Orang Dewasa Lebih Banyak Laporkan False Memory daripada Anak-Anak

Friday, 18 November 16 | 05:59 WIB

Hari ini (18/11), Fakultas Psikologi UI menyelenggarakan Universitas Indonesia Psychology Symposium for Undergraduate Research (UIPSUR) di Auditorium Fakultas Psikologi UI. Acara ini mengusung tema Promoting Psychological Contribution in a Globalized Community.

Pembicara kali ini adalah Dr. Henry Otgaar, Asisten Profesor Faculty of Psychology and Neuroscience, Maastricht University the Netherlands. Dalam presentasinya, Otgaar mengangkat topik Lying and Remembering in the Forensic.

Selama presentasi, Otgaar memaparkan hasil penelitiannya mengenai false memory pada anak-anak dan dewasa. False memory sendiri adalah sebuah ingatan yang tercipta dari penciptaan kenangan, persepsi, atau keyakinan palsu tentang diri atau lingkungan.

Penciptaan ingatan tersebut menimbulkan kebingungan sehingga seseorang tidak mampu lagi membedakan apakah ingatan itu benar atau salah, benar-benar terjadi atau tidak pernah terjadi.

Singkatnya, false memory merupakan suatu keadaan ketika seseorang menyampaiakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada atau tidak terjadi.

Dalam penjelasannya, Otgaar menyangkal mitos yang menyatakan bahwa anak-anak merupakan poor witnesses yang lebih sering mengalami false memory, sehingga seringkali dianggap menyatakan sesuatu yang tidak benar-benar terjadi.

Padahal, berdasarkan penelitiannya, ia mengungkapkan bahwa orang dewasa justru lebih banyak melakukan false memory daripada anak-anak.

Hal itu karena menurutnya, orang dewasa memiliki pengetahuan yang luas sehingga dapat melakukan asosiasi terhadap hal yang dilihatnya.

Untuk membuktikan hal itu, Otgaar melakukan eksperimen kecil pada audiens dengan menampilkan gambar sebuah pantai. Setelah itu, ia menampilkan empat pointer bertuliskan istana pasir, bola pantai, handuk, dan sandal jepit.

Ia meminta audiens untuk mengangkat tangan ketika ia menyebutkan benda tersebut. Hasilnya, audiens melaporkan bahwa mereka melihat istana pasir dan bola pantai.

Padahal, menurut Otgaar, sebenarnya hanya istana pasir yang benar-benar ada di dalam gambar. “Well, actually there is none except sand palace,” terangnya.

Teks dan foto: Devita Mayasari

Editor: Frista Nanda Pratiwi

Komentar



Berita Terkait