Menjajal KRL MRT Jakarta, Masa Depan Transportasi Kaum Urban Ibukota

Thursday, 24 January 19 | 02:24 WIB

Pada hari Selasa, 22 Januari 2018 ini, penulis yang juga merupakan anggota Teman MRT Jakarta (sebuah komunitas yang dibentuk dari gabungan tiga komunitas penggemar kereta api) mendapat undangan dari PT MRT Jakarta (MRTJ) selaku operator untuk turut mencoba merasakan KRL MRTJ sebelum masa uji coba untuk umum dibuka. Berdasarkan keterangan yang diberikan, uji coba kereta akan dimulai pukul 12.30 WIB. Namun, sebelum menuju ke stasiun, penulis diajak terlebih dahulu ke kantor MRTJ yang berlokasi di Wisma Nusantara lantai 22 untuk dilakukan pengarahan mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama berada di area stasiun dan kereta MRT Jakarta ketika uji coba berlangsung. Setelah lengkap memakai Alat Pelindung Diri yang lebih akrab disebut APD, penulis lantas beranjak meninggalkan Wisma Nusantara menuju Stasiun Bundaran Hotel Indonesia (HI), tempat dimana kami akan menaiki Ratangga (sebutan lain dari KRL MRTJ yang diberikan oleh Anies Baswedan).

Stasiun Bundaran HI sendiri terlihat masih dalam tahap penyelesaian namun bentuk stasiun sudah terlihat dengan jelas. Gate yang tersedia belum berfungsi sehingga penulis masuk melalui jalan yang tidak dipasangi gate menuju area Concourse atau lazimnya bernama beranda peron.

Penulis langsung disuguhi dengan Passenger Information Display (PID) atau layar informasi berukuran besar yang menunjukkan jadwal keberangkatan kereta. Layar ini membentang di dua peron yang kedua peronnya memiliki tujuan sama, ke Stasiun Lebak Bulus, karena Stasiun Bundaran HI sendiri merupakan salah satu stasiun terminus atau destinasi terakhir dari jalur MRT Jakarta.

Pada stasiun MRTJ yang berada di bawah tanah, terdapat alat yang bernama Platform Screen Doors (PSD) atau Pintu Tepi Peron setinggi tiga meter yang bertujuan untuk mencegah penumpang agar tidak terlalu dekat dengan rel demi mengurangi risiko terserempet kereta atau jatuh ke rel. Sayangnya, ketika penulis mengunjungi stasiun tersebut, Tacticle Paving atau blok taktil terlihat belum terpasang.

Ratangga tiba di peron 2 dan penulis segera menaikinya. Rangkaian kereta yang terdiri dari 6 kereta ini tidak memiliki kereta yang permanen untuk wanita karena KKW (Kereta Khusus Wanita) hanya akan diberlakukan pada jam-jam tertentu. Namun, saat ini informasi waktu tersedianya KKW belum tersedia dalam rangkaian kereta. Secara fisik, kereta ini sepintas terlihat seperti kereta komuter biasa namun lebih modern.

Dua kotak pendingin udara yang terpasang di atap kereta berbeda dari kereta komuter biasa yang hanya memiliki satu kotak. Dua kotak pendingin ini seharusnya bisa membuat kereta tetap terasa sejuk walau terisi penuh. Namun, saat uji coba ada beberapa lubang pendingin yang dimatikan sehingga penulis tidak bisa merasakan seberapa dingin kereta ini sebenarnya. Sementara secara teknis, guncangan pada kereta ini hampir tidak terasa meskipun masinis uji coba yang merupakan warga negara Jepang asli mengendarai kereta ini dengan cepat.

Ada fitur menarik pada kereta ini yang tidak dimiliki kereta komuter biasanya. Fitur ini adalah Interkom Darurat agar para penumpang bisa berkomunikasi dengan petugas kereta ketika berhadapan dengan situasi genting. Selain Interkom Darurat, penumpang dapat keluar melalui pintu darurat yang dapat diakses melalui kabin kereta dan dilanjutkan dengan berjalan pada jalan setapak yang terdapat di pinggir rel sampai menuju stasiun terdekat apabila Ratangga mengalami gangguan, seperti tidak dapat bergerak.
Pelayanan lain, yakni kursi prioritas, dapat dijumpai pada setiap ujung persambungan kereta yang ditandai dengan warna biru gelap. Terdapat pula ruang untuk kursi roda pada kereta 3 dan 4. Mengenai bagaimana para penumpang penyandang disabilitas atau pengguna kursi roda bisa mencapai stasiun terdekat, Kevin Haikal selaku karyawan perusahaan MRT Jakarta yang berada dalam kereta saat uji coba berlangsung menjelaskan, “Nanti, sebelum diadakan uji coba umum untuk kereta MRTJ ini, akan diadakan tes keadaan darurat yang didahului skema-skema terlebih dahulu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan”. Apabila banjir menerjang ibukota termasuk Stasiun MRTJ, Kevin kembali menjelaskan, “Antisipasi banjir terhadap stasiun yang dibawah tanah, yakni pintu masuk stasiun yang dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah. Jika air tetap menerobos masuk, telah disediakan celah-celah pada lantai di dalam stasiun yang berfungsi untuk membuang air”.
Menariknya, meskipun ponsel penulis tidak mendapatkan jaringan operator seluler ketika berada di bawah tanah, ternyata MRT Jakarta akan menyediakan jaringan WiFi di semua stasiunnya. “Kami akan menyediakan WiFi gratis kepada semua pengguna kereta MRT Jakarta yang berada di semua stasiun,” terang Kevin.
Waktu tempuh yang dibutuhkan untuk melakukan satu perjalanan dari Stasiun Bundaran HI ke Lebak Bulus membutuhkan kurang lebih 30 menit lamanya. Setelah tiba di Stasiun Lebak Bulus, kereta kembali lagi ke arah sebaliknya namun penumpang diharuskan untuk berganti kereta di Stasiun Blok M. “Sekarang masih dilakukan tes beban, makanya jadwal (MRTJ masih –red) sering berubah,” pungkas karyawan MRTJ itu.

 

Stasiun Blok M sendiri masih dalam tahap penyelesaian layaknya Stasiun Bundaran HI. Namun, stasiun yang terdapat di jalur layang ini sedikit lebih baik karena beberapa Tacticle Paving sudah terpasang. Ada perbedaan pintu tepi peron dengan stasiun yang berada di bawah tanah, yaitu ketinggian pintunya yang lebih rendah.

Tidak lama, Ratangga menuju arah Bundaran HI tiba di Stasiun Blok M. Penulis menaikinya yang sekaligus menjadi penutup dari uji coba MRTJ ini.

 

Penulis: Adrian Falah

Foto: Adrian Falah

Editor: Grace Elizabeth Kristiani

 

Pers Suara Mahasiswa UI 2019

Independen, lugas, dan berkualitas!

Komentar



Berita Terkait

Yakinkan Swing Voters, Asumsi.co Adakan Nobar Debat Pilpres
Hari Buruh Internasional 2018, FSPMI: Nawa Cita Jokowi Telah Gagal
Anies Baswedan: Kita Terlalu Mengagungkan Bhinneka dan Melupakan Tunggal
Makna ‘Kartu Kuning’ dari Ketua BEM UI 2018 kepada Presiden Joko Widodo