Pagelaran Budaya Sulsel, Sapa Makara Art Center

Friday, 22 March 19 | 06:16 WIB

Pagelaran budaya Sulawesi Selatan dihadirkan secara perdana oleh Ikatan Mahasiswa Sulawesi Selatan domisili Depok (Ikami Sulsel Depok) pada 17 Maret 2019 di Makara Art Center, Universitas Indonesia. Sejak awal pagelaran, penonton sudah disuguhkan dengan pertunjukan Tari Padduppa Bosara yang menjadi simbolis penyambutan dan rasa hormat kepada para hadirin yang tidak hanya terdiri dari paguyuban-paguyuban yang ada di Universitas Indonesia (UI) dan Kepala Makara Art Center serta perwakilan Rektor UI, melainkan juga para pejabat yang berasal dari Sulawesi Selatan, seperti Wakil-Wakil Bupati dan Perwakilan Gubernur Sulawesi Selatan.  Setelah Padduppa Bosara, para penonton kembali disuguhkan dengan tarian 4 etnis yang menggambarkan kearifan lokal 4 etnis besar, yaitu Etnis Sulawesi Selatan dan Etnis Bugis, Etnis  Makassar, Etnis Toraja yang  berasal dari Etnis Sulawesi Barat.

Puncak kemeriahan acara ada pada pementasan drama yang berdurasi kurang lebih 2 jam. Drama yang berlatarkan sejarah ini menceritakan keadaan wilayah Gowa yang semula damai, sejahtera, dan makmur di bawah kepemimpinan Karaeng Bontomangape atau yang dikenal sebagai Sultan Hassanudin. Namun keadaan di Gowa berangsur-angsur berubah semenjak kedatangan VOC yang dengan sewenang-wenang melakukan monopoli perdagangan agar dapat menguasai daerah di Somba Opu. Sultan Hasanuddin pun terdesak dibuatnya hingga VOC membuat tanda kemenangan dengan lahirnya Perjanjian Bongaya. Drama yang kental akan nuansa sejarah ini mampu membuat penonton berdecak kagum di setiap babak pementasan, pasalnya laga para pemain semakin hidup lantaran terdapat sekelompok pemain musik yang  permainan musiknya mampu menunjang pergantian babak dan adegan-adegan musikal yang ada. Tidak hanya itu, penggunaan properti yang serba asli dan terang-redupnya lighting mampu memberikan efek yang dramatis.

“Tujuan adanya pagelaran seni dan budaya (ini sebenarnya –red) lebih kepada menyadarkan mahasiswa (UI –red) kalau ternyata kita itu (ketika –red) merantau, jangan (sampai –red) lupa asal daerah. Soalnya kasusnya itu kalau orang-orang daerah yang ke Jakarta, (banyak yang –red) mengalami culture shock dengan kondisi disini (Jakarta –red) secara budaya,” ujar Ilham Arif Fauzi selaku Project Officer Pagelaran Budaya Sulawesi Selatan.

Pagelaran budaya yang terkesan matang ini bukan tanpa sebab, segala konsep telah dipikirkan sejak 2 tahun sebelumnya begitupun dengan latihan pagelaran ini. Terselenggaranya pagelaran ini tidak hanya melibatkan Ikami Sulsel Depok semata, melainkan juga hasil dari kolaborasi dengan beberapa mahasiswa Universitas Gunadharma. Musikalisasi puisi dan tarian pun menjadi penutup pagelaran budaya yang kembali dinantikan hadirnya. Salam Budaya, ewako ewako ewako!

Teks: Ersa Pasca Dwi N.
Foto: Syarifah A.S.
Editor: Grace Elizabeth

Pers Suara Mahasiswa UI 2019
Independen, lugas, dan berkualitas!

Komentar



Berita Terkait

IMR CUP, Kompetisi Bagi Para Perantau
Paradigma Kekerasan Seksual di Area Kampus
UI Raih Peringkat 80 di Dunia, Direktur Kemahasiswaan Akui Bangga
Aksi Peringatan 2 Tahun Kasus Novel Baswedan