Mendobrak Zaman, Kartini Tak Hanya Bicara Emansipasi Perempuan

Friday, 22 April 16 | 02:31 WIB

Masyarakat umumnya mengenal Kartini sebagai sosok feminis yang menyuarakan kemajuan perempuan.

Hal itu tidak terlepas dari kumpulan suratnya dalam Door Duisternis tot Licht yang kemudian diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang dalam bahasa Indonesia.

Namun, gagasan Kartini sebenarnya bukan hanya soal perempuan, tetapi juga soal kemanusiaan, pendidikan, dan nasib masyarakat pada umumnya.

Hal tersebut senada dengan apa yang diungkapkan Bondan Kanumoyoso, sejarawan UI, saat ditemui Pers Suara Mahasiswa UI pada Kamis (21/4) di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI.

“Dasarnya, Kartini adalah seorang yang kritis, jadi segala macam hal yang dia tidak yakini, dia akan kritik. Dan, itu bukan hanya soal perempuan, tapi berbagai ketimpangan yang ada pada masa kolonial, termasuk kondisi masyarakat Jawa dan Hindia Belanda secara keseluruhan,” ujar Bondan.

Secara garis keluarga, Kartini memang berasal dari kalangan terdidik. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro adalah bupati Demak yang terkenal menyukai kemajuan.

Ayah dan pamannya juga merupakan dua dari empat bupati di Jawa yang pandai berbahasa Belanda. Beberapa kali, Kartini pun diajak blusukan oleh ayahnya ke daerah untuk melihat realita masyarakat pribumi yang penuh ketimpangan.

Bondan Kanumoyoso, sejarawan UI, saat ditemui Pers Suara Mahasiswa UI pada Kamis (21/4) di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI.

Bondan Kanumoyoso, sejarawan UI, saat ditemui Pers Suara Mahasiswa UI pada Kamis (21/4) di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI.

Analogi Eropa untuk Hindia Belanda

Kartini juga kerap kali menyuarakan perkembangan Eropa, yang kala itu mengalami perubahan besar-besaran dengan merelevansikannya pada kasus di Hindia Belanda, misal, soal Revolusi Prancis.

“Kartini membaca literatur mengenai revolusi yang terjadi di Prancis dan membayangkannya terjadi di Hindia Belanda, yang kemudian dapat mengubah tatanan masyarakat Hindia Belanda,” ungkap Bondan.

Menurut Sejarawan lulusan doktoral Universitas Leiden ini, pemikiran Kartini melampaui zamannya, sebab revolusi di Indonesia benar terjadi pada abad ke-20, jauh setelah Kartini memikirkan hal itu.

“Ini mungkin aspek lain Kartini yang tidak banyak diketahui, yang menunjukkan konsep pemikiran Kartini jauh lebih luas dari emansipasi perempuan,” ujarnya.

Seperti yang diungkapkan Pramoedya Ananta Toer dalam Panggil Aku Kartini Saja, bacaan Kartini mengenai Barat memang tidak sedikit, semisal, karya-karya Couperus, Augusta de Wit, Marie Marx-Koning, Van Eeden, dan sebagainya.

Pramoedya hanya menyayangkan semangat Kartini tidak diiringi oleh suatu arahan akademik lanjutan.

Abendanon dan Penyeleksian Surat Kartini

Mengenai pemikiran emansipasi perempuan yang melekat pada Kartini, peran J.H. Abendanon, Direktur Pengajaran dan Ibadat Hindia Belanda, dalam menyusun Door Duisternis tot Licht tidak dapat dipisahkan.

Dipaparkan oleh Pramoedya Ananta Toer, buku itu merupakan “one man business” atau “urusan pribadi” Abendanon, karena ia tidak pernah meminta pertimbangan komposisi penyusunan surat kepada kalangan Indonesia.

Abendanon adalah pendukung gagasan politik etis dan paham feminisme. Ia menginginkan sosok perempuan pribumi yang ideal dan memiliki pemikiran yang selaras dengan dirinya.

“Kartini adalah sosok ideal bagi dia,” terang Bondan. Menurutnya, “Ia (Abendanon—red) ingin menunjukkan bahwa ini (Kartini—red) adalah salah satu prototype (bentuk—red) dari keberhasilan politik etis,” ujar Bondan.

Selain melalui kegiatan korespondensi, Kartini sebenarnya juga menuangkan pemikirannya melalui berbagai tulisan di majalah-majalah Hindia Belanda.

Namun setelah wafat, ia justru lebih terkenal karena surat-suratnya yang disusun oleh Abendanon dibandingkan tulisan-tulisannya di berbagai media.

Dalam menyusun surat-surat itu, Abendanon membatasinya pada persoalan-persoalan yang berkaitan dengan pengajaran, kepedulian terhadap perempuan, dan moralitas.

“Persoalan-persoalan di luar kerangka politik etis dan dapat menggugat legitimasi kolonial tidak diinginkan Abendanon muncul dalam kumpulan surat Kartini yang dihimpunnya,” jelas Bondan.

Pada awal abad ke-20, Abendanon dianggap sebagai sahabat pribumi karena usaha penghimpunan surat Kartini itu.

Namun, Pramoedya mengkritisi hal ini dalam Panggil Aku Kartini Saja, “Apakah ia (Abendanon—red) tepat mendapatkan penghormatan itu? Sejarah saja yang bisa menentukan.”

Savran Billahi

Foto: Koleksi KITLV Digital Image Library Universiteit Leiden dan Haydr Suhardy

Editor: Frista Nanda Pratiwi

 

Komentar



Berita Terkait