Memaknai 70 Tahun Kemerdekaan Indonesia dalam Perspektif Sejarah

Sunday, 23 August 15 | 05:02 WIB

Departemen Sejarah Universitas Indonesia menyelenggarakan seminar bertajuk ‘Interpreting 70 Years of Indonesian Independence Amidst Global Changes in Historical Perspective’. Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menjadi keynote speaker pada seminar yang diadakan pada Kamis (20/8) lalu.

Di depan mahasiswa, sejarawan, dan akademisi UI, SBY memaparkan mengenai refleksi kesejarahan dan proyeksi masa depan 70 tahun Indonesia merdeka. Ia juga menjelaskan tantangan apa saja yang akan dihadapi Indonesia tahun-tahun mendatang. Menurutnya, tantangan utama adalah ideologi Pancasila yang legitimasinya mulai dipertanyakan. SBY berpendapat bahwa Pancasila adalah pilihan terbaik bagi Indonesia.

“Ke depan, mari pastikan Pancasila tetap relevan, menjawab tantangan bangsa dan bukan hanya membuat Indonesia bersatu, tapi juga maju,” ujar SBY.

Sebuah sistem Third Way adalah pilihan yang SBY terapkan dalam setiap kebijakannya selama ia menjabat sebagai Presiden. Ia memilih sistem presidensial dengan checks & balances yg baik, serta sistem negara kesatuan dengan desentralisasi dan otonomi daerah yang tepat dan adil.

“Semangat dan desain konstitusi harus menjamin peran dan partisipasi rakyat yang tinggi tapi negara tidak boleh lemah. Pembangunan Indonesia harus menuju sustainable growth with equity,” tutur SBY.

SBY menegaskan bahwa pembangunan sejatinya ada untuk manusia bukan manusia untuk pembangunan. Masyarakat Indonesia harus turut menyukseskan transformasi ‘Ekonomi Sumber Daya Alam’ ke Ekonomi berbasiskan SDM, IPTEK, inovasi, dan kewirausahaan’

Di tengah merebaknya ideologi transnasional yang menganggu stabilitas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), SBY menekankan pentingnya harmonisasi antara Islam dengan demokrasi. Diperlukan nasionalisme yang positif, bukan nasionalisme dengan pikiran sempit. Ia juga menekankan bahwa hubungan internasional memang perlu namun rakyat Indonesia harus menghindari kecendrungan internasionalis dalam bersikap.

Di akhir pidatonya, ia  memprediksi bahwa Indonesia akan menjadi negara emerging economy di tahun 2030. Tahun 2045 akan menjadi sebuah negara yang kuat dan akan menjadi negara maju di akhir abad ke-21.

“Inilah tugas sejarah kita terutama para adik-adik sejarawan disini, untuk menuliskan sejarah kemajuan bangsa kita ini,” ujarnya menegaskan.

Irsyad Muhammad

Editor: Kirana Aisyah

 

Komentar



Berita Terkait