Kurangnya Pemberdayaan dan Pendidikan Jadi Penyebab Masalah Kesehatan di Asmat

Sunday, 18 March 18 | 10:46 WIB
“Dari hasil wawancara (dengan orang-orang di Distrik Agats -red), permasalahannya itu lebih ke pengetahuan. Lebih gak tau aja sih gimana hidup bersih dan sehat”, tutur Erfi Prafiantini selaku Staf Departemen Ilmu Gizi saat menjelaskan permasalahan yang dihadapi warga kabupaten Asmat khususnya di Distrik Agats, Papua.
Salah satu isu yang menjadi perhatian selama di Asmat adalah kesehatan. Dalam kunjungan tersebut, tim kesehatan mengadakan pelayanan kesehatan di dua distrik, yaitu Distrik Agats dan Kolf Braza selama dua hari.
Di Distrik Kolf Braza, tim medis melakukan pelayanan di dua kampung dengan menumpang di gereja. Karena jumlah pasien per harinya bisa mencapai 150 orang, tim kesehatan tidak bisa melakukan secara mendetail. Sedangkan di Distrik Agats, pelayanan kesehatan sudah cukup lengkap dan memadai karena sudah ada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).
Di distrik Agats, tim kesehatan lebih banyak melakukan diskusi dan wawancara dengan Keuskupan, Bupati, Perwakilan Dinas Kesehatan, Kepala puskesmas, bidang, dan masyarakat. Diskusi tersebut bertujuan untuk mengetahui masalah yang sebenarnya dihadapi oleh penduduk setempat.
“Setelah berdiskusi, kami menyimpulkan bahwa yang perlu diperhatikan ke depannya adalah pemberdayaan, karena masalah yang terjadi sifatnya mendasar dan solusi yang perlu dilakukan dalam jangka panjang, (yaitu -red) yang perlu dilakukan terlebih dulu adalah menumbuhkan sense of belonging pemangku kepentingan dan tenaga kesehatan terhadap upaya yang kami sampaikan jika program tersebut tepat diimplementasikan disana. Dengan demikian praktik baiknya dapat berkelanjutan,” ujar Erfi.
 
Dalam melakukan upaya pemberdayaan tersebut, tim kesehatan juga sudah menyusun modul yang bertujuan untuk mengedukasi tentang kesehatan. Contohnya adalah mengenai pentingnya 1000 hari pertama kehidupan, kebutuhan gizi seimbang, pentingnya mencuci tangan, hingga cara mengolah air hujan. Kebutuhan gizi seimbang pun disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat, seperti misalnya mereka lebih banyak mendapatkan sumber karbohidrat dari sagu.
Menurut Sri Murni selaku Sekretaris Departemen Antropologi, hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah meluruskan pendapat masyarakat setempat mengenai penyakit. Sejumlah penduduk kadang merasa ketika mereka menderita penyakit tertentu, seperti misalnya penyakit kulit korengan karena tidak mandi dan air yang digunakannya kotor, mereka menganggap hal tersebut wajar. Mereka melihat tetangganya mengalami hal yang sama sehingga tidak menganggap hal tersebut sebagai masalah atau penyakit.
Namun, Sri Murni juga menjelaskan bahwa usaha meluruskan pandangan tersebut juga tidak mudah. “Misalnya kita mengajarkan tentang perilaku hidup bersih dan sehat. Kita bilang ‘cuci tangan dengan sabun ya’, tapi kenyataannya di sana sabun harganya tinggi dan airnya gak ada. Kalau kita suruh beli air mineral, itu harganya mahal. Buat makan sehari-hari saja masih susah, bagaimana membeli air mineral? Ya sudah akhirnya mereka memilih gak mandi. Soalnya kenyataannya mereka udah ribuan tahun hidup seperti itu, dengan kondisi air yang gak ada. Jadi artinya mestinya kita yang kembali bertanya, apa sih yang perlu kita lakukan buat mereka?”.
Meskipun demikian, Sri Murni menyampaikan bahwa mereka tetap selalu berharap ada perbaikan kedepannya, baik di bidang kesehatan maupun pendidikan. Keinginan tersebut tentunya perlu diupayakan oleh para pemangku kepentingan setempat.
Selanjutnya, Erfi menyampaikan bahwa timnya memberikan dukungan kepada para stakeholder dengan memberi mereka pelatihan karena merekalah yang nantinya bertugas mengedukasi masyarakat.
Dokter Erfi dan Sri Murni merupakan anggota tim dari UI Peduli yang melakukan kunjungan ke Kabupaten Asmat, Papua pada 16-22 Februari 2018. Tim tersebut  beranggotakan  24 orang yang terdiri dari civitas akademika se-UI dengan latar belakang yang beragam, seperti dosen Fakultas Kedokteran, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Teknik, Mahasiswa, hingga perwakilan Ikatan Alumni (Iluni) UI.
Teks: Nadia Farah
Foto: Istimewa
Editor: Halimah Ratna Rusyidah

Komentar



Berita Terkait