Menjadi Intelektual Bermata Cacing dan Bermata Elang Bersama Sahabat Beasiswa (SB)

Thursday, 07 February 19 | 08:00 WIB

Minggu, 27 Januari 2019 silam, Sahabat Beasiswa (SB) mengadakan Grand Launching dan Gathering Sahabat Beasiswa 2019 di Tempo Institute, Jakarta Selatan. Grand launching ini mengusung tema ‘Milennial, Scholarship, and Contribution to Our Country’ yang sejalan dengan tagline Sahabat Beasiswa 2019 yaitu ‘The Largest Scholarship Community in Indonesia’. Sahabat Beasiswa merupakan komunitas yang memiliki misi untuk memperluas kesempatan pencari beasiswa untuk mendapat informasi dan bimbingan dari orang-orang yang telah berhasil mendapat beasiswa yang digagas oleh Radyum Ikono dan telah memiliki 61 chapter (cabang-cabang SB) dengan lebih dari 1000 anggota sehingga komunitas ini mudah dijangkau karena bagi peminat yang ingin bergabung dapat menghubungi chapter SB terdekat.

Akbar Nikmatullah Dachlan sebagai Executive Director SB 2019 memiliki target selama masa kepemimpinannya, yaitu 10.000 member dengan distribusi 100 orang setiap 100 chapter (termasuk di daerah Papua dan sekitarnya). Sosok yang biasa dipanggil Abay ini merupakan awardee beasiswa LPDP Batch pertama dan sempat menjabat sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (BEM FE UI). Sebagai kata sambutan, Abay menekankan motivasi mulia dari komunitas ini dan fokusnya pada tahun ini untuk merangkul komunitas-komunitas lain, termasuk Tempo dan BEM dari banyak universitas. Hal ini dirasa penting mengingat jumlah anggota yang lebih dari 1000 orang, namun masih banyak orang yang belum mengenal komunitas ini. Kolaborasi SB dengan komunitas lain diharapkan akan memperluas jangkauan komunitas ini sehingga pertukaran informasi dapat lebih intens kepada para pelajar di Indonesia.

Berangkat dari pengalaman mendapat beasiswa dari institusi, Abay merasa memang masih banyak hal yang bisa dikembangkan untuk menjangkau setiap pelajar di Indonesia dalam hal akses informasi. Misalnya, di Taiwan terdapat beasiswa yang hanya membutuhkan skor IELTS sebesar 3.0 yang sayangnya informasi semacam ini belum banyak diketahui oleh para pelajar di Indonesia. Platform ini bukan hanya sebagai penyedia informasi bagi anggota saja, karena seringkali pengurus juga merupakan scholarship hunter. Pemberian informasi tidak hanya dilakukan dalam satu aktivitas, namun terdapat bermacam-macam kegiatan bagi anggotanya.

Variasi aktivitas dari komunitas ini terdiri atas SchoTalk yaitu webinar atau diskusi daring, KeOn (Kelas Online), Kelas I&T (IELTS dan TOEFL), Roadshow, SB Summit, dan WISH (World Indonesia Scholarship Festival). WISH merupakan wujud nyata kolaborasi SB dengan berbagai komunitas. WISH dilaksanakan secara bergantian di 21 daerah bekerjasama dengan Mata Garuda, jaringan alumni LPDP awardee. WISH tidak hanya terdiri dari exhibition mengenai tips dan trik untuk mendapatkan beasiswa melainkan juga merupakan sebuah platform diskusi dengan pemerintah daerah mengenai aspirasi mereka terhadap kebutuhan ilmuwan dari bidang tertentu yang pastinya berbeda-beda tiap daerah, misalnya di Jawa Barat saat ini dibutuhkan para ekonom kreatif sedangkan di Papua dibutuhkan ahli engineering. Aspirasi ini akan disalurkan oleh SB kepada institusi pemberi beasiswa dan kedutaan sehingga kuota serta prioritas penerima beasiswa menjadi sesuai dengan kontribusi yang diharapkan daerah.

Pada Grand Launching kemarin, diskusi dipandu oleh Hani Citra Utami yang merupakan training analyst at medco and E&P Natuna Ltd dengan menghadirkan Kartika Susanti (Chevening Awardee), Falma Kemalasari (LPDP Awardee), dan Puti Ara Zena (Fullbright Awardee) sebagai narasumber. Prinsip yang dibawa oleh masing-masing narasumber ialah bahwa mendapat beasiswa merupakan hasil kerja keras dan ketekunan karena pencari harus menjadi pribadi yang visioner terhadap kontribusi yang akan dibawa dan pantang menyerah. Selain itu, narasumber juga menekankan bahwa motivasi mendapat beasiswa harus benar dan jelas antara mencari pengalaman yang berbeda dan bagaimana mempersiapkan mentalitas yang adaptif serta mencari relasi yang lebih luas dengan mempertimbangkan keragaman budaya dan pola hidup di benua yang akan dituju. Grand Launching ini juga dihadiri oleh Alfatih Timur, CEO kitabisa.com yang menceritakan kisah motivasi dan ide awal dari kitabisa.com yang serupa dengan pendiri SB, Bang Iko. Alfatih yang akrab disapa Timmy ini mengangkat kisah pendiri Grameen Bank, Muhammad Yunus, yang mendirikan banknya dari keresahan yang didapat saat bergaul akrab di suatu daerah dengan seorang ibu yang terjerat hutang. Timmy juga menekankan bahwa anak muda harus menemukan keseimbangan antara bermata elang yang melihat secara global dan teoritis serta bermata cacing yang mau memiliki keingintahuan mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada lingkungan dan masyarakat sekitar. Pada akhir kata, Iko menyampaikan harapannya agar visi dan motivasi yang mendasari terbentuknya Sahabat Beasiswa dapat memberikan dampak yang lebih awal yang juga dimiliki oleh Sahabat Beasiswa ini diharapkan membawa imbas yang lebih luas lagi di masa mendatang.

Teks: Caroline Augustine Atmojo
Foto: Kezia Estha Tumbol
Editor: Grace Elizabeth Kristiani

Pers Suara Mahasiswa UI 2019
Independen, lugas, dan berkualitas!

Komentar



Berita Terkait

IMR CUP, Kompetisi Bagi Para Perantau
Paradigma Kekerasan Seksual di Area Kampus
UI Raih Peringkat 80 di Dunia, Direktur Kemahasiswaan Akui Bangga
Aksi Peringatan 2 Tahun Kasus Novel Baswedan