Lari di UI, Bisa di Mana?

Wednesday, 05 February 20 | 06:27 WIB

Lari merupakan salah satu olahraga yang sering dilakukan oleh masyarakat. Selain murah, lari juga mudah untuk dilakukan. Setiap orang dapat melakukan olahraga ini tanpa terkecuali. Sebagai olahraga yang sering dilakukan oleh masyarakat, olahraga lari juga merupakan olahraga yang sering dilakukan oleh mahasiswa khususnya mahasiswa UI. Setiap pagi atau sore hari terlihat banyak mahasiswa yang melakukan varian dari olahraga ini. UI sendiri sudah menyediakan fasilitas khusus untuk yang ingin berlari dengan trek lari di Stadion UI. Akan tetapi, banyak pula yang melakukannya di luar Stadion UI, yakni di lingkar UI atau Rotunda.

“Pertama, pemandangannya sendiri lebih enak. Lebih hijau gitu kalau menurutku. Kalau di Stadion UI ‘kan kita butuh KTM buat masuk. Kedua, kalau di Stadion UI tuh kaya cuma trek (lintasan—red) doang jadi kaya bener-bener buat olahraga. Kalau jalan gitu ga enak karena orang-orang pada lari gitu,” ujar Rahmi Ayuning, Alumni Vokasi 2014 ketika ditanya alasannya lari di luar Stadion UI.

Rahmi mengaku bahwa ia sudah sering berlari sejak masih mahasiswa. Ia baru saja selesai berlari di sekeliling Rotunda ketika kami mewawancarainya. Meskipun kini sudah bekerja dan tidak lagi menjadi mahasiswa, Rahmi masih rutin melakukan olahraga lari karena menurutya lari memiliki dampak yang signifikan bagi kesehatannya. Ia menuturkan bahwa ketika ia sudah memasuki dunia kerja, waktu olahraganya mulai berkurang dan jadwal makan serta tidurnya jadi tidak teratur. Berlari menurutnya salah satu cara untuk menjaga kesehatannya meskipun hanya ia lakukan seminggu tiga kali. Cukup dengan jogging selama tiga puluh menit di Rotunda atau jalan lingkar UI pada sore hari sudah cukup untuk menyegarkan badan dan pikirannya.

Rahmi juga mengatakan bahwa ia ingin agar kendaraan-kendaraan yang lewat di Rotunda dibatasi saat sore hari, karena menurutnya pihak UI seharusnya tahu bahwa di sore hari banyak orang yang menggunakan Rotunda sebagai tempat alternatif untuk lari. Terakhir ia juga berpesan agar Stadion UI dapat dibuka untuk umum. Ia amat menyayangkan bila salah satu fasilitas di UI tersebut hanya diperuntukkan pada sivitas akademika UI saja karena hal tersebut menyebabkan UI terlihat sebagai kampus yang eksklusif.

Berbeda dengan Rahmi, Andika Wasista dari Fakultas Teknik, lebih memilih untuk memanfaatkan fasilitas Stadion UI. Alasannya karena menurutnya lari di Stadion UI lebih sepi dibanding lari di luar Stadion UI sehingga ia merasa privasinya lebih terjaga dengan berlari di dalam Stadion UI.

“Soalnya kan kuliah sudah mulai hari ini. Jadi kalau di luar kaya masih rame aja jadi mending di stadion aja sih,” ujarnya.

Andika sendiri melakukan olahraga lari secara rutin minimal empat kali seminggu. Tujuannya yang utama adalah untuk menjaga kesehatan. Akan tetapi selanjutnya ia juga menuturkan kalau lari juga untuk menunjangnya dalam latihan persiapan menuju Teknik Cup 2020. Ia biasanya berlari dengan jarak sekitar 4-5 km atau sekitar 10-12 putaran selama 30 menit.

Meski merupakan seorang yang rutin berlari di Stadion UI, Andika sendiri mengeluhkan belum adanya fasilitas loker untuk menaruh barang atau tas yang dibawa oleh orang-orang yang ingin berolahraga. Tas dan barang hanya ditaruh di kursi-kursi tribun dan hal ini sangat kurang dari segi keamanan. Terakhir, sama seperti Rahmi, Andika merasa bahwa Stadion UI seharusnya dapat dibuka untuk umum. Hal ini karena menurutnya tidak semua mahasiswa UI memanfaatkan Stadion UI untuk berolahraga, khususnya lari, sehingga manfaatnya kurang maksimal bila tidak digunakan masyarakat umum.

Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan Stadion UI ini hanya diperuntukkan untuk sivitas akademika UI saja? Berkaitan dengan hal itu, Adam Yuniadi, salah seorang anggota PLK UI bagian URC yang sedang bertugas menjaga Stadion UI menjelaskan bahwa hal ini memang sudah tertulis dalam peraturan bahwa Stadion UI hanya bisa digunakan oleh sivitas akademika UI, seperti mahasiswa, dosen, karyawan, dan alumni.

“Mungkin juga karena komplainan dari mahasiswanya juga dulu yang merasa kok masyarakat umum bisa menggunakan Stadion UI,” ujarnya.

Berkaitan dengan sebabnya yang detail karena apa ia sendiri mengaku tidak tahu banyak. Hanya saja menurutnya peraturan bahwa Stadion UI hanya diperuntukkan untuk sivitas akademika UI masih belum efektif karena masih sering ada orang luar yang bisa masuk.

“Harusnya sih pakai KTM (untuk verifikasi—red) ya. Tapi kadang-kadang ‘kan mahasiswa UI juga ga mungkin dia lari-lari bawa KTM. Dia cuma pakai celana pendek buat olahraga. ‘Kan ga mungkin juga bawa KTM. Nah, hal itu yang bikin kita sering kecolongan,” ujarnya.

Ia menyarankan, bila ingin peraturan tersebut efektif, seharusnya di pintu masuk Stadion UI disediakan portal masuk seperti halnya di Perpustakaan UI, yang hanya bisa dilewati bila mahasiswa atau sivitas akademika UI membawa KTM atau kartu pengenal UI lainnya untuk verifikasi.

 

Teks: Sultan Falah Basyah
Kontributor: Rahayu Zahra
Foto: Anggara Alvin
Editor: Nada Salsabila

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas

Komentar



Berita Terkait