Mereformasi Paradigma Diplomasi Ekonomi

Tuesday, 16 May 17 | 05:52 WIB

Dinamika ekonomi-politik global “memaksa” negara-negara lebih aktif dan sigap mengelola hubungan internasionalnya, khususnya bidang perekonomian. Dalam ilmu hubugan internasioanal dikenal dengan Diplomasi Ekonomi.

Diplomasi ekonomi diartikan sebagai komunikasi antar dua negara atau lebih dengan misi mencapai kesejahteraan ekonomi nasional suatu negara (Diplomasi, 2016).

Diplomasi ekonomi menjadi senjata dengan kedigdayaan yang besar untuk dapat bekerja sama di sistem internasional.

Diplomasi ekonomi menekankan proses negosiasi bukan struktur yang memengaruhi isi kebijakan. Oleh karena itu, kapasitas dan kompetensi institusional menjadi salah satu elemen penting dalam melakukan proses negosisasi.

Ironisnya, paradigma pemahaman dan tolak ukur keberhasilan diplomasi ekonomi Indonesia masih sempit dan terbatas.

Laporan Kemenlu RI (2011), menujukkan Indonesia hanya melihat indikator keberhasilan diplomasi ekonomi dari peningkatan volume perdagangan. Kemudian, dari mitra–mitra dagang Indonesia. Jelas indikator ini tidaklah cukup untuk menilai suskes tidaknya diplomasi ekonomi Indonesia.

Yang menjadi persoalan ketika perdagangan Indonesia sedang tidak membawa angin segar lantas kita langsung menilai bahwa kinerja diplomasi Indonesia buruk dan tidak bekerja dengan maksimal. Padahal masih banyak sekali indikator yang dapat dijadikan tolak ukur keberhasilan diplomasi ekonomi Indonesia.

Menurut van Bergeijk & Moons dalam Diplomasi (2016), paling tidak tolak ukur dan pemahaman diplomasi ekonomi mengandung tiga elemen, yakni bagaimana pengaruh dan hubungan politik untuk mempromosikan investasi, pemanfaatan aset-aset ekonomi untuk biaya konflik, memperkuat hubungan simbosis mutualisme, dan mengkonsolidasikan iklim politik untuk mencapai tujuan internasional.

Nyatanya, Indonesia dalam kancah internasional sudah banyak melakukan terobosan dan menjadi pelopor pembuatan kebijakan, serta menyumbang pemikiran guna memajukan kerja sama internasional.

Beberapa capaiannnya antara lain; strategi perumusan “Cetak Biru” di APEC dan G-20, peran Indonesia berhasil memperjuangkan kerja sama yang berimbang dan relevan. Tidak hanya itu, dalam koordinasi anggota G-20, Indonesia mengemban misi memulihkan keadaan ekonomi global dan menjaga sistem perekonomian yang kuat dan berkelanjutan. Serta pelaksanaan peran Indonesia di Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).

Dalam mengahadapi situasi ekonomi global, Indonesia telah mengambil sikap proaktif untuk mempersiapkan diri dalam skenario terburuk atas realitas pertumbuhan ekonomi di Negara zero Euro yang melambat.

Langkah yang diambil dalam hal ini dengan memperkuat sektor pariwisata dengan terus mempromosikan investasi pariwisata melalui diplomasi ekonominya. Berdasarkan data World Economic Forum (WEF) 2013, peningkatan Peringkat Daya Saing Pariwisata menempatkan Indonesia berada di peringkat ke-70 dari 140 negara tujuan wisata dunia yang dinilai tahun 2013.

Di samping itu, pada program The 12th Edition UNWTO Awards, memposisikan Indonesia menjadi finalis dengan tiga kategori penghargaan untuk kegiatan spesifik pariwisata.

Melihat berbagai capaian kerja sama luar negeri, peran aktif dan buah pikir Indonesia dalam lingkup Internasional, sudah saatnya kita mereformasi paradigma dan tolak ukur diplomasi ekonomi dengan tidak hanya melihat dari indikator perdagangannya saja. Banyak indikator-indikator yang telah berhasil Indonesia capai dalam ranah Internasional.

Diplomasi ekonomi jangan melulu dipandang dari satu perspektif saja, melainkan ada perspektif lain yang juga sudah berhasil dicapai dari usaha diplomasi ekonominya.

Kita harus mengapresiasi itu guna memberikan motivasi kepada pelaku diplomasi ekonomi untuk terus meningkatkan kinerjanya. Dengan begitu segala tujuan dari diplomasi ekonomi dapat terwujud dengan paripurna.

 

Teks: M. Rifki Fadilah (Mahasiswa S-1 Pendidikan Ekonomi UNJ)

Foto: Sumber Istimewa

Komentar



Berita Terkait