapi ketika di lapangan banyak hal yang teoritis itu menyangkut. Kita butuh orang yang cerdas untuk mencari solusi baru, cara baru, dan pola baru,” tuturnya.

Selanjutnya dalam kunjungannya ke Asmat, Tim Relawan Asmat BEM se-UI berikan sumbangan berupa beras yang dibagikan secara merata ke distrik dan kampung yang ada di Asmat. Berupa 100 ton beras yang dibawa oleh tim pertama dan setiap kampung mendapat jatah 20 karung beras. Hal tersebut mendapatkan beberapa reaksi.

Drg. Yenni, seorang dokter gigi dari Makassar yang sudah menetap di Asmat sejak tahun 2007 berpendapat bahwa pemberian bantuan berupa beras terasa kurang tepat. “Baik sih maksudnya, cuma kurang dipikirkan masyarakat itu sebenarnya butuh apa. Kalau sumbangan hanya di-drop seperti itu, belum tentu akan sampai ke masyarakat. Pola pikir masyarakat dari luar itu hanya sekadar ‘Pokoknya kita bawa bantuan, kita serahkan, selesai.’ Tapi, apakah bantuan itu benar sampai sasaran?” tuturnya.

Selanjutnya menurut ia, pembagian beras membuat masyarakat akhirnya tidak tahan lapar dan terus menunggu datangnya sumbangan, bukannya berusaha untuk mencari makan seperti kebiasaan mereka selama ini.

Hal senada diungkapkan oleh Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Agats, Aji Sayekti.”Kalau sudah datang sumbangannya, ya sudah. Tapi akan lebih baik jika diganti yang lain, seperti biskuit, misalnya. Karena kalau beras, ketergantungannya menjadi tinggi sekali sementara di sini (Asmat – red) tidak bisa menanam karena memang makanan pokoknya sagu,” jelasnya.

Sedangkan mengenai keuskupan Agats sendiri telah melakukan sejumlah hal dalam rangka membantu masyarakat di Kabupaten Asmat. Beberapa di antaranya adalah melakukan pemberdayaan tentang pangan lokal serta pola hidup bersih dan sehat, menyediakan tim medis, dan ikut memperhatikan masalah gizi masyarakat di sana.

“Contohnya adalah kami mengajarkan cara mengolah sagu menjadi bentuk olahan yang lain supaya lebih enak. Sagu kan rasanya tawar sekali kalau dibandingkan dengan mi instan atau makanan kaleng. Jadi mereka lebih memilih mi instan atau sarden. Padahal sagu juga bisa diolah,” jelas Aji.

Mengenai aksi Kartu Kuning yang dilakukan oleh Ketua BEM UI, Zaadit Taqwa di Balairung UI pada (2/2/2018), Pastor Hendrikus Hada juga turut memberikan tanggapannya terkait tiga permasalahan yang diangkat, salah satunya adalah Kejadian Luar Biasa (KLB) gizi buruk dan campak di Asmat, Papua.

“Saya kira itu main bola. Ya menurut saya kita gak main bola kok. Maka untuk saya gak pas. Kapan dia mau jadi pemain supaya perubahan di bawah bisa terjadi? Tidak usah menilai orang lain, jadilah pemain untuk sebuah perubahan,” ujar Pastor.

 

 

Teks: Nadia Farah Lutfiputri

Foto: Diana

Editor: Halimah Ratna Rusyidah

Komentar



Berita Terkait