Kotak Hitam Perdamaian Aceh: Untuk Warga Aceh yang Rindu Bioskop

Wednesday, 13 August 14 | 09:23 WIB

15 Agustus 2005 adalah sebuah tanggal penandatanganan Nota Kesepakatan antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Indonesia di Helsinki, Finlandia. Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki itu tercipta demi mengakhiri konflik antara kedua kubu yang kemudian dituntaskan melalui perjanjian damai.

Demi memperingati usia perdamaian Aceh yang sudah menginjak angka sembilan tahun ini dan juga 10 tahun tsunami Aceh, muncul inisiatif oleh Kotak Hitam Banda Aceh, sebuah perhimpunan pemuda Aceh, untuk menyelenggarakan sebuah acara pemutaran film alias bioskop ‘dadakan’ gratis yang diberi nama Kotak Hitam Perdamaian Aceh.

Penamaan acara ini terinspirasi dari fungsi kotak hitam sebuah pesawat yang dapat merekam segala kejadian di dalam kopkit dan dapat menguak proses dan penyebab terjadinya kecelakaan suatu pesawat.

Kotak Hitam Perdamaian Aceh akan diberlaksanakan lewat penayangan film bertema seputar rekam jejak proses perdamaian konflik, yang akan dilaksanakan dalam tiga tahap pemutaran pada tanggal 14, 15 dan 16 Agustus 2014. Sebanyak tiga film nasional dan tiga film internasional bertema serupa akan ditayangkan.

Pada sesi pemutaran hari pertama, penonton akan disuguhi film bertemakan situasi dan kondisi dalam periode konflik. Film-film yang akan diputar yaitu Five Broken Cameras (Guy Davidi & Emad Burnat, 2012) dan Jalan Pedang Episode Republik Maluku Selatan (Watchdoc, 2014).

Pemutaran hari kedua akan mengangkat seputar tahap negosiasi perdamaian, dengan memutar film Tjoet Nja’ Dhien (Eros Djarot, 1988) dan No Man’s Land (Danis Tanovic, 2001). Hari terakhir para penonton akan disuguhi penayangan sinema bertemakan paska konflik, yakni One Day After Peace (Erez & Miri Laufer, 2012) dan Cahaya Dari Timur: Beta Maluku (Angga Sasongko, 2014).

Proses pemilihan film dalam acara ini turut dibantu oleh pihak Cinema Poetica, sebuah komunitas pegiat dan pemerhati film yang berbasis di Jakarta. Mereka turut serta terjun membantu dengan menyuplai wacana dan melakukan publikasi ke ranah umum. Windu Jusuf, selaku perwakilan Cinema Poetica yang ikut ambil bagian, menyatakan bahwa film-film itu dapat menjadi referensi perdamaian dalam urusan konflik.

Windu juga berujar bahwa sebelumnya pihak panitia sudah melakukan negosiasi dengan para produser dan sutradara film-film yang akan ditayangkan demi mendapat perizinan. “Film One Day After Peace baru aja kita dapat izin semalam Sabtu (9/8), kami bernegosiasi dengan sutradaranya langsung.” Tutur Windu.

Berbekal fokus untuk memberdayakan film sebagai tontonan milik kolektif, Cinema Poetica juga membantu pelaksanaan sebuah bioskop publik yang dapat diakses oleh setiap warga tanpa terkecuali. Bioskop publik Kotak Hitam Perdamaian Aceh yang memakan waktu persiapan berbulan-bulan ini nantinya akan terbuka bagi para warga yang ingin menonton secara gratis tanpa dipungut biaya.

Aceh sendiri paska bencana Tsunami tahun 2004 tidak lagi memiliki bioskop yang berfungsi sebagai tempat publik untuk menonton film.

Melalui penayangan sinema lewat diadakannya bioskop publik seperti ini, diharapkan kedepannya Aceh dapat membangun kembali bioskop yang bisa membuka akses terhadap berbagai informasi dan pengetahuan layaknya pustaka, bagi Aceh beserta warganya yang nyaris sepuluh tahun absen menonton di bioskop.

Ika Indah Fitria
Maulandy Rizky Bayu Kencana

Gambar: m.suarakomunikasi.com

Komentar



Berita Terkait

The Shape of Water: Memahami, Merelakan, Dipersatukan tanpa Mengenal Batas Entitas
OKK UI 2014: Kita UI!
Menyingkap Kemenangan Clinton
Teknologi dengan Sedikit Repetisi