Membaca Siklus Gerhana Matahari

Tuesday, 08 March 16 | 04:09 WIB

Momentum gerhana matahari dapat diperhitungkan jauh-jauh hari sebelum terjadi karena sistem revolusi bumi dan rotasi bulan telah diketahui. Hal tersebut juga menjadi landasan fakta bahwa sebenarnya, gerhana merupakan gejala alam yang berulang akibat sifat edar bumi dan bulan terhadap matahari.

Berdasarkan rilis resmi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), peristiwa Gerhana Matahari Total (GMT) akan terjadi di wilayah Indonesia esok hari (9/3).

Menurut Widya Sawitar selaku pembina Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ), terdapat keistimewaan fenomena gerhana pada tahun ini, karena peristiwa tersebut terjadi di seluruh wilayah Indonesia dan selebihnya di lautan lepas, Samudera Pasifik.

Jalur total gerhana melalui 12 provinsi, praktis melewati daerah yang berpenduduk padat, seperti Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara.

(Baca: Butuh Alat Khusus Untuk Amati Gerhana Matahari)

apa-sih-yang-menyebabkan-gerhana-matahari-total-QLmx5SeDfq

Siklus Gerhana Matahari

Menurut Widya Sawitar, secara singkat, siklus gerhana matahari dijelaskan melalui adanya pertemuan antara bulan dan matahari dalam bidang geometri yang sama, yaitu ketika bulan berada di depan matahari selama aktivitas edarnya. Dengan posisi bulan menghalangi matahari tersebut, terjadilah Gerhana Matahari Total (GMT), Gerhana Matahari Cincin (GMC), atau Gerhana Matahari Sebagian (GMS).

“Gerhana matahari paling cepat terjadi dalam rentang 18 bulan. Secara statistik, satu titik hanya dilalui gerhana matahari yang sama setiap 375 tahun sekali. Tentunya dengan beberapa pengecualian seperti Palembang yang dilewati gerhana matahari total sebanyak tiga kali dalam tempo setengah abad,” tutur Widya.

Selain hal tersebut, Widya juga menjelaskan bahwa siklus gerhana matahari diatur oleh rangkaian beberapa siklus yang bernama Saros. Siklus itu berulang setiap 18 tahun 11 hari  8 jam. Menurutnya, siklus Saros juga menyebabkan pergeseran posisi bayangan GMT pada tahun 2017 di Amerika Serikat.

Berdasarkan keterangan dari Widya, suasana bumi setelah terjadinya GMT akan kembali seperti semula. Karena itu, ia berharap, masyarakat memiliki pengetahuan dan wawasan, khususnya dalam bidang astronomi untuk menyikapi suatu fenomena alam yang terjadi.

Vanda Situmeang

Gambar: elshinta.com dan techno.okezone.com

Editor: Frista Nanda Pratiwi

Komentar



Berita Terkait