KLB Difteri: Suatu Kegagalan Herd Immunity

Wednesday, 27 December 17 | 08:34 WIB

Difteri merupakan penyakit akut menular disebabkan oleh toksin yang dihasilkan oleh bakteri Corynobacterium Diphteriae (CDC, 2015). Toksin yang dihasilkan oleh bakteri C. Diphteriae dapat menyebar ke peredaran darah sistemik dan menyebabkan kerusakan pada epitel saluran pernapasan, jantung, ginjal, saraf otak dan saraf tepi (Puspitasari D, Erna Supatmini, dan Dominicus Husada, 2012).

Penularan penyakit ini melalui pernapasan atau kontak langsung dengan penderita. Penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan dunia yang menyerang kesehatan manusia karena dapat mengakibatkan komplikasi dan kematian (Alfina R dan Muhammad Atoillah Isfandiari, 2015).

Orang yang menderita penyakit ini ditandai dengan sakit tenggorokan, demam tidak terlalu tinggi, adanya membran pada tonsil, faring, dan hidung (Sariadji, 2014). Gejala penyakit dimulai dengan adanya pustula yang kemudian berkembang menjadi lesi disertai membran dan edema (Sariadji, 2014).

Kasus difteri paling banyak ditemukan pada usia anak-anak, namun tidak menutup kemungkinan orang dewasa juga dapat terkena penyakit ini. Pencegahan dan pengendalian penyakit Difteri di masyarakat perlu dilakukan dengan berbagai upaya baik pada masyarakatnya, penyehatan lingkungan maupun regulasi atau kebijakan.

Dalam hal ini, Kementrian Kesehatan RI (2012) menyatakan bahwa pencegahan penyakit Difteri yang paling efektif adalah dengan dilakukannya imunisasi. Pernyataan tersebut juga sejalan dengan rekomendasi yang diberikan oleh CDC (2006), bahwa pemberian vaksin Difteri, Pertusis dan Tetanus (DPT) untuk mencegah penyakit Difteri.

Beberapa negara maju seperti Amerika dan Inggris telah berhasil menurunkan secara drastis jumlah kasus Difteri setelah dicanangkan program imunisasi difteri secara menyeluruh.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI dari tahun 2007-2015 menunjukkan bahwa kondisi cakupan imunisasi DPT konstan antara 90%-100%. Namun data WHO mengenai cakupan imunisasi di Indonesia menunjukkan bahwa estimasi cakupan imunisasi DPT pada balita untuk Indonesia masih di angka 50-79% sedangkan untuk memenuhi herd immunity threshold  atau kekebalan populasi harus memenuhi 90-95%.

Jumlah kasus difteri di Indonesia dari tahun 1980-2016 terlihat cenderung naik turun. Hal ini perlu dicurigai bahwa mungkin cakupan imunisasi di masyarakat sebenarnya tidak tercapai sehingga menyebabkan epidemi di beberapa waktu akhir-akhir ini.

Cakupan imunisasi yang rendah menyebabkan gagalnya pembentukan herd immunity. Sehingga meskipun sudah ada imunisasi, masyarakat masih ada yang terkena penyakit difteri.

Menurut catatan Kementrian Kesehatan RI dalam kurun waktu Awal Januari hingga November 2017 tercatat ada 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Sebelas provinsi melaporkan terjadinya KLB difteri.  Provinsi dengan jumlah kasus difteri terbanyak ialah Jawa Timur yaitu 271 kasus dan terdapat 11 kematian.

Meskipun imunisasi terbukti menjadi cara yang efektif dan efisien untuk mencegah penyakit Difteri, namun tidak semua orang bisa dengan mudah menerima atau melakukan imunisasi. Ada beberapa faktor yang membuat masyarakat tidak mau melakukan imunisasi. Salah satunya ialah faktor budaya dan agama. Beberapa yang kontra terhadap imunisasi karena meragukan kehalalan vaksin dan keamanan vaksin (Yanuarso, 2015).

Meningkatnya jumlah kasus Difteri disebabkan karena masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan imunisasi. Masih banyaknya masyarakat yang tidak sadar akan pentingnya imunisasi dan adanya anggapan bahwa imunisasi tidak halal membuat mereka enggan untuk mengimunisasi anaknya.

Padahal menurut fatwa MUI Nomor 4 tahun 2016 imunisasi dibolehkan (mubah) sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh (imunitas) dan mencegah terjadinya suatu penyakit tertentu.

Bukti yang lain terdapat pada data dari WHO dibawah ini, negara Arab Saudi yang merupakan negara Islam justru memiliki cakupan imunisasi yang tinggi, 90%. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat di Arab yang notabene berpegang teguh pada ilmu fiqih, qur’an dan hadist bersepakat untuk mewajibkan vaksin karena menimbang manfaat dan mudharatnya yang didapat.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa terjadinya KLB atau peningkatan kasus Difteri disebabkan oleh rendahnya cakupan imunisasi DPT sehingga tidak terjadi pembentukan herd immunity (kekebalan populasi).

Banyak faktor yang menjadi penyebab rendahnya cakupan imunisasi DPT, yaitu rendahnya kesadaran masyarakat untuk imunisasi anaknya dan masih adanya keraguan tentang kehalalan dari vaksin yang digunakan untuk imunisasi.

Peningkatan kesadaran masyarakat untuk melakukan imunisasi DPT pada anaknya merupakan hal yang penting karena penyakit ini merupakan penyakit menular dan berakibat fatal pada anak-anak. Sehingga perlu dilakukan pencegahan penyebaran penyakit ini melalui imunisasi.

Upaya-upaya strategis untuk meningkatkan kesadaran masyarakat ialah dengan melakukan sosialisasi. Sosialasi yang dilakukan harus melibatkan tokoh masyarakat yang dipercaya oleh masyarakatnya sehingga akan mudah dipercaya. Sebagai contoh, sosialisasi mengenai wajib imunisasi dasar DPT pada anak dilakukan pada saat setelah khutbah sholat  jum’at.

Tim sosialisasi kesehatan bekerjasama dengan tokoh agama untuk melakukan sosialisasi imunisasi DPT. Sehingga masyarakat yang meragukan kehalalan vaksin dapat diatasi ketika tokoh agama yang menyampaikan. Dalam hal ini pemerintah juga harus tegas untuk memberantas dan memutus rantai penularan Difteri melalui imunisasi DPT.

Sebagai mahasiswa, kita bisa mengedukasi dan mengajak masyarakat untuk melakukan imunisasi Difteri sehingga dapat membantu terwujudnya kekebalan populasi. Meskipun imunisasi wajib Difteri dilakukan pada usia 2-4 bulan sebanyak 3 kali, namun jika anda merasa belum divaksinasi ketika masih bayi, saat dewasa bisa imunisasi Difteri ke pelayanan kesehatan terdekat.

Saat ini, Klinik Kesehatan Makara UI menyediakan pelayanan imunisasi difteri bagi mahasiswa. Kegiatan tersebut merupakan upaya klinik makara UI untuk turut andil dalam mencegah dan mengendalikan penyebaran penyakit Difteri. Karena Difteri dapat menyerang siapa saja yang  tidak memiliki kekebalan terhadap bakteri penyebabnya.

Daftar Pustaka

Alfina R dan Muhammad Atoillah Isfandiari, 2015. Faktor yang Berhubungan dengan Peran Aktif Kader Dalam Penjaringan Kasus Probable Difteri. Jurnal Berkala Epidemiologi, Volume 3, pp. 353-365.

CDC, 2015. Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases. In: United States: CDC.

Centers for Disease Control and Prevention. 2001. Update on the supply of tetanus and diphtheria toxoids and of diphtheria and tetanus toxoids and acellular pertussis vaccine. MMWR Morb Mortal Wkly Rep.

Kretsinger, K., dkk. 2006. Preventing tetanus, diphtheria, and pertussis among adults: use of tetanus toxoid, reduced diphtheria toxoid and acellular pertussis vaccine recommendations of the Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) and recommendation of ACIP, supported by the Healthcare Infection Control Practices Advisory Committee (HICPAC), for use of Tdap among health-care personnel. MMWR Recomm Rep, 55(RR-17), pp.1-37.

Majelis Ulama Indonesia. 2016. Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 4 Tahun 2016 tentang Imunisasi. Jakarta: MUI

Puspitasari D, Erna Supatmini, dan Dominicus Husada, 2012. Gambaran Klinis Penderita Difteri Anak di RSUD Dr. Soetomo. Jurnal Ners, Volume 2, pp. 136-141.

Pusdatin Kemenkes RI. 2016. Situasi Imunisasi di Indonesia. Jakarta: PUSDATIN

Sariadji, d., 2014. Dipheria like Disease, Zoonotic Disease Similiar to Difteri Caused by Cyanobacterium ulcerans that should be handle Contiousness. Jurnal Epidemiologi dan Penyakit Bersumber Binatang, Volume 5, pp. 49-54.

Yanuarso, P. B., 2015. www.idai.or.id. [Online] Available at: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/menyoroti-kontroversi-seputar-imunisasi  [Accessed Wednesday November 2017].

Zainal, M. P., 2016. abulyatama.ac.id. [Online] Available at: http://abulyatama.ac.id/?p=5988 [Accessed Wednesday November 2017].

Teks:Rina Agustina, Mahasiswi Kesehatan Masyarakat 2015

Ilustrasi: Vega Mylanda

Komentar



Berita Terkait