Lolongan Hati Howl

Sunday, 14 September 14 | 08:02 WIB

Sutradara                     : Hayao Miyazaki
Produser                      : Toshio Suzuki
Pemeran                       : Chieko Baisho, Kimura Takuya, Akihiro Miwa
Tanggal rilis                 : 20 November 2004
Genre                              : Animasi, Fantasi

Ditengah hiruk pikuk kota dengan suara kereta dan polusinya, tampak sebuah istana besar besar bergerak di kejauhan. Istana yang begitu besar, tetapi tampak rapuh karena rongsokan yang menyusunnya ini menarik perhatian semua pasang mata di kota. “Oh, itu pasti istana Howl yang bergerak” mereka akan katakan saat melihatnya, tidak terkecuali Sophie, gadis pembuat topi dari sebuah toko kecil di pinggir kota.

Sophie yang bersikap acuh terhadap rumor mengenai Howl sang penyihir yang suka mengambil hati wanita itu pun kemudian secara tidak sengaja bertemu dengan Howl. Howl yang saat itu sedang dibuntuti oleh bawahan Penyihir Waste (Witch of the Waste) memanfaatkan Sophie untuk kabur, dan disaat bersamaan memaparkan keberadaan Sophie. Sophie pun diberikan kunjungan oleh sang penyihir Waste, yang kemudian mengutuk Sophie menjadi seorang wanita tua berusia 90 tahun.

Dengan tujuan mencari obat bagi kutukannya, Sophie memulai sebuah perjalanan mengarungi Negerinya. Dalam perjalanan ia malah bertemu orang-orangan sawah yang ternyata juga korban kutukan. Orang-orangan sawah ini kemudian menunjukkan Sophie jalan menuju Istana bergerak Howl. Dalam istana tersebut, Sophie bertemu Markl, murid Howl, dan Calcifer, sumber energi istana bergerak itu. Calcifer menawarkan sebuah kesepakatan kepada Sophie untuk menyembuhkan kutukannya, dengan bayaran Sophie harus menyembuhkan kutukan Calcifer. Sophie menolak, dan saat Howl kembali ia memperkenalkan dirinya sebagai tukang bersih-bersih baru istana.

Disaat yang bersamaan, Negara Sophie dan Negara tetangga sedang dalam perang, dan kedua Negara ini meminta bantuan kepada Howl sang penyihir. Howl, yang harus merubah dirinya dalam perang, mengalami masalah karena semakin banyak ia berubah, maka semakin sulit baginya untuk kembali ke bentuk manusia. Sophie yang mencintai Howl, tidak ingin Howl pergi meninggalkan mereka, dan memintanya mundur dari perang. Ia pun menyamar sebagai Ibu Howl dan menemui penyihir Istana untuk menyatakan kemunduran Howl. Sang Penyihir istana menolak, dan berusaha keras menyerang Istana Howl.

Howl kemudian memutuskan untuk melindungi Istana miliknya dan Sophie, dan menyatakan pada Sophie bahwa dia tidak akan melarikan diri lagi karena ia memiliki hal yang ingin ia lindungi, yaitu Sophie. Sophie yang panik, kemudian berusaha keras menemukan kembali bagian dari Howl yang hilang dan mencari cara bagaimana mereka semua bisa tetap bersama. Dimulailah pencarian Sophie terhadap Howl.

Howl’s Moving Castle merupakan film animasi garapan Hayao Miyazaki dari Studio Ghibli yang dirilis di Jepang pada November dan secara Internasional di Venesia bulan September 2004. Film ini diadaptasi dari novel karya penulis Inggris Diana Wynne Jones. Karena kesuksesannya, pada tahun 2005 dibawah Pixar dan Walt Disney, film ini dirilis kembali dalam versi Inggris dengan perubahan pengisi suara.

Film ini memperoleh keuntungan sebesar 190 juta dolar di Jepang, dan 235 juta dolar di kancah Internasional. Menjadikannya salah satu film Jepang tersukses secara finansial sepanjang masa. Secara umum, film ini memperoleh tanggapan positif dari berbagai kritikus. Seperti Rotten Tomatoes yang memberikan poin 87 persen dari 157 review. Ada pula yang menyebut film ini ‘keajaiban visual’ atau memberikan pujian karena kemampuan film ini menggabungkan ‘keajaiban yang tampak kekanakan, dengan motif dan emosi yang kompleks’. Film ini pun membuktikan eksistensinya di dunia perfilman dengan masuk nominasi di 78th Academy Award untuk kategori Film Animasi Terbaik.

Seperti halnya karya Miyazaki lainnya, film ini pun menunjukkan alur cerita dan penyajian visual yang rumit dan memuaskan baik bagi penggemar setia Miyazaki, atau penonton biasa. Begitu banyak kelebihan yang dapat dikatakan mengenai film ini, antara lain kemampuannya untuk menyajikan sebuah kisah pencarian diri yang romantis tanpa adegan atau dialog klise picisan yang biasa timbul dalam kisah cinta animasi.

Selain itu, penggambaran latar maupun detail yang dilakukan dengan hati-hati menghasilkan sebuah sajian visual yang menyenangkan dan disaat yang bersamaan juga informatif. Alur yang dimiliki film ini pun naik dan turun di saat yang tepat untuk membuat penonton terjebak dalam keresahan hati Sophie maupun ketakutan yang dirasakan oleh Howl.

Tokoh Sophie sendiri merupakan tokoh yang sangat menarik. Dia adalah gabungan antara seorang wanita muda yang berani dan seorang wanita tua keibuan. Ini menjadikan Sophie sebagai tokoh utama yang bukan saja menonjol, tapi juga bisa menonjolkan karakter tokoh lain. Tak banyak yang bisa dibahas mengenai kekurangan film ini. Salah satunya mungkin, paradoks yang dirasakan penonton ketika dengan banyaknya informasi yang disajikan film, tetap terasa adanya lubang di berbagai rincian yang dibutuhkan untuk memahami film ini lebih dalam.

Di luar itu, film ini berhasil menunjukan: film animasi bukan cuma konsumsi anak-anak, tapi juga bisa jadi konsumsi orang dewasa. Sementara, bagi penggemar Hayao Miyazaki, film ini jadi sebuah hadiah istimewa setelah dia memutuskan untuk pensiun. Dan untuk yang belum mengenal Miyazaki, film ini mampu menjadi gerbang masuk buat karya-karya miyazaki lainnya yang menakjubkan.

Putri Diani P. Maharsi
Gambar: fanpop.com

Komentar



Berita Terkait

Kita di Bawah Purnama
Pertemuan untuk Masa Lalu
Hidup Seorang Anna Karenina
Bridge to Terabithia: Imaji Perobek Sepi