Membedah Cara Berpikir Ala Sherlock Holmes

Friday, 13 May 16 | 04:51 WIB

Sejak Sir Arthur Conan Doyle, seorang pengarang asal Skotlandia, merilis novel legendarisnya tahun 1887 dengan mengangkat tokoh detektif berpemikir cepat dan kritis dalam memecahkan kasus, Sherlock Holmes tumbuh menjadi sebuah industri.

The Guinness Book of World Records mencatat Sherlock Holmes sebagai tokoh yang paling sering ditampilkan di film-film sepanjang sejarah, dengan jumlah 200 aktor yang memerankannya.

Kini, novel Sherlock Homes telah berkembang menjadi empat novel lanjutan, 56 cerita pendek, serial televisi, hingga film layar lebar. Di media dalam jaringan (daring), para pengagum tokoh fiktif ini pun membentuk fandom (fan kingdom –red) bernama Sherlockian.

Beberapa kekuatan tokoh Sherlock yang sering disorot oleh para penggemar maupun dalam kajian akademisi adalah kemampuannya dalam berpikir deduktif, observasi yang kuat, dan regulasi emosi.

Berpikir dengan Sistem Dua

Membedah kemampuan Sherlock tersebut, Edward Andriyanto Soetardhio, M.Psi selaku dosen di Fakultas Psikologi UI mengenalkan cara berpikir seperti Sherlock dalam seminar bertajuk “How to Think Like Sherlock Holmes” pada Sabtu (16/4) lalu di Auditorium Gedung H, Fakultas Psikologi UI Depok.

Seminar ini diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Psikologi UI, sebagai salah satu rangkaian acara 2nd Annual Psychology Summit.

Diawali dengan memaparkan pengetahuan mengenai sistem kognisi manusia, dosen yang akrab disapa Mas Ewa itu menjelaskan mengenai dua sistem dalam berpikir.

“Sistem satu yang intuitive berpikir lebih cepat dalam pengambilan keputusan. Sedangkan sistem dua yang rasional, lebih lambat dan biasanya menyelamatkan keputusan kita,” tuturnya.

Menurutnya, kedua sistem berpikir ini bekerjasama, tetapi sistem satu hanya mengobservasi sekilas, sehingga sistem tersebut bekerja lebih ringan dari sistem dua.

Turut hadir pagi itu, Raymond Godwin, S.Psi., M.Psi selaku Ketua Jurusan Psikologi Binus University yang menyebut dua sistem berpikir itu dengan istilah controlled dan automatic thinking.

Automatic thinking merupakan cara berpikir mayoritas manusia. Sifat alamiah orang, umumnya adalah lompat pada keputusan. Ini adalah bentuk pertahanan diri,” jelasnya.

Edward kemudian menjelaskan bahwa yang membedakan cara berpikir kita dan Sherlock Holmes, terletak pada penggunaan sistem dua. Sherlock, menurutnya, memiliki skema-skema yang rapi dalam kerangka berpikirnya.

“Identifikasi masalah, mendefinisikannya, memilih strategi, mengorganisasi info (informasi -red) dan sumber daya, mengawasi penyelesaiannya, kemudian mengevaluasi kesuksesan, merupakan alogaritma berpikir Sherlock yang harus dilatih dengan terus dipakai,” tuturnya.

Raymond pun menambahkan, ada dua hal yang membedakan cara berpikir Sherlock dengan orang biasa pada umumnya.

“Jumlah info yang dimiliki di otak dan kemampuan untuk mengorganisasikannya. Percuma kita pintar, tapi tidak suka baca. Info yang kita miliki itu-itu saja,” katanya.

16-04-18-11-32-38-249_deco

Berpikir Berdasarkan Data

Lebih lanjut, Raymond menjelaskan bagaimana Sherlock menggunakan data untuk memecahkan masalah.

“Sherlock berpikir dari mencari data, lalu mengambil sebuah keputusan. Secara efektif Sherlock melakukan seleksi terhadap apa yang penting untuk diingat,” tuturnya.

Edward menyarankan, untuk mendapatkan data-data ini, seseorang dapat menggunakan ketajamannya saat melakukan observasi. Cara ini dapat dimulai dari mengobservasi hal-hal yang kita suka.

“Sherlock mampu mengingat informasi ketika ia tertarik dan termotivasi untuk mengingat. Pasang perhatian, jangan suka lompat pada keputusan,” sarannya.

Menyimpulkan diskusi tersebut, kedua akademisi ini sepakat terhadap aplikasi empat rumus Sherlock, yaitu selektif, objektif, inklusif, dan engage sebagai upaya untuk berpikir kritis dalam pemecahan masalah.

“Menjadi selektif berarti mempunyai tujuan. Objektif, tahu situasinya. Inklusif, menggunakan semua panca indera kita. Engage berarti menaruh perhatian kita pada hal itu,” jelas Raymond.

Terakhir, Edward menekankan untuk mengadopsi strategi berpikir Sherlock, dengan tetap menjadi diri sendiri.

“Jangan jadi seperti Sherlock, tapi jadilah seperti kamu. Gunakan ketajaman kamu,” pungkasnya.

Teks dan foto: Melati Suma Paramita

Editor: Frista Nanda Pratiwi

Komentar



Berita Terkait