Komitmen Sekar Widya Makara Pertahankan Tradisi di Tengah Globalisasi

Saturday, 24 March 18 | 07:40 WIB

Ari Prasetyo selaku pembina Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sekar Widya Makara (SWM) Universitas Indonesia (UI) mengungkapkan bahwa ia kagum kepada mahasiswa-mahasiswa yang masih mau mempelajari budaya tradisional. “Tidak banyak yang mau belajar tradisi, tapi teman-teman ini saya salut sekali. Masih banyak dari teman-teman mahasiswa yang mau belajar tradisi yang katanya kuno,” tururnya.

Selanjutnya Amelia Rahmawati selaku Ketua Sekar Widya Makara jatuh cinta dengan budaya tradisional Jawa karena banyaknya simbol-simbol yang ada di dalam budaya tersebut. Mahasiswi yang sedang mempelajari sastra Jawa ini menceritakan bahwa mempelajari gamelan pada awalnya itu tidak gampang. “Belajar gamelan itu pasti susah karena kita harus menyatukan rasa satu pemain ke pemain lainnya dan enggak bisa egois. Itu sangat mengolah rasa,” jelas Amelia.

Selain itu, Amel juga menjelaskan bahwa mahir memainkan alat musik tradisional membawa ia dan rekan-rekannya kepada banyak kesempatan. Sekar Widya Makara sering diundang untuk mengisi acara-acara seperti pertemuan tingkat tinggi (summit), resepsi pernikahan, dan acara-acara lainnya di kantor internasional Rektorat Universitas Indonesia.

Tak hanya itu, Chisato selaku mahasiswi asal Jepang yang sedang mempelajari bahasa Indonesia, mengutarakan kekagumannya akan gamelan. “Gamelan itu suaranya indah. Kalau mendengar, rasanya santai.” ujarnya.

Kemudian Chisato mengatakan bahwa mengenal gamelan pertama kali saat ia berada di Bali. Sejak itu, Chisato tertarik dengan alat musik tradisional Jawa tersebut. Chisato bersama dengan mahasiswa asing lainnya yang sedang belajar di Indonesia memang mengambil kelas gamelan sebagai aktivitas ekstrakurikuler. Ia sendiri telah mempelajari gamelan selama dua bulan dengan intensitas belajar dua kali seminggu. Meskipun ia mengakui bahwa mempelajari gamelan itu sulit, ia mengatakan dirinya tetap berkomitmen untuk meneruskan belajar gamelan.

Sekar Widya Makara hadir sebagai UKM di Universitas Indonesia yang mewadahi anak muda untuk mempelajari budaya tradisional di tengah arus globalisasi. UKM yang didirikan pada tahun 2013 ini bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi mahasiswa yang sudah memiliki bakat dalam karawitan Jawa untuk mengembangkan talentanya lebih lagi maupun bagi pemula yang tertarik dan ingin belajar. Setelah hampir lima tahun berdiri, Sekar Widya Makara baru saja menggelar grand launching di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia pada hari Selasa (20/3).

Ari Prasetyo menyebut acara grand launching tersebut dengan istilah wilujengan. Kata wilujengan sendiri berasal dari kata wilujeng yang artinya selamat. Doktor bidang Ilmu Susastra ini berharap, sesuai dengan artinya, Sekar Widya Makara akan terus ‘selamat’ dan tetap eksis di tengah gempuran budaya-budaya modern.

Lalu acara Grand Launching dibuka dengan lima orang penyanyi, yang disebut dengan sinden, duduk di bagian depan panggung melantukan tembang-tembang Jawa. Alunan harmonisasi suara mereka saat menyanyikan lagu-lagu tradisional Jawa diiringi oleh alat musik tradisional.

Setelah memainkan beberapa tembang, dua penari perempuan dengan busana tradisional hadir ke panggung untuk menarikan tarian Gambyong. Perpaduan antara nyanyian, permainan alat musik, dan tarian ini merupakan karya para mahasiswa Universitas Indonesia. Mereka menamakan dirinya Sekar Widya Makara dan berkomitmen untuk mengembangkan ketertarikan mahasiswa terhadap karawitan Jawa.

 

 
Teks: Alexandro Daniel Marthin
Foto: Alexandro Daniel Marthin
Editor: Halimah Ratna Rusyidah

Komentar



Berita Terkait