Mimpi Fajar untuk UI

Tuesday, 24 March 20 | 05:38 WIB

Sebagai Lembaga yang memiliki kekuasaan eksekutif di tingkat Universitas Indonesia, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) selalu dipandang sebagai ‘wajah’ lembaga kemahasiswaan, baik di tingkat fakultas maupun universitas. Acap kali, BEM  dianggap sebagai satu-satunya lembaga kemahasiswaan yang dikenal oleh masyarakat awam. Hal ini dikarenakan kontribusi dan ruang lingkup pekerjaannya yang menyentuh seluruh mahasiswa membuat keberadaan BEM menjadi sangat relevan dan strategis.  Sehingga, tidak mengherankan jika seorang nakhoda BEM selalu menjadi salah satu orang paling populer di lingkungan kekuasaannya, baik fakultas maupun universitas.

Popularitas seseorang membuat publik cenderung menilainya dari apa saja nilai ideal dan mimpi yang dibawa. Banyak orang yang lupa bahwasanya siapa pun ia dan apa pun pangkat yang dimilikinya tentu ia ingin dikenal sebagai manusia seutuhnya. Berangkat dari pemahaman tersebut, tim Suara Mahasiswa ingin mengenal lebih dalam sosok nakhoda lembaga eksekutif  Universitas Indonesia tahun 2020, Fajar Adi Nugroho, sebagai manusia dan pembelajar seutuhnya.

Anak pertama dari dua bersaudara ini menghabiskan masa kecil dan remajanya di kota asalnya, Bogor. Ia mengenyam pendidikan dasar hingga menengah di kota hujan ini. Ia bercerita bahwa dirinya selalu mendapatkan pilihan kedua saat mendaftar ke tiap jenjang pendidikan yang ditempuhnya dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Bahkan, UI merupakan percobaan keduanya kala berjuang masuk perguruan tinggi. Ia adalah salah satu orang yang percaya adanya kesempatan kedua. Baginya, kesempatan kedua bukanlah sebuah penurunan. “Gue adalah salah satu orang yang mengamini adanya kesempatan kedua. Gue belajar bahwasanya kesempatan kedua bukanlah sebuah downgrade, melainkan jalan baik lain yang memang sudah digariskan kepada tiap-tiap orang,”ujarnya.

Melanjutkan studi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI), Fajar mengembangkan minat dan kegemarannya dalam bidang organisasi dan pergerakan. Di tahun pertamanya, Fajar memulai kontribusi sebagai staf Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM FH UI 2017. Cita-cita baiknya dalam memperjuangkan kesetaraan dan hak-hak kaum marginal membulatkan tekadnya untuk melanjutkan kontribusi dengan menjadi Wakil Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM FH UI 2018. Di tahun ketiganya, Fajar melanjutkan kontribusi dan upaya menuntaskan cita-citanya dengan menjadi Ketua BEM FH UI 2019.

Paruh akhir tahun 2019 merupakan waktu yang penuh dengan dinamika dalam pergerakan mahasiswa. Kala itu, terjadi gelombang demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh rakyat Indonesia dengan mahasiswa sebagai motor penggeraknya untuk menolak pengesahan rangkaian Rancangan Undang-Undang (RUU) bermasalah, seperti RUU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) serta beberapa RUU bermasalah lainnya yang lebih dikenal dengan 7 tuntutan  #ReformasiDikorupsi.

Sebagai salah satu aktivis yang turut berpartisipasi aktif dalam pembuatan kajian akademik dan penyelenggaraan aksi tersebut, Fajar merasa bertanggung jawab untuk mengawal penuntasan pengawalan isu tersebut. Ditambah lagi dengan fakta bahwasanya RUU bermasalah yang dipersoalkan hanya ditunda saja pengesahannya serta timbulnya korban jiwa dari aksi tersebut tanpa adanya proses hukum yang tuntas mendorong Fajar untuk melanjutkan perjuangan yang ia telah mulai dengan menjadi nakhoda BEM UI 2020.

Selain isu-isu yang telah terdapat dalam tuntutan mahasiswa dalam aksi #ReformasiDikorupsi, Fajar menaruh perhatian khusus terhadap isu kekerasan seksual dan kesehatan mental. Ia memaparkan bahwa UI belum aman dari kasus kekerasan sesksual. Hal ini terbukti dengan adanya dua kasus kekerasan seksual di UI dalam waktu sebulan ke belakang. Sehingga, menurutnya diperlukan regulasi hukum yang mengikat seluruh sivitas akademika UI terkait permasalahan ini.

“Coba bayangkan, 4 tahun kuliah bukan waktu yang berat dan bukan jangka waktu yang sebentar. Beban yang mesti dipikirkan banyak, kan? Mulai dari soal akademik, organisasi, finansial, dan hal-hal pribadi lainnya. Terus ditambah distraction dari kasus kekerasan seksual. Hal ini tentu juga akan memperberat beban yang telah ada sebelumnya. Belum lagi soal kesehatan mental korban kekerasan seksual tersebut,” katanya.

Ditambah lagi dengan isu-isu kesehatan mental. Menurutnya, isu ini menjadi realita yang ada di dalam kehidupan mahasiswa. Ia juga menambahkan, terdapat segmen mahasiswa yang mengalami culture shock terhadap budaya baru yang dijumpainya di kampus sehingga terpinggirkan dari pergaulan yang ada. Berangkat dari keresahan-keresahannya itu, ia ingin memosisikan diri sebagai rekan dekat mahasiswa. Ia sangat membuka pintu dan ruang untuk berdiskusi dengan semua mahasiswa karena ia sadar mungkin terdapat suara-suara yang tidak dapat tersampaikan dan terorganisir. “Gue sangat menerima saran dan masukan semua teman-teman IKM UI. Teman-teman IKM UI dapat menyampaikan saran dan masukannya langsung via chat ke gue. Di sini, gua ingin memosisikan diri sebagai Fajar, rekan dekat IKM UI,” jelasnya.

Terkait pengelolaan dan pengembangan BEM UI secara organisasi, Fajar menekankan bahwa terdapat dua fokus utamanya adalah kanalisasi informasi dan program kerja kolaborasi dengan pegawai di lingkungan UI—yang berasal dari stakeholder UI—melalui kanal BEM UI. Sehingga, jangkauan penyebaran informasi menjadi meluas ke masyarakat umum. Program kolaborasi dengan pegawai di lingkungan UI sendiri sedang dibahas bagaimana mekanisme pelaksanaannya dalam jangka waktu setahun masa kepengurusan. Selain itu, ia menerangkan bahwa di tahun ini BEM UI ingin melakukan kolaborasi yang lebih besar dengan mahasiswa UI sehingga mahasiswa UI dapat mendapatkan exposure yang sama dengan BEM UI.

“Dengan berlandaskan dari tagline BEM UI 2020—yaitu dedikatif, kolaboratif, dan adaptif—BEM UI 2020 diproyeksikan akan mewujudkan fungsionaris yang berdedikasi tinggi terhadap program-program yang dimiliki BEM, sehingga dapat berkolaborasi dengan IKM UI terkait inovasi dan gerakan yang dibawa, serta dapat menyesuaikan diri dengan dinamika-dinamika yang terjadi di lingkungan UI dan Indonesia,” ucapnya.

Terakhir, pengagum presiden ketiga Republik Indonesia, BJ Habibie, ini berpesan kepada seluruh fungsionaris BEM UI 2020 agar dapat mengimplementasikan nilai-nilai yang dibawa BEM UI 2020 dan juga dapat memaknai kata dekat sebagai sifat yang dimiliki seluruh biro dan departemen yang ada di BEM UI 2020. Untuk IKM UI secara umum, Fajar berpesan untuk memanfaatkan privilese yang dimilikinya sebagai mahasiswa semaksimal mungkin. “Gue berharap IKM UI dapat memanfaatkan privilege yang dimilikinya dengan jalannya masing-masing seperti mengikuti lomba, mengadakan penelitian, dan ikut serta dalam organisasi. Selain itu, gue berharap BEM UI dan mahasiswa dapat melakukan komunikasi dua arah dimana teman-teman IKM UI dapat menyampaikan aspirasinya melalui Biro Hubungan Masyarakat BEM UI ataupun langsung bincang bareng gue. Tahun ini adalah tahun IKM UI untuk berkolaborasi dan bergerak bersama,” pangkasnya.

 

Teks: Satrio Alif
Kontributor: Syarifa AS
Foto: Giovanni Alvita
Editor: Nada Salsabila

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas

Komentar



Berita Terkait