Menjadi Supporting System bagi UMKM ala Qazwa

Tuesday, 03 September 19 | 09:36 WIB

Sosok Dikry Paren, penggagas Qazwa.

Suara Mahasiswa Universitas Indonesia (Suma UI) berkesempatan mengunjungi kantor Qazwa di bilangan MH Thamrin, Jakarta Pusat pada Rabu (28/8). Saat kami berkunjung belasan pekerja perusahaan startup tersebut tengah sibuk menyusun strategi pemasaran hingga operasional platform pembiayaan syariah berbasis daring.

Qazwa merupakan perusahaan pembiayaan syariah yang didirikan pada Maret 2018 dengan berfokus menjadi penengah atau perantara bagi investor serta pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam proses penanaman modal. Untuk pengoperasiannya, perusahaan yang didirikan oleh Brithma Argandi dan Dikry Paren ini menggunakan sistem peer to peer lending syariah yang mempertemukan pemberi pinjaman dan pencari pinjaman. Dengan cara tersebut, baik investor maupun pelaku UMKM dapat menjangkau satu sama lain. Saat ini, Qazwa sudah memiliki 35 mitra klien.

Dalam kesempatan mengunjungi Qazwa, Suma UI berbincang langsung dengan co-founder sekaligus Chief Operating Officer (COO) dari Qazwa yaitu Dikry Paren. Ia menjelaskan bahwa proses tumbuh dan berkembangnya Qazwa tak dapat dipisahkan dari latar belakang pendidikannya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia jurusan Bisnis Islam. Pada masa kuliah, Dikry mendapat banyak pembelajaran mengenai sistem pembiayaan syariah seperti model dan persoalannya. Hal itu yang kemudian memberinya gambaran tentang dunia pembiayaan syariah.

Berangkat dari masa-masa pembelajaran tersebut, Dikry dan teman-temannya pun mulai berinovasi dengan membangun startup pembiayaan syariah. Dengan mengadaptasi perkembangan zaman, mereka percaya bahwa teknologi dapat memberi manfaat untuk mengembangkan keuangan syariah.

“Kita meyakini bahwa dengan teknologi yang berkembang sekarang bisa membuat akses keuangan syariah untuk masyarakat menjadi lebih mudah. Jadi, teknologi sebenarnya kalau dapat dimanfaatkan itu bisa membantu banget untuk ekonomi syariah, perkembangannya, dan akses permodalan untuk masyarakat,” ujar Dikry.

 

Suasana kerja di kantor Qazwa.

 

Mendorong Pelaku UMKM untuk Berkembang melalui Fintech

Mengingat bahwa Qazwa berfokus di bidang keuangan dan mengedepankan teknolog, menjadikan startup ini sebagai salah satu perusahaan berbasis financial technology (fintech). Namun sayangnya, fintech sendiri masih kurang dilirik oleh masyarakat Indonesia, khususnya bagi para pelaku UMKM. Di samping itu, keberadaan fintech ilegal yang tidak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) makin memperburuk persepsi yang beredar di masyarakat. Maka dari itu, sebagai perusahaan berbasis fintech yang telah terdaftar secara resmi di OJK, Qazwa pun berupaya membangun kepercayaan masyarakat akan sistem fintech itu sendiri. Tapi bukan perkara mudah, hal tersebut justru menjadi tantangan tersendiri bagi Qazwa.

“(Fintech—red) dari segi teknologi itu netral. Tapi karena ada beberapa oknum fintech yang ilegal ataupun yang tidak terdaftar, yang curang, yang berbuat tidak baik, akhirnya membuat nama peer to peer lending fintech itu jelek,” kata Dikry.

Melalui perusahaan fintech ini, Qazwa membantu pelaku UMKM bertemu para investor untuk mengembangkan usahanya. Selaku perantara, Qazwa berusaha bersikap selektif dalam menyalurkan dana agar uang yang disalurkan tidak menjadi sia-sia. Meskipun begitu, tapi Qazwa tidak menetapkan kriteria yang sulit untuk para pelaku UMKM.

“Kriteria kita adalah (bagi pelaku usaha—red) yang memang dia butuh pembiayaan untuk dia ‘beli-beli barang’ di warungnya,” jelas Dikry.

Untuk memastikan dana yang tersalur akan digunakan dengan baik, Qazwa mempelajari skema usaha pelaku UMKM sebelum menyalurkan dana. Apabila dinilai cocok dan aman, perusahaan startup tersebut akan langsung menyuntikan modal usaha. Proses yang dilakukan pun tidak memerlukan waktu lama, cukup satu minggu hingga dana usaha cair.

 

Karyawan Qazwa mengoperasikan website.

 

Yang Muda yang Berani Membuka Usaha

Tidak hanya pelaku UMKM, Qazwa juga berkomitmen memberi dukungan pada pelaku usaha muda. Mengingat bahwa anak muda lebih akrab dengan kemajuan teknologi, maka hal itu bisa dimanfaatkan mereka untuk mengembangkan usahanya melalui fintech.

“Untuk pelaku UMKM yang di-brief atau di-lead sama anak muda, (apabila—red) integrated dengan teknologi, fintech akan bantu, kok, ke depannya,” tukas alumni angkatan pertama Bisnis Islam UI tersebut.

 

Teks: Nada Salsabila
Foto: Nada Salsabila
Editor: Ramadhana Afida Rachman

 

Pers Suara Mahasiswa UI
Independen, Lugas, dan Berkualitas!

Komentar



Berita Terkait

Berdonasi Tanpa Uang