Moderasi di Tengah Polarisasi

Wednesday, 27 February 19 | 09:00 WIB

“Islam itu sempurna, datang dari Allah, Tuhan yang Maha Segala, zat yang sempurna, namun saat ajaran sempurna ini turun ke bumi, orang beda persepsi,” kurang lebih seperti itulah ucapan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin di awal kuliah umum di Gedung I FIB (Fakultas Ilmu pengetahuan Budaya) UI (Universitas Indonesia). Acara ini diusung dengan judul “Islam dan Kebudayaan di Indonesia”. Selanjutnya, dia memaparkan lebih lanjut mengapa perbedaan/keberagaman dapat terjadi.

“Karena memang ini adalah sunnatullah, kita ini berbeda, Allah yang buat,” tegasnya(20/2). Selanjutnya, dia kembali mengutip ayat Alquran yakni sebagian dari surat Al-Maidah ayat 48. Ayat ini menjadi dalil bahwa memang Tuhan yang menciptakan keberagaman manusia ini. Di ayat yang lain katanya, ada sebuah tafsir yang menarik yang pernah diterangkan gurunya dahulu di pondok, yaitu pada surat Al-Hujurat ayat 13.

Dalam ayat tersebut Alquran menggunakan kata “ خلق“ dan “ جعل “. Kedua kata ini, ditujukan untuk dua subjek yang berbeda, dengan maksud yang berbeda pula, walau secara harfiah, artinya memiliki kesamaan yaitu “menjadikan” atau “menciptakan”. Perbedaannya ialah terletak pada kekuasaan atau otoritas yang menciptakan hal tersebut. Kata “خلق” digunakan untuk menunjukkan proses penciptaan oleh Sang Pencipta sendiri, murni tanpa campur tangan siapapun, sedangkan kata “جعل” ialah proses penciptaan yang di dalamnya terdapat campur tangan makhluk. Maka dari itu, jelaslah perbedaan di sini bahwa Allah secara penuh otoritasnya menciptakan manusia berjenis laki-laki dan perempuan. Namun, perbedaan, keberagaman, berbangsa dan bersuku, semuanya adalah hasil dari campur tangan manusia karena manusia memiliki akal, dan akal itulah yang akhirnya melahirkan persepsi dan perspektif atas teks Alquran yang beragam.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa perspektif itu adalah wujud keterbatasan manusia itu sendiri. Maka dari tafsir di atas, terdapat dua hal yang perlu kita soroti yaitu teks dan konteks. Saat agama apapun turun ke muka bumi, ia ditafsirkan sesuai perspektif bahkan konteks dari penafsir keagamaan tersebut. Alhukmu yadhurru ma’al illat, hukum itu hadir sesuai dengan masalah yang ada saat itu. Dia kemudian memberikan contoh mengenai Qoulul jadid (perkataan baru) dan Qoulul qadim (perkataan terdahulu) dari Imam Syafi’i, salah satu imam mazhab dalam dunia Islam. Saat Imam Syafi’i tinggal di Irak, dia memfatwakan bahwa bersentuhan dengan lawan jenis selama tidak sengaja, tidak membatalkan wudu dan ini adalah perkataan lama Imam Syafi’i. Namun saat dia tinggal di Mesir, dia memfatwakan bahwa bersentuhan dengan lawan jenis apapun alasannya adalah membatalkan wudu dan ini adalah perkataan baru Imam Syafi’i.

Setelah ditelusuri dan diteliti oleh ulama, maka ditemukan bahwa hal ini disebabkan perbedaan konteks Imam Syafi’i memahami kondisi masyarakat yang membutuhkan fatwa tersebut. Di Irak, dia tidak mengatakan bahwa bersentuhan dengan lawan jenis tidak selalu membatalkan wudu dikarenakan ketersediaan air di Irak sangat langka sehingga fatwanya pun dipilih sesuai untuk keadaan masyarakat itu. Sebaliknya, ketika dia berada di Mesir, persediaan air justru melimpah, sehingga tidak menyulitkan mereka dengan fatwa ini.

Contoh di atas merupakan contoh nyata dari wujud keterbatasan manusia menafsirkan dan menyesuaikan teks (Alquran) dengan konteks (persepsi dan perspektif). Konteks yang tidak sama, melahirkan pandangan yang berbeda. Dua perspektif yang patut kita dalami ialah perspektif dalam (esoteris)  dan luar (eksoteris). Bila kita melihat Islam sebagai sebuah lembaga, maka akan kita temui banyak keberagaman, karena sebagai lembaga kita hanya dapat melihat Islam secara lahir, apa yang nampak di permukaan. Sedangkan bila kita melihat Islam secara substantif pada nilai-nilai pokok ajaran Islam, maka Islam itu adalah satu. Pada sisi dalam (substantif) inilah konsentrasi kita harusnya dibentuk.

Kontekstualisasi atau pemaknaan ajaran agama inilah yang melahirkan perbedaan-perbedaan pandangan. Ada tiga pendekatan nilai agama. Pertama ialah agama turun dan memaksa budaya menyesuaikan dengannya; kedua, agama tunduk kepada budaya, dan pendekatan ketiga yakni terjadi akulturasi di antara kedua unsur ini. Indonesia, dalam konteks ini termasuk dalam pendekatan ketiga, dengan terjadinya akulturasi. Almuhafazhoh ‘ala qodiimish sholih, wal akhdzu ‘alal jadiidil aslam atau yang artinya kurang lebih “Menjaga tradisi terdahulu yang baik, dan mencoba menghadirkan pembaharuan yang baik” adalah jalan yang dipilih oleh Islam.

Kontekstualisasi yang berbeda-beda dengan medium budaya inilah, yang menurut dia menghadirkan beragam cara pengaktualisasian Islam di berbagai belahan dunia. Oleh karena itu, tidak dapat dikatakan bahwa pelarangan wanita untuk mengendara di Saudi adalah sebuah langkah pengekangan terhadap wanita, karena begitulah mereka memaknai teks terhadap konteks masyarakat mereka. Nilai substantifnya adalah menjaga dan menghormati wanita. Berbeda halnya penerapan di Indonesia. Wanita bebas mengendarai mobil atau apapun milik mereka yang mereka kendarai, bahkan dapat menjadi seorang hakim pengadilan tinggi agama. Sekali lagi nilai substantifnya sama, yaitu menjaga dan menghormati wanita.

Oleh karenanya, kita sebagai umat beragama, khususnya umat Islam jangan sampai terjebak pada pemahaman teks (Alquran) dan mengabaikan konteks (sudut pandang) sehingga dalam beragama kita justru menjadi seorang yang ekstrim. Pun sebaliknya, bila kita terlalu terpaku pada konteks (sudut pandang), maka kita akan melenceng dari teks (Alquran). Dia pun menambahkan, “Konteks itu wadah untuk kita memahami teks”. Maka demikian, penyesuaian teks dan konteks inilah yang pada akhirnya akan mampu menghadirkan moderasi beragama, apapun agamanya di masyarakat Indonesia.

“Hidupkan rasa!” pesan-pesan terakhirnya di ruangan tersebut. Karena rasa dalam jiwa manusia itulah yang akan menghadirkan penghayatan beragama yang sesungguhnya dengan medium budaya.

Penulis: Ahmad Thoriq
Foto: Istimewa
Editor: Grace Elizabeth

Pers Suara Mahasiswa UI 2019
Independen, lugas, dan berkualitas!

Komentar



Berita Terkait

Perubahan KAMABA 2019
Lit The Nation Fest Bangkitkan Nasionalisme Dengan Musik
Festival Bahasa Isyarat
Eksplorasi FIB UI: Kedua Paslon BEM UI Beri Pandangan Isu Kekerasan Seksual