Merawat Keberadaan Bahasa Daerah

Tuesday, 17 March 20 | 05:54 WIB

Bahasa daerah menjadi salah satu bahasa yang kerap digunakan dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai masyarakat Indonesia. Penggunaannya banyak ditemukan di berbagai tempat atau waktu khusus, biasanya saat bertemu dengan sesama penuturnya.

Mahasiswa UI tidak hanya berasal dari Jakarta saja, melainkan dari berbagai daerah di Indonesia. Ada yang berasal dari pulau Sumatera, pulau Sulawesi, bahkan juga ada yang berasal dari Papua. Masing-masing membawa bahasa daerah mereka ketika sampai di kampus UI. Ketika berkuliah di UI, mahasiswa daerah sering berinteraksi dengan mahasiswa yang berasal dari Jakarta, dan pastinya berlogat Jakarta. Dalam sebuah bahasa daerah, juga terkandung budaya di dalamnya, apalagi saat bertutur. Pada kesempatan kali ini, kita akan menelaah sedikit mengenai bahasa daerah. Suara Mahasiswa UI berkesempatan mewawancarai beberapa mahasiswa daerah yang tinggal di Asrama UI, juga berkesempatan mewawancarai Totok Suhardjianto, M.Hum., Ph.D. selaku Ketua Departemen Linguistik FIB UI secara daring

Bahasa daerah menurut PP No. 57 Tahun 2014 adalah bahasa yang digunakan secara turun temurun oleh warga negara Indonesia di daerah-daerah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Namun, dari sudut pandang ilmu bahasa, bahasa daerah adalah bahasa-bahasa etnis yang dituturkan oleh masyarakat sebuah negara yang bukan merupakan bahasa pengantar utama dalam kehidupan bernegara, berdagang, berinteraksi sosial, dan sebagainya yang biasanya disebut sebagai bahasa nasional.

Untuk kondisi saat ini, menurut Totok, penutur bahasa daerah yang termasuk bahasa besar (dengan jumlah penutur lebih dari 1 juta orang), tidak teralu banyak masalah. Dalam konteks UI, adanya paguyuban, menurut Totok, menjadi salah satu penunjang terjaganya bahasa daerah ini. “Dari sebagian besar penutur bahasa daerah di UI, pada umumnya mereka mulai meninggalkan bahasa daerahnya,” ujar Totok dalam wawancara daring.

Dari wawancara dengan mahasiswa yang tinggal di Asrama, Suara Mahasiswa juga menemukan data yang mendukung mengenai peran paguyuban dalam menjaga keberadaan bahasa daerah. Menurut Aldo, mahasiswa FISIP UI 2018, ia aktif berbahasa daerah dengan teman-temannya sepaguyuban di Asrama UI. Sering kali ia merasa tidak mengerti dialek atau bahasa Jakarta tertentu ketika temannya bercakap dengannya. Meskipun sering terpapar dialek Jakarta, menurutnya dirinya tidak begitu terpengaruh dengan hal itu dan tetap bisa mempertahankan bahasa daerahnya.

Menanggapi hal yang dialami oleh Aldo, Totok menyatakan bahwa bahasa tidak bisa dilepaskan dari budaya, dan terdapat faktor-faktor lain yang memengaruhi kemampuan berbahasa daerah seseorang seperti intensitas berbahasa daerah, berapa lama tinggal di daerah asal, serta mobilitas kontak dengan orang-orang dari suku lain dengan bahasa Indonesia dan sebagainya. “Jadi masalahnya bukan terletak pada terpaparnya, tetapi lebih pada Individunya,” pungkas Totok di akhir wawancara.

 

Teks: Ahmad Thoriq
Foto: Istimewa
Editor: Nada Salsabila

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas

Komentar



Berita Terkait