Livi Zheng: Sineas Indonesia, Produser Tiga Film Hollywood

Sunday, 01 November 15 | 05:17 WIB

Bagi kebanyakan sineas, mendapat kesempatan diputarnya film karya mereka di Hollywood, masih sebatas mimpi. Namun tidak bagi Livi Zheng.

Livi Zheng, sutradara muda berbakat asal Blitar, Jawa Timur mendapatkan kesempatan untuk ikut serta di ajang Oscar.

Perempuan kelahiran 3 April 1989 itu, dengan filmnya yang berjudul ‘Brush with Danger’  rencananya akan rilis di Indonesia tanggal 26 November mendatang.

Kemudian, dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, Program Vokasi Universitas Indonesia mengadakan sebuah seminar bertajuk “Daya Saing SDM Indonesia di Era MEA”.

Sekitar empat ratusan mahasiswa memenuhi Aula Terapung Perpustakaan Pusat UI hari Rabu (21/10). Puluhan mahasiswa tampak berdiri, tak dapat jatah kursi.

Livi Zheng siang itu hadir sebagai pembicara. Ia banyak bertutur soal pengalaman jatuh bangunnya menggarap filmnya hingga bisa sampai sekarang. Dalam film bergenre action itu, Livi bertindak selaku sutradara, produser, sekaligus pemain.

“Aku tuh dulu asisten yang ngangkatin lampu. Nggak pernah bayangin bisa menjadi produser film di Hollywood,” tutur Livi.

Meski telah 11 tahun tinggal di luar negeri, yakni tiga tahun di Beijing dan delapan tahun di Amerika, Livi siang itu berbicara Bahasa Indonesia dengan lancar.

Ia berbicara dengan gerak tubuh bersemangat, sesekali terdengar logat Jawa Timur yang khas.

Perempuan yang dari kecil telah belajar bela diri Wushu ini setelah lulus SMA di Beijing, Ia melanjutkan kuliah S-1 di Universitas Washington, Amerika Serikat, mengambil jurusan ekonomi.

Ketika di Beijing dulu, Ia sering bermain sebagai pemeran pengganti. Lalu di Amerika, Ia mencoba peruntungannya dengan menjadi tenaga sukarela untuk pembuatan set film. Ia juga memberanikan diri memberi naskah film kepada produser terkenal Hollywood.

“Saya menulis treatment (naskah skenario –red) 30 kali, baru produser bilang film ini layak syuting,” kenang Livi.

“Saya sempat down, tapi saya harus sukses!,” tambahnya bersemangat.

Setelah menyelesaikan kuliah S1 di Universitas Washington, untuk memperdalam kemampuan ilmu perfilman, Livi kemudian melanjutkan S2 di University of Southern California, jurusan Cinematic Arts.

Saat ini Ia masih berkuliah, mudik tiga bulan hingga Desember untuk mengurus rilis film Brush with Danger di Indonesia.

“Akhirnya film saya akan beredar di Indonesia. Di Amerika Serikat, sambutannya cukup hangat dan sempat diputar selama dua bulan di jaringan bioskop ternama di sana,” ujarnya bahagia.

Di Amerika Serikat, filmnya telah rilis bulan November 2014. Tak lama setelah pemutaran, Ia mendapat kiriman e-mail dari penyelenggara Academy Awards atau Oscar. Isi e-mail tersebut adalah undangan mengikutsertakan filmnya ke ajang Academy Awards.

Semula Livi mengira surat elektronik itu ulah orang iseng. Ia mengabaikannya. Hingga seminggu kemudian, surat dari penyelenggara Oscar datang lagi. Kali ini, ia sedikit percaya. Surat itu mengatakan Ia bisa mengirimkan salinan skenario untuk disimpan di perpustakaan Oscar.

“Saya tak langsung percaya. Takutnya bohong. Apalagi waktu itu filmnya masih main di bioskop,” katanya.

Akhirnya Ia hantarkan sendiri skenario ke alamat penyelenggara Oscar, “Baru dari situ saya percaya,” kenangnya sambil tertawa.

Mengecek peraturan Oscar di situsnya, disebutkan film yang tayang di bioskop komersil di wilayah Los Angeles selama tujuh hari berturut-turut berhak ikut serta di ajang Oscar.

Film Brush with Danger memenuhi syarat untuk itu. Hal ini cukup membanggakan mengingat dari 40.000 film yang masuk, hanya sekitar 1% film yang terpilih.

Menanggapi acara ini, Catherine Patricia Samosir, salah seorang peserta seminar yang merupakan mahasiswa jurusan Komunikasi program Vokasi UI turut bicara.

“Banyak orang nggak peduli proses, saya melihat Mbak Livi begitu bersemangat dan berusaha keras untuk mendapatkan apa yang Ia inginkan. Puji-pujian yang Ia dapatkan saat ini adalah bonus dari perjuangannya beberapa tahun silam,” kata Catherine.

Sejauh ini, Livi telah memproduseri tiga film Hollywood, diantaranya The Empire’s Throne, Legend of The Best, dan Brush with Danger.

Kedepan, Livi berencana untuk menggarap film ke empatnya di tanah air Indonesia. Ia telah membawa tim intinya dari Amerika ke Indonesia, dan mereka setuju untuk bekerja sama dengan tim Indonesia di tahun-tahun yang akan datang.

Rosi Sofiya F.A

Editor: Melati Suma Paramita

Foto: print.kompas.com

Komentar



Berita Terkait