Klinik Makara UI: Menangani Hepatitis A sampai Mencegah Corona

Wednesday, 12 February 20 | 07:17 WIB

Wabah, atau disebut juga dengan epidemi, adalah suatu kejadian ketika suatu penyakit menyebar secara luas, cepat, dan berdampak pada orang banyak. Indonesia sendiri sejak kemerdekaannya dari tahun 1945 sudah merasakan berbagai jenis wabah, seperti wabah demam berdarah (1991, 2001, 2003), flu burung (2003), flu babi (2009) dan difteri (1990, 2009). Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan memberi istilah lain dari wabah atau epidemi dengan sebutan Kejadian Luar Biasa (KLB).

KLB bisa ditetapkan tidak hanya timbul dalam skala nasional, tapi juga skala lokal. Terkait KLB lokal, dalam tiga sampai empat bulan terakhir terjadi KLB Hepatitis A di Kota Depok. Penanganan maupun pencegahannya pun telah dilakukan di berbagai tempat, salah satunya di lingkungan UI Depok. Bentuk penanganan dan pencegahan tersebut dilakukan di Klinik Satelit Makara UI.

Klinik Satelit Makara UI, atau yang hanya sering disebut Klinik Makara, berdiri pada tahun 2015 untuk menggantikan Pusat Kesehatan Mahasiswa (PKM) UI yang sudah ada selama lima puluh tahun. Selain menyediakan layanan kesehatan bagi sivitas akademika UI, Klinik Makara juga bertujuan sebagai wahana pendidikan dan penelitian bagi mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan (RIK).

“Selain juga kuratif atau mengobati, memang klinik ini sekarang juga berfungsi untuk melakukan tindakan pelayanan preventif atau pencegahan,” tambah Kepala Klinik Satelit Makara UI, dr. Dhanasari Vidiawati ketika ditanya mengenai tujuan pendirian Klinik Satelit Makara UI.

Dhanasari selanjutnya mengatakan bahwa selama terjadinya KLB Hepatitis A di Kota Depok, Klinik Makara UI menerima beberapa mahasiswa UI yang diduga terjangkit Hepatitis A. Ia mengatakan bahwa mahasiswa yang sedang terjangkit Hepatitis A disarankan untuk melakukan bed rest atau istirahat total dengan berbaring dalam waktu yang berkesinambungan untuk pemulihan.

“Kita tanya, ‘kamu di kos ada yang ngurus, nggak?’. Kalau misalnya nggak ada yang urus mendingan dirawat di rumah sakit. Kalau misalnya dia mesti bangun, mesti cari makan sendiri, akhirnya kan nggak istirahat,” ujarnya.

Ia lalu menjelaskan bahwa selain lebih banyak beristirahat, mahasiswa yang terjangkit Hepatitis A juga disarankan memakan makanan yang terjamin kebersihannya dan mudah dicerna. Hal ini karena Hepatitis A dapat sembuh dengan sendirinya, asalkan hati atau lever tidak melakukan kerja yang berat.

“Tapi kalau lagi sakit hatinya ya kita tolong supaya hatinya bisa istirahat, nggak (mengkonsumsi makanan—red) yang goreng-gorengan, nggak yang jajan-jajanan, terus (nggak juga—red) yang kira-kira banyak zat tambahan. Itu tuh membuat hatinya kerjanya lebih berat. Jadi kalau misalnya hatinya nggak istirahat, dia akan membuat si virusnya ke mana-mana, terus jadi berkembang biak. Nah yang ke mana-mana itu yang sebetulnya bikin Hepatitis A menjadi lebih berat,” jelasnya.

Selain melakukan tindakan pengobatan terhadap mahasiswa yang terjangkit, Dhanasari mengatakan bahwa Klinik Makara UI juga melakukan tindakan pencegahan dengan mendatangi dua ratus kantin di Kota Depok secara acak dan melakukan pemeriksaan terhadap makanan dan minuman yang ada. Hasilnya adalah makanan dan minuman yang diperiksa berada dalam status aman. Hanya saja Dhanasari menggarisbawahi bahwa dari hasil pemeriksaan, es batu yang digunakan untuk minuman masih kurang higienis. Ia pun sudah mengingatkan untuk es batu yang akan digunakan kedepannya agar dapat lebih higienis.

Selanjutnya berkaitan dengan sedang merebaknya wabah Novel Coronavirus (2019-nCoV) atau virus Corona di seluruh dunia, terutama di Tiongkok, Dhanasari menjelaskan bahwa pencegahan terhadap penyebaran Corona pada hakikatnya sama dengan pencegahan terhadap penyebaran flu biasa, yakni dengan memerhatikan etika batuk, menggunakan masker di tempat umum dan keramaian, dan juga penggunaan hand sanitizer agar tangan tetap higienis dan terjaga kebersihannya. Selain itu, Klinik Makara UI sendiri dalam melakukan pencegahan terhadap penyebaran Corona melakukan beberapa tindakan. Dhanasari memberi contoh, yakni ketika baru-baru ini ada empat puluh mahasiswa dari Jepang dan Korea Selatan yang mengikuti pertukaran pelajar ke UI, Klinik Makara meminta agar para mahasiswa tersebut membawa health certificate atau sertifikat kesehatan ketika datang ke Indonesia sehingga mereka dipastikan sehat dan bebas corona.

“Jadi minggu terakhir sebelum mereka berangkat mereka harus ke dokter, terus bawa itu (health certificate—red) dulu sebelum masuk ke sana, (hal tersebut menyatakan—red) bahwa mereka dalam kondisi sehat,” ujarnya.

Terakhir, Dhanasari mengimbau kepada masyarakat khususnya mahasiswa UI agar tidak panik tapi tetap waspada. Pertama, untuk saat ini, sebaiknya mahasiswa menghindari untuk bepergian ke negara-negara yang sudah menjadi suspect (dicurigai terjangkit) Corona khususnya di negara-negara Asia Timur. Kedua, mahasiswa sebaiknya lebih waspada karena bisa jadi virus Corona sudah masuk ke Indonesia, tapi belum terdeteksi. Ketiga, mahasiswa harus banyak makan sayur dan buah terutama yang banyak mengandung vitamin C. Keempat, mahasiswa juga harus rajin berolahraga. “Yang penting sih daya tahan tubuh (terjaga—red),” pungkasnya.

 

Teks: Sultan Falah Basyah

Kontributor: Giovanni Alvita D.

Foto: Rangga Adhyaksa

Editor: Nada Salsabila

 

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas

Komentar



Berita Terkait