Mempertanyakan Arti Rupawan

Friday, 17 October 14 | 06:12 WIB

Banyak komentar yang menyertai kemunculan kedua akun tersebut. Ada yang menanggapinya kritis dan adapula yang sebaliknya. Niken, mahasiswi Teknik Komputer, memberikan pendapatnya terhadap kemunculan kedua akun tersebut. “Di satu sisi baik, untuk menyalurkan kecantikan dan kegantengan seseorang. Tapi, kesannya seperti mengotak-kotakan definisi dari cantik dan ganteng itu sendiri,” ujarnya.

Memang belum diketahui secara pasti motivasi dan indikator kedua pemilik akun tersebut dalam memilih foto. Saat kedua pemilik akun itu berusaha Suara Mahasiswa UI hubungi, pemilik akun @anakuicantik mengatakan tidak bersedia diwawancara, sementara akun @anakuiganteng tidak merespons.

Hingga Selasa, 16-September-2014, foto yang diunggah di akun @anakuicantik sudah mencapai 156 foto. Di saat yang sama, akun @anakuiganteng memiliki jumlah unggahan 71 foto. Jumlah pengikutnya pun hanya mencapai angka 4.000-an pengikut, tidak sebanyak akun anakuicantik yang berjumlah 12.000-an.

Ghia, salah seorang mahasiswi yang fotonya diunggah oleh akun @anakuicantik, mengaku baru megetahui fotonya itu setelah diberitahu temannya. Ia tidak mengetahui pasti mengapa fotonya bisa bersanding dengan foto-foto mahasiswi ‘cantik’ UI lainnya.

Saat diwawancara, Ghia bercerita bahwa sebelum fotonya diunggah oleh akun @anakuicantik, pemilik akun terlebih dahulu menjadi pengikut akun Instagram pribadinya. Kemudian saat ia menggunggah foto dirinya, akun pemilik @akunanakuicantik memberikan like. Foto tersebutlah yang kemudian ada di akun @anakuicantik.

Berbeda dengan Ghia, Bunga, yang fotonya juga masuk di akun anakuicantik, mengaku bahwa foto dirinya tiba-tiba saja masuk di akun anakuicantik. Bunga juga baru mengetahui fotonya masuk ke dalam akun tersebut setelah diberitahu temannya. “Bahkan, sebelumnya gue gak tahu kalau ada akun anakuicantik sampai muncul mention di pemberitahuan,” tutur mahasiswa Fakultas Ekonomi itu.

Secara pribadi, Bunga merasa tidak terganggu dengan keberadaan akun yang mengunggah foto dirinya itu. “Gue memang men-share foto gue di Instagram buat dilihat orang, jadi gak begitu masalah sih,” katanya santai.

Ketika ditanya apakah keduanya merasa cantik, masing-masing memiliki jawaban berbeda. Ghia yang merupakan mahasiswa FISIP itu menjawab,

“Dasarnya setiap cewek itu cantik, pede (percaya diri—red) aja sih, gue merasa cantik, kan penilaian orang sama dengan cara kita menilai diri sendiri.” Sementara Bunga menjawab malu-malu, “Biasa aja sih, gue merasa narsis kalau ditanya begitu, tapi memang banyak teman yang bilang gitu.”

Keduanya juga memiliki pendapat sendiri mengenai arti kata cantik. “Yang pasti, cantik itu enak dilihat dan gak ngebosenin,” jelas Ghia. “Menurut gue cantik itu tidak hanya cantik fisik namun harus dilengkapi dengan innerbeauty juga, kalau ada cewek cantik secara fisik tapi kelakuannya gak benar dan macam-macam pasti cantiknya hilang. Cantik juga mesti bisa menginspirasi orang-orang,” tanggap Bunga.

Tak jauh berbeda dengan yang dialami Ghia dan Bunga, Digo, yang fotonya masuk ke dalam akun anakuiganteng mengaku tidak tahu mengapa fotonya bisa masuk di akun @anakuiganteng. Ia mengaku kalau foto dirinya yang masuk di akun @anakuiganteng merupakan foto yang seminggu sebelumnya ia unggah di akun Instagram pribadinya.

“Mungkin saja sama teman gue dimasukkin foto itu,” ujarnya.

Bila dilihat dari deskripsi profil akun @anakuiganteng, prosedur memasukkan foto memang tidak rumit, cukup dengan menyebutkan nama pengguna Instagram dan data jurusan mahasiswa yang ingin dimasukkan ke kolom komentar di salah satu foto yang diunggah akun itu.

Kata Pengamat

Menanggapi akun @anakuicantik dan @anakuiganteng, Saras Dewi, dosen Filsafat UI, mengkritik kedua akun tersebut dalam menilai cantik dan ganteng. “Persoalannya adalah konsep cantik atau ganteng itu merujuk pada standar tertentu, yaitu standar pemilik akunnya. Hal tersebut tidak salah, yang jadi masalah kalau semua orang di UI menganggap yang cantik atau ganteng itu hanya mereka,” terang Saras Dewi.

Persepsi tentang cantik sebenarnya bisa dibuat oleh siapa saja. Konsep kecantikan pun dapat dikatakan jamak sebagaimana yang ditemukan di beberapa kebudayaan.

“Misalnya orang Samoa, wanita cantik menurutnya adalah wanita yang mememiliki badan gemuk, orang Jepang menganggap cantik itu ketika memiliki kulit yang putih, sedangkan di Indonesia, indikator kecantikan bermacam-macam, ada yang menganggap cantik itu putih, hitam manis, berkulit kuning, dan lainnya. Hematnya, konsep kecantikan adalah jamak,” jelas Saras.

Sebagai seorang akademisi, Saras Dewi menganggap bahwa setiap akun di media sosial seperti Instagram memiliki dua sisi yang patut diperhatikan. “Instagram punya efek baik, komunikasi bisa menjangkau ruang spasial yang luas, namun akun itu juga menciptakan eksploitasi. Contohnya, ada orang-orang yang ingin hanya gaya-gayaan, jadi secara tak langsung dia mendorong kepalsuan,” ujarnya.

Mengenai pertanyaan apakah keberadan kedua akun itu merusak citra akademik UI, jawabannya adalah tidak juga. Saras menjelaskan bahwa pada dasarnya kegiatan mahasiswa di kampus terbagi menjadi dua, yakni kegiatan akademik dan non-akademik.

Akun-akun tersebut dianggap sebagai bagian dari kegiatan non akademik, yakni berupa kegiatan yang tidak memiliki nilai di atas kertas. Perlu juga untuk diketahui, bahwa untuk memiliki akun instagram atau menjadi pengikut dari suatu akun adalah kebebasan setiap orang, tidak ada kekuasaan hukum yang dapat melarang hal tersebut.

Di sisi lain, terdapat juga komentar mengenai akun ini. ”Harusnya yang dibuat adalah akun-akun yang dapat mendorong kegiatan akademis mahasiswa. Akun anakuicantik itu hanya memperlihatkan cantik secara fisik, namun tidak memperlihatkan cantik secara maknawi. Buatlah akun anakuipintar hehe,” tanggap Safira, mahasiswa FE, dengan bercanda.

 

Retno Andhini
Foto: Hana Maulida

Komentar



Berita Terkait

Kini, Kampus UI Juga Punya Hari Bebas Kendaraan Bermotor
Tiga Faktor Maraknya Aksi Pencopetan di Wisuda UI
Aksi Pencopetan Saat Wisuda, PLK Sudah Melakukan Penjagaan Optimal
Maraknya Aksi Pencopetan di Wisuda UI