Aksi Women’s March, Korban Penggusuran Tamansari Mengaku Kecewa Pada Pemkot Bandung

Friday, 09 March 18 | 06:51 WIB

​Isu Penggusuran Tamansari sudah ada sejak 2017. Penggusuran Tamansari yang dilakukan oleh Ridwan Kamil, bertujuan untuk membuat apartemen untuk hunian mahasiswa ITB, UNPAD, UNPAR. Beberapa ibu-ibu Tamansari menghadiri Womens March Bandung untuk menyuarakan kekecewaannya terhadap Ridwan Kamil.

“Bangunan kita diganti dengan uang sesuai dengan ukuran rumah. Ada yang 8.5 juta, ada yang 9 juta. Itu harga apa? Rumah kita kan ga seharga itu. Berpuluh puluh tahun hidup di tanah sendiri, di kota kelahiran sendiri. Untuk apa uang segitu? Mau beli rumah juga ga bisa. Mau jadi gelandangan di jalan?” jelas Ibu Yeni selaku Korban Penggusuran Tamansari.

​Ketika diwawancara pada (4/3) saat Aksi Women’s March di Bandung, Yeni menjelaskan bahwa Ridwan Kamil tidak memberi kompensasi yang sepadan untuk warga yang digusur.

Kemudian dikutip dari Majalah Ganesha ITB, ganti rugi yang ditawarkan Pemkot Bandung dihitung per rumah alih-alih per kepala keluarga sedangkan satu rumah bisa dihuni sampai lima kepala keluarga. Tapi tentu saja ketidaksetujuan warga tidak hanya soal ganti rugi. Jika pembangunan rumah deret jadi dilakukan, warga akan diberi tempat tinggal di sana selama lima tahun pertama, tapi setelahnya mereka mesti membayar sewa.

Selanjutnya Penggusuran Tamansari dianggap cacat hukum karena Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung belum mengantongi izin lingkungan dan AMDAL.

Tertulis di Majalah Ganesha ITB, Direktur Walhi Jawa Barat, Dadan Ramdan mengatakan, tindakan pengembang dan Pemkot Bandung telah melanggar Pasal 36 ayat 1 UU No. 32 Tahun 2009. Pasal tersebut menyatakan, “Setiap usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki amdal dan UKL-UPL wajib memiliki izin lingkungan,” jelasnya.

Meskipun isu ini sudah pernah diajukan ke pengadilan oleh penduduk Tamansari pada Desember 2017, para ibu yang menghadiri Women’s March ini, menjelaskan dalam orasinya bahwa Pemkot Kota Bandung seharusnya menghormati pengadilan ini, tetapi mereka tetap melakukan penindasan.

Menurut sumber yang kami dapat dari Majalah Ganesha ITB. Beberapa waktu yang lalu (7/3) di daerah sekitar Taman Film terjadi bentrok antara warga RW 11 Tamansari beserta solidaritas yang terdiri dari mahasiswa dan komunitas dengan kontraktor. Warga dan solidaritas yang ingin menduduki Backhoe untuk menghentikan proses pembangunan ditahan oleh ormas. Karena kalah jumlah, Ormas mulai melakukan penyerangan kepada warga dan mahasiswa dengan pemukulan dan melempar batu. Puluhan mahasiswa dan warga terluka cukup parah dan harus dilarikan ke rumah sakit Sariningsih.

Penggurusan ini mengakibatkan keamanan dan kesehatan keluarga di daerah Tamansari terganggu.”Ibu ibu ditakuti banyak orang gila yang datang ke daerah kami. Banyak tikus-tikus keluar karena perubahan sistem makanan mereka. Itu membuat kesehatan anak anak kami terganggu. Itu membuat ibu-ibu menjadi was was, dimana tempat bermain mereka,” ujar mereka.

 

 

Teks: Cherryl Syadera
Foto: Cherryl Syadera
Editor: Halimah Ratna Rusyidah

Komentar



Berita Terkait