Menguak Misteri Pembunuhan di Pulau Tak Bertuan

Wednesday, 03 January 18 | 07:59 WIB

Judul buku      : And Then There Were None (Indonesia: Lalu Semua Lenyap)

Penulis             : Agatha Christie

Tebal Buku      : 296 Halaman

Tahun Terbit    : Januari 2014 (Cetakan Ketiga)

Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama

Seorang diterkam beruang,tinggal dua

Dua anak Negro duduk berjemur;

Seorang hangus, tinggal satu.

Seorang anak Negro yang sendirian;

Menggantung diri,habislah Sudah.

Kutipan diatas merupakan penggalan sajak dalam novel And Then There Were None. Novel ini diklaim sebagai karya terbaik Agatha Christie, seorang novelist berkebangsaan Inggris yang menekuni genre misteri, seperti Sir Arthur Conan Doyle. Jika Conan memiliki Sherlock Holmes, maka Agatha memiliki Hercule Poirot. Namun, dalam novel ini Hercule Poirot tidak dicantumkan untuk menyelesaikan kasus pada buku ini.

Novel And Then There Were None menceritakan tentang sepuluh orang yang diundang secara misterius ke sebuah pulau bernama Pulau Negro di dekat Pantai Devon. Sepuluh orang ini memiliki latar belakang pekerjaan yang bereda, yaitu; polisi, sekretaris, mantan jenderal perang, mantan tentara perang, ibu rumah tangga, pembantu rumah tangga dan suaminya, dokter, jaksa, dan seorang anak muda yang sombong. Sepuluh orang ini memiliki masa lalu yang kelam, khususnya dalam tindakan kriminal.

Agatha memberi petunjuk kepada para pembaca, mengenai apa yang akan terjadi kepada sepuluh orang yang berada di pulau tersebut. Dalam karyanya, seseorang membaca sebuah sajak yang berada di rumah mereka menginap.

 

“Sepuluh anak Negro makan malam;

Seorang tersedak tinggal sembilan.

Sembilan anak Negro bergadang jauh malam;

Seorang ketiduran,tinggal delapan.

Delapan anak Negro berkeliling Devon;

Seorang tak mau pulang, tinggal tujuh.

Tujuh anak Negro mengapak kayu;

Seorang terkapak,tinggal enam.

Enam anak Negro bermain sarang lebah;

Seorang tersengat, tinggal lima.

Lima anak Negro ke pengadilan;

Seorang ke kedutaan, tinggal empat.

Empat anak Negro pergi ke laut;

Seorang dimakan ikan herring merah, tinggal tiga.

Tiga anak Negro pergi ke kebun binatang;

Seorang diterkam beruang, tinggal dua

Dua anak Negro duduk berjemur;

Seorang hangus, tinggal satu.

Seorang anak Negro yang sendirian;

Menggantung diri, habislah Sudah, ”

 

Dalam buku tersebut, seorang tokoh menyadari bahwa sepuluh orang ini akan dibunuh seperti yang tertulis di sajak itu. Awalnya, sembilan orang lainnya tidak menggubris sajak tersebut. Beberapa hari kemudian, salah satu orang terbunuh Karena tersedak racun saat menikmati makan malam. Suasana makin diperkeruh dengan rekaman misterius yang menggaung ke seluruh rumah, berisi catatan kriminal yang dilakukan oleh sepuluh orang tersebut. Setelah satu orang terbunuh, mereka saling menuduh satu sama lain sebagai dalang dibalik perbuatan ini.

Kubu-kubu pun bermunculan agar mereka merasa aman. Meski demikian, adanya kubu tidak menghentikan pembunuhan yang terjadi. Sembilan orang ini tetap akan terbunuh satu persatu sesuai dengan sajak yang tertulis.

Agatha berhasil membuat para pembacanya merinding, karena dia menuliskan secara spesifik bagaimana seseorang itu terbunuh, sehingga para pembaca harus berfikir keras siapa dalang dibalik tindakan tersebut. Umumnya, pembaca novel Bergenre misteri bisa menebak siapa yang membunuh, karena mereka mendapatkan petunjuk dari deduksi yang dipaparkan detektifnya. Lain halnya dengan karya ini, tidak ada detektif sehingga pembaca harus berdeduksi sendiri dalam menentukan dalangnya.

Saat tersisa 4 orang, Agatha memberikan “bumbu” pada ceritanya. Jika pembaca sudah menebak siapa dalang dibalik tokoh ini, maka Agatha akan memperumit jalan ceritanya lagi, sehingga para pembaca merasa “dikelabui” dan mereka harus berdeduksi lagi. Di akhir buku, ada seseorang yang bertahan hidup, dan dia akan menjelaskan mengapa dia melakukan hal tersebut dan bagaimana dia bisa membunuh sembilan orang lainnya tanpa diketahui orang lainnya. Buku ini memberitahu pembaca, meskipun orang-orang ini memiliki pekerjaan yang beradab, mereka tetap harus mendapatkan ganjaran yang setimpal atas tindakan kriminal yang dilakukan.

Karya ini tidak lepas dari kontroversi. Pertama, judul “And Then There Were None” adalah judul pembaruan dari judul sebelumnya yaitu “Ten Little Niggers”. Karya tersebut mendapat kritikan keras karena menggunakan istilah “nigger” yang bersifat rasis terhadap kaum Kulit hitam. Kedua, Karya ini memiliki alur yang serupa dengan salah satu karya Arthur Conan Doyle yang berjudul A Study in Scarlet.

Meski demikian, karya ini mendapat respon positif dari masyarakat. And Then There Were None telah diadaptasi ke drama pementasan, drama radio, film, dan serial TV. Terakhir, karya ini diangkat menjadi sebuah miniserie serial tv dengan judul yang sama di chanel BBC One di tahun 2015, diperankan oleh beberapa aktor terkenal seperti Charles Dance (Game of Thrones), dan Aidan Turner (The Hobbit).

 

 

Teks: Cherryl Syadera

Foto: Cherryl Syadera

 

Komentar



Berita Terkait